Apakah Mereka yang Resign Kerja Adalah Pecundang?

Oleh Roshan Thiran|22-03-2021 | 3 Min Read
Source: Sumber: Karolina Grabowska dari Pexels.com
Apakah resign kerja selalu menjadi keputusan yang tepat?
“Para pemenang tidak pernah berhenti dan orang yang menyerah tidak pernah menang.” - Vince Lombardi


Saya pribadi berpikir bahwa dia benar-benar SALAH!

Pemenang berhenti setiap saat. Nelson Mandela berjuang dan bertahan di sel penjara selama 27 tahun. Dia menjadi Presiden Afrika Selatan dan pensiun setelah masa jabatannya habis. Banyak pemimpin bisnis hebat yang juga berhenti untuk refleksi diri. Mereka mengambil waktu sejenak lalu fokus kembali pada bidang yang sebelumnya mereka geluti. Pemimpin hebat pun ‘berhenti’, karena waktu dan alasan yang tepat.

Beberapa tahun yang lalu, saya berdiskusi panjang dengan seseorang yang frustasi dengan pekerjaannya. Gaji rendah, jam kerja yang begitu panjang, dan bos mengerikan yang membuat mentalnya hancur. Dia benar-benar ingin berhenti dan datang kepada saya untuk meminta nasihat. 

Beberapa dari kita mungkin juga pernah berada pada titik di mana Anda berpikir "mungkin saya harus resign kerja dan berganti arah". Tetapi, apakah Anda yakin resign adalah pilihan terbaik? Terkadang, mungkin lebih baik untuk tetap berjuang. Saya tetap di General Electric selama lebih dari 12 tahun dan tumbuh secara signifikan setiap tahunnya. 

Jadi, bagaimana kita tahu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk resign kerja?

Ketika Anda bertanya, "Haruskah saya berhenti dari pekerjaan saya?"

Pertanyaan pertama saya kepada Anda adalah, "Sudahkah Anda bekerja setidaknya dua tahun?"

Baca juga: Mengapa Kegagalan Bisa Membuat Anda Lebih Sukses?

Mengapa harus dua tahun?

Setidaknya Anda butuh enam bulan untuk memahami peran Anda, dari prosesnya hingga mampu memahami divisi atau unit bisnis Anda. Anda membutuhkan setidaknya enam bulan untuk mulai mengidentifikasi area di mana Anda dapat meningkatkan dan mendorong perubahan.
Butuh enam bulan sebelum Anda mulai mengeksekusi, membuat perubahan, dan menghasilkan dampak. Anda kemudian membutuhkan enam bulan lagi untuk melihat hasil eksekusi Anda dan untuk melihat apakah perubahan yang Anda implementasikan berhasil dan untuk memperbaikinya jika perlu.

Menurut penelitian oleh Anders Ericsson, Anda memahami pekerjaan Anda dan menjadi sangat kompeten setelah 10.000 jam. Jika Anda bekerja 10 jam sehari, maka 10.000 jam kerja akan tercapai dalam kurun waktu tiga tahun. Jika Anda setidaknya telah bekerja selama itu, maka adil untuk bertanya "Haruskah saya resign dari pekerjaan saya?" atau mempertimbangkan untuk pindah ke peran baru dalam organisasi Anda saat ini.

Namun, ada beberapa pengecualian terhadap aturan tersebut. Jika Anda merasa terpinggirkan dan merasa berat hati dalam melakukan pekerjaan itu, jangan buang waktu! Carilah pekerjaan yang lain. Jangan sampai Anda menghabiskan waktu dengan pekerjaan yang hanya membuat Anda sedih dan kehabisan tenaga. Idealnya, tekuni dulu pekerjaan Anda selama dua tahun kecuali Anda sudah yakin pekerjaan ini bukan untuk Anda.

Baca juga: 4 Tahap Membangun Mental Kuat dan Tangguh

Bertahan juga keputusan yang baik

Sumber: Edmond Dante dari Pexels.com

Ketika Anda merasa resah dan tidak puas, mungkin terbesit dalam pikiran Anda bahwa itu tanda untuk resign kerja. Namun, jangan buat keputusan atas secercah ketidakpuasan. Sama seperti Anda yang tidak langsung putus setelah bertengkar dengan pasangan Anda. 

Jika Anda berencana untuk berhenti karena masalah yang Anda hadapi hari ini, ingatlah bahwa masalah ini bisa saja muncul kembali di pekerjaan baru nanti. Setidaknya, luangkan waktu untuk mengevaluasi diri dan apa yang bisa diperbaiki pada peran Anda saat ini.

Pergi tanpa menyelesaikan konflik yang ada bisa saja menciptakan masalah yang sama di peran Anda berikutnya. Jadi, selesaikan konflik tersebut sebelum Anda pergi. Ketika saya bekerja di NBC, sebuah perusahaan TV di New York City, saya sangat frustasi dengan bos saya.
Saya pikir dia membenci saya karena dia membuat saya mengerjakan hal-hal ‘sepele’.

Saya mulai mengirimkan resume saya ke perusahaan media lainnya, bahkan sampai ikut wawancara. Tetapi, saya memiliki seorang mentor hebat di NBC yang menyarankan saya untuk berdiskusi dengan bos saya. Saya menginisiasi dialog terbuka dan non-konfrontatif dengannya. Banyak hal membaik karena ternyata dia memiliki beberapa asumsi yang salah tentang saya.

