Tetap Objektif Walaupun Harus Evaluasi Diri Sendiri

Oleh Roshan Thiran|16-04-2021 | 2 Min Read
Sudahkah Anda evaluasi diri sendiri secara objektif?

Minggu lalu, saya menyadari betapa buruknya saya dalam melakukan evaluasi diri. Ketika saya mulai bertanya kepada orang-orang di sekitar saya, saya pun menyadari bahwa hampir setiap orang mengalami hal yang serupa. Sebagai contoh, sebanyak 95% orangtua menganggap anak-anak mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata. Lebih dari 98% dari kita pun percaya bahwa kita pandai menjadi seorang pemimpin.

Banyak orang mengira mereka berisiko rendah terkena penyakit jantung atau penyakit serius, tanpa memedulikan pola olahraga. Di sisi lain, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan mahasiswa lebih baik dalam memprediksi hubungan cinta teman sekamarnya dibandingkan hubungan mereka sendiri. Contoh-contoh ini dengan sangat jelas menggambarkan bahwa kebanyakan orang sering tidak mampu evaluasi diri sendiri secara objektif.

Padahal, penelitian lain menunjukkan bahwa “kebanyakan orang mengatakan bahwa mereka memiliki kesadaran diri yang lebih akurat dibandingkan teman sebayanya”, di mana hal ini justru menunjukkan bagaimana buruknya kita dalam mengevaluasi diri kita sendiri.  

Baca juga: Evaluasi Diri Sebagai Pemimpin dengan 5 Pertanyaan Berikut!

Beberapa tahun yang lalu, sepasang saudara bernama Chip Heath dan Dan Heath menulis sebuah buku fenomenal berjudul Switch, di mana kedua bersaudara itu menjelaskan bagaimana banyak orang menderita “ilusi positif”. Mereka berdua juga menyimpulkan bahwa kebanyakan orang adalah seorang penilai diri yang sangat buruk. Mereka percaya bahwa hal ini menyebabkan seseorang akan sulit sekali untuk berubah, karena kita terlalu berpacu pada kekuatan dan kelemahan kita saat ini dan berpikir bahwa kita tidak perlu melakukan perubahan apa-apa.  

Dalam bukunya, Heath bersaudara ini memperkuat argumen mereka dengan melakukan eksperimen yang dilakukan oleh dua psikolog bernama Peter Borkenau dan Anette Liebler. Eksperimen itu disebut sebagai studi “Peramal Cuaca Palsu”. Para cendekiawan tersebut membawa seorang peramal cuaca palsu ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang, dan peramal tersebut membacakan laporan perkiraan cuaca berdurasi 90 detik. Orang-orang di dalam ruangan tersebut kemudian diminta untuk menebak IQ peramal tersebut. Sebaliknya, mereka berdua juga meminta peramal cuaca palsu tersebut untuk menebak IQ-nya sendiri.

Apa yang mereka temukan?

Hal yang menakjubkan adalah orang-orang yang mengamati peramal palsu di ruangan itu memberikan prediksi angka yang jauh lebih akurat dibandingkan dirinya sendiri, meskipun mereka sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai orang tersebut! Eksperimen ini kemudian dilakukan kembali dalam berbagai bentuk dan format. Setiap kali percobaan ini dilakukan, orang-orang yang tidak tahu menahu soal latar belakang orang yang sedang diobservasi itu membuat penilaian yang lebih baik dibanding orang itu sendiri. 

Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Bukankah seharusnya kita dapat mengevaluasi diri sendiri dengan lebih baik dibandingkan orang yang sama sekali tidak mengenal kita? Tetapi sekali lagi, nampaknya kita sering kali tidak akurat menilai diri sendiri. Mengapa hal ini dapat terjadi? Kenyataannya setiap orang tidak suka mendengar hal buruk tentang dirinya. Sulit bagi kita untuk mengakui bahwa kita tidak sebaik orang lain, atau bahkan lebih buruk dari mereka. 

Tanpa kesadaran akan banyaknya hal dalam diri kita yang harus ditingkatkan, kita tidak akan tumbuh. Tanyakan kepada setiap pemimpin, dan mereka akan langsung menyetujui bahwa kesadaran akan diri sendiri adalah hal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan. Semakin dalam kita menyadari diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kita akan menjadi pemimpin yang semakin hebat. Meski demikian, banyak dari kita yang tidak meluangkan waktu untuk melakukan refleksi diri. 

Baca juga: Pemimpin yang Ideal Harus Banyak Bertanya

CEO yang Mengidap Penyakit LOSA (Lack of Self- Awareness)

Sumber: Mikhail Nilov dari Pexels.com

Beberapa tahun yang lalu, saya diminta oleh seorang CEO untuk melatih tim intinya. Ketika saya sedang duduk bersamanya, ia terlihat jengkel saat mendengar laporan tentang kualitas para pemimpin di organisasinya. Selain itu, ia mengucapkan kata-kata kasar seperti “bodoh” dan “tidak berguna” untuk menekankan bagaimana buruknya kinerja tim tersebut. Saya mendengarkan dan kemudian berkata padanya bahwa saya akan datang kembali setelah ia menemui timnya.

