'Saya Tidak Tahu' Bisa Membantu Memecahkan Masalah Anda

Oleh Roshan Thiran|27-11-2020 | 4 Min Read
Source: Steve Johnson dari Pexels.com
“Jika saya memiliki satu jam untuk memecahkan masalah, saya menghabiskan 55 menit untuk memikirkan masalahnya dan 5 menit untuk memikirkan solusinya.” – Albert Einstein


Bayangkan diri Anda sedang menghadiri suatu rapat di pagi hari. Skenario seperti ini biasanya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, mereka yang hanya diam karena tidak berani menyampaikan pendapatnya. Mungkin saja mereka memiliki beberapa ide, tetapi mereka malu jika apa yang ada dalam pikiran mereka terdengar melenceng.

Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang bersemangat membanjiri diskusi dengan berbagai macam ide. Bagi mereka, jika rencana A tidak bisa dilaksanakan, masih ada 25 huruf lain dalam alfabet. Jika huruf-huruf alfabet itu habis, huruf lain pun masih tersedia!

Ketika masalah diajukan, kita cenderung bergantung pada solusi yang sudah ada. Seakan-akan kita menganggap pekerjaan selesai begitu target sudah tercapai. Padahal, momen tersebut adalah titik di mana kita memulai langkah baru.

Dunia modern yang sangat kompetitif ini menuntut jalan keluar instan untuk setiap masalah. Tidak seperti zaman Yunani kuno, di mana para filsuf meluangkan waktu untuk merenungkan segala pertanyaan yang ada di benak pikiran mereka.

Baca juga: Pemimpin yang Ideal Harus Banyak Bertanya

Kutukan perbaikan cepat

“Kita selalu berharap untuk menemukan solusi cepat untuk semua masalah. Padahal, tidak semua dapat diselesaikan dengan cara seperti ini.” – Atul Gawande


Setiap kali masalah muncul, kita sering berpikir seolah-olah kita sudah memiliki solusi terbaik. Jarang dari kita menghadapi masalah dengan pikiran seorang pemula, bagaikan seorang anak yang memiliki keingintahuan tinggi.

Memang benar, tidak semua masalah membutuhkan pendekatan semacam itu. Terkadang solusi terlihat dengan jelas; namun, ada banyak teka-teki yang membuat kita terus menebak. Jika tidak, maka kita tidak perlu lagi kuliah, membaca buku, dan blog yang berusaha membantu kita untuk dapat mengeksplorasi tantangan yang kompleks.

Baca juga: Evaluasi Diri Sebagai Pemimpin dengan 5 Pertanyaan Berikut!

Kata ajaib 

Dalam mengatasi masalah yang sulit, saya percaya ada tiga kata ajaib yang dapat kita gunakan untuk menemukan solusi terbaik. 

Matematikawan, fisikawan, ahli biologi, dan insinyur menggunakan kata-kata ini sebelum menangani masalah. Tetapi bagi kita, kata-kata itu sulit diucapkan. Jadi, apa tiga kata itu?

Ya, “Saya tidak tahu.”

Baca juga: Buat Organisasi Lebih Adaptif dengan Agile Leadership

Pola pikir yang serba tahu adalah suatu masalah

“Anda akan tergoda untuk memperlakukan semuanya seperti paku, jika satu-satunya alat yang Anda milki adalah palu.” – Abraham H. Maslow

Ketika kita memulai dengan pola pikir "Saya tahu!" dalam menangani masalah, maka kita menutup semua jalur investigasi dan eksplorasi. Biasanya, posisi ini dipegang oleh orang-orang yang memiliki pengaruh signifikan, baik itu mereka anggota tim atau manajer senior. Hal ini dikenal sebagai groupthink setting. Secara psikologis, hal ini menggambarkan keinginan untuk beradaptasi dalam suatu kelompok. Artinya, anggota kelompok akan bersemangat menerima saran yang diterima oleh mayoritas atau dikemukakan oleh tokoh senior tanpa ragu-ragu.

Sebaliknya, "Saya tidak tahu" membuka berbagai kemungkinan karena upaya yang dilakukan dapat mencakup semua sudut dan perspektif. Ketika menghadapi suatu masalah, pertimbangkan implikasinya, pikirkan solusi terbaik, dan apa efek sampingnya. 

Sebab ketika kita terburu-buru dalam memecahkan masalah, kita dapat memberikan saran yang tidak konkrit. Saat itulah kita menciptakan kondisi untuk masalah serupa muncul kembali di masa depan.

Baca juga: Apa itu Berpikir Kritis dan Fungsinya di Tempat Kerja

Berani untuk tidak tahu

Ya, tidak mudah bagi kita untuk mengakui ketidaktahuan kita akan sesuatu. Dorongan alami kita adalah untuk mengekspresikan, menjelaskan dan menguraikan pemikiran apapun yang pertama kali muncul di benak kita. 

Tetapi, apa yang kita lewatkan dari para filsuf Yunani kuno adalah bahwa pemikiran datang kepada kita dalam bentuk yang paling mentah. Untuk mendapatkan nilai dari pemikiran kita, kita harus memupuk, memelihara, dan memperbaikinya melalui pertimbangan dan perenungan. 

Cobalah ketika Anda dihadapkan pada suatu masalah, lihatlah duduk perkara dengan pola pikir seorang pemula. Ajukan pertanyaan, pertimbangkan kemungkinan yang muncul setelah beberapa ide, dan melalui hal tersebut tentukan solusi yang tepat. Hal tersebut lebih baik dibandingkan dengan kita yang semata-mata mengambil jalan keluar dengan apapun yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita. 

Tonton juga:

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.