Saya tidak hanya mengatasi masalah yang telah berjalan selama beberapa bulan, tetapi performa kerja saya semakin membaik hingga saya memenangkan sejumlah penghargaan. Saya akhirnya tetap bekerja di NBC dan keputusan tersebut membuat karier saya cemerlang.

Bertahan dalam peran Anda mungkin memiliki manfaat praktis juga. Misalnya, senioritas memiliki keunggulan: lebih sulit bagi pemberi kerja untuk melepaskan seseorang yang terlatih dengan wawasan pekerjaan yang mendalam. Namun, bukan berarti Anda harus tetap bertahan dengan segala cara. Saya percaya bahwa perubahan itu baik, terutama jika memungkinkan Anda untuk tumbuh dan berada di luar zona nyaman Anda. 

Intinya, berhentilah karena alasan yang benar. Ingat, kebanyakan orang yang berhasil melalui masa terpuruknya adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu caranya untuk bisa keluar.

Baca juga: Evaluasi Diri Sebagai Pemimpin dengan 5 Pertanyaan Berikut!

Bagaimana Anda tahu persis kapan harus resign kerja?

Sumber: Nataliya Vaitkevich dari Pexels.com

Berhenti karena Anda dalam keadaan sedih adalah hal yang tidak boleh terjadi. Jika Anda tidak bahagia dengan aspek-aspek lain pada kehidupan Anda, mudah untuk menyalahkannya dalam pekerjaan. Jangan berharap pekerjaan membuat Anda bahagia jika aspek-aspek lain dari hidup Anda hanya mendatangkan malapetaka. 

Namun, ada beberapa sebab yang bisa membantu Anda menentukan jika resign kerja adalah keputusan yang tepat. Berikut di antaranya:

1. Organisasi Anda beroperasi tanpa tujuan yang jelas


2. Hubungan Anda dengan atasan bermasalah 

Anda telah mencoba berbagai upaya untuk mengatasi konflik tersebut, tetapi masih tidak berhasil. Daripada hal tersebut malah mengganggu performa kerja dan mental Anda, tinggalkan tempat tersebut dengan baik.

3. Kehidupan Anda sudah berubah

Mungkin Anda sedang hamil atau baru saja melahirkan, namun budaya kerja di kantor Anda tidak sesuai dengan gaya hidup baru Anda. Atau mungkin aspirasi hidup Anda yang telah berubah.

4. Prinsip Anda berlawanan dengan perusahaan

Apapun alasannya, jangan bertahan dalam sebuah organisasi yang mengorbankan prinsip dan integritas Anda.
Anda bertindak yang tidak sepatutnya di tempat kerja

Misalkan reputasi Anda buruk karena suatu hal. Reputasi, apabila sudah melekat dengan diri, sangat sulit untuk dibersihkan. Ada baiknya Anda mencari kesempatan lain.

5. Tekanan mental yang sangat tinggi sehingga mempengaruhi kesehatan dan hubungan sosial Anda

Anda perlu mengetahui apakah tuntutan kerja Anda sudah sesuai atau justru berlebihan.

6. Anda merasa dipinggirkan atasan Anda karena alasan yang tidak jelas

Atasan Anda tidak mempedulikan kehadiran Anda, atau bahkan tidak melibatkan Anda dalam tim. Jika memungkinkan, cobalah rundingkan masalah ini dengan atasan Anda. Pastikan tidak ada kesalahpahaman antara kedua pihak. Jika hal tersebut tidak berhasil, maka mungkin ini saatnya Anda berhenti.

7. Anda sudah tidak menemukan kesenangan dalam bekerja

Cari sebab utama yang menyebabkan Anda merasa berat hati untuk bekerja. Apakah Anda bosan? Merasa pekerjaan kurang menantang? Atau apakah Anda telah berubah? Jangan tinggalkan pekerjaan tersebut hanya karena bosan. Cobalah ciptakan lagi peranan Anda, karena resign kerja tidak selalu menjadi solusi yang tepat. Tetapi, silakan berhenti jika Anda sudah tidak menemukan kesenangan lagi dalam bekerja.

Baca juga: Mengambil Keputusan Berdasarkan Naluri, Tidak Ada Salahnya!

Penutup

Pada hakikatnya, jangan jadikan resign kerja sebagai suatu kebiasaan dalam perjalanan karier Anda. Supaya lebih pasti, cobalah konsultasi dengan seorang mentor atau pihak HR (human resources) yang bersangkutan. Alternatif lainnya adalah pindah ke posisi lain di organisasi Anda. 

Jika Anda bekerja untuk bos yang memiliki gaya kepemimpinan seorang diktator atau terkuras tenaga karena lingkungan kerja yang negatif, sudah sepatutnya Anda resign kerja. Bisnis bukanlah demokrasi dan Anda tidak dapat mengubah bos Anda. 

Kunci karier yang sukses adalah terus belajar dan berkembang. Jadi, setiap kali Anda membuat keputusan untuk berhenti, pastikan peran baru itu akan memberi Anda peluang yang sama untuk belajar. 

Sampaikan alasan Anda untuk resign secara profesional. Pastikan untuk berterima kasih kepada atasan Anda atas peluang yang telah Anda terima dan bantulah proses peralihan tanggung jawab Anda. Good luck!

Tonton juga:

Share artikel ini

Komunitas

Tags: Konsultasi

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.