Saya cukup terkejut begitu mengetahui perbedaan pandangan antara CEO tersebut dan timnya. Karena penasaran, saya berkata padanya saya akan meluangkan waktu untuk memastikan apa yang sebenarnya menjadi masalah. Sang CEO terus bersikeras bahwa masalahnya terletak pada kinerja tim intinya yang buruk. Menariknya, ia selalu menggambarkan dirinya sebagai sosok yang paling benar dan masuk akal. Ia menunjukkan bahwa ia selalu berusaha keras untuk mencapai keberhasilan organisasinya dan menegaskan perannya sebagai ujung tombak dari kemajuan organisasi tersebut. 

Ketika saya mencoba membimbing CEO ini, ia semakin menegaskan bahwa dirinya yang benar dan yang rekan kerjanya salah. Situasi ini berlangsung selama beberapa minggu, hingga suatu saat saya akhirnya berkata padanya bahwa ia mungkin mengidap gejala Lack of Self-Awareness (LOSA). CEO tersebut kemudian menatap saya lekat-lekat sambil bertanya, gejala apakah itu dan apakah ada obatnya?

Saya menjawabnya:

“Penyakit LOSA adalah mereka yang tidak mampu mengevaluasi diri dengan baik karena memiliki tingkat kesadaran diri yang rendah. Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan meluangkan waktu untuk merenungkan kembali kehidupannya dan bertanggung jawab secara penuh atas apa yang telah ia perbuat.”


Akhirnya, ia memberhentikan saya sebagai coach kepemimpinan di organisasi tersebut dan saya tidak pernah berjumpa dengannya lagi. Begitu juga dengan dirinya yang berhenti menjabat sebagai CEO.

Evaluasi Diri di Dunia Kerja


Sumber: Mentatdgt dari Pexels.com

Dalam dunia kerja, kelemahan untuk mengevaluasi diri sendiri tidak hanya membatasi para CEO atau pemimpin senior. Terdapat pula pegawai yang merasa tahu segalanya hingga ia sulit menerima masukan yang berguna untuk pertumbuhannya. 

Maka dari itu, alangkah baiknya bila kita bisa memprediksi calon pegawai yang memiliki kecenderungan seperti itu pada saat proses perekrutan. 

Di sisi lain, pengacara ternama asal Amerika Serikat bernama Andrea Kramer meyakini bahwa kebanyakan wanita tidak mampu mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka sering kali meremehkan kemampuannya dan merasa tidak layak menerima penghargaan yang diberikan kepadanya. 

Andrea menegaskan bahwa setiap wanita harus bersikap rasional dan tidak berlebihan dalam menilai dirinya. Hal ini disebabkan karena banyak wanita yang merasa minder terhadap pria meskipun mereka memiliki keahlian dan pengetahuan di bidang yang sama.

Cara Melakukan Evaluasi Diri


Sumber: Pixabay

Pada dasarnya, cara pandang kita terhadap diri sendiri berbeda dengan kebiasaan dan kinerja kita sebenarnya. Kita seringkali melebih-lebihkan (atau malah merendahkan) diri kita sendiri. Jadi, bagaimana caranya agar kita dapat mengevaluasi diri kita dengan lebih baik lagi? 

Terima sebanyak-banyaknya masukan
Sebelum kita melakukan penilaian terhadap diri sendiri, kumpulkan sebanyak-banyaknya bukti dari berbagai sumber tentang diri kita. Lakukanlah 360-degree feedback atau metode evaluasi yang menggabungkan masukan dari rekan kerja, manajer, keluarga, pasangan, dan teman-teman kita.

Pastikan Anda menerima masukan yang jujur tentang kekuatan dan kelemahan Anda.

Berpikir terbuka 
Cermati masukan yang Anda terima tanpa berusaha membenarkan diri sendiri.

Tariklah kesimpulan
Setelah menganalisa, Anda dapat menguraikan kelebihan dan kekurangan yang perlu Anda tingkatkan entah itu dalam bidang pekerjaan, hubungan, atau keluarga. Pastikan Anda dapat merasakan Apa yang orang lain lihat tentang Anda.

Buatlah sebuah action plan
Temukan solusi yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki diri. 

Setelah Anda mengevaluasi diri, maka Anda dapat menemukan alasan dan solusi terhadap hal-hal yang membuat diri Anda emosi, berbohong, angkuh, dan lain sebagainya. Pastikan Anda dapat mencermati diri sendiri secara menyeluruh karena hal-hal tersebut biasanya timbul tanpa kita sadari.

Kesimpulan

Hanya dengan menyadari bahwa kita itu tidak sempurna, barulah kita dapat benar-benar berkembang sebagai individu. Memimpin diri sendiri maupun orang lain hanya dapat kita lakukan apabila kita telah terlebih dahulu memiliki kesadaran diri yang mendalam. Sebab, tidak ada yang bisa kita perbaiki tanpa kita benar-benar mengetahui apa yang semestinya diperbaiki.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Konsultasi

References:


Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.