Belajar Kepemimpinan Dari Spiderman

Oleh Roshan Thiran|30-11-2020 | 2 Min Read
Sebuah kisah kepemimpinan dari seorang tokoh film "Spiderman"

Ketika saya masih kecil, suatu ketika orang tua saya memerintahkan saya untuk mematikan lampu dan segera tidur, tetapi saya akan mengambil senter dan membaca komik favorit saya, Spiderman, di bawah selimut.

Ceritanya sangat menarik dan Peter Parker, atau Spiderman, adalah salah satu pahlawan super pembela umat manusia yang pernah saya temui.
Sebagai seorang pemuda, Parker menjalani kehidupan yang sangat sulit. Dia adalah pecandu sains yang ekstrim. Fisiknya yang kurus dan lemah membuatnya menjadi korban bullying 'bintang' sekolah, Flash Thompson.

Parker juga sangat antisosial, sangat kurang percaya diri, dan terlalu takut pada wanita (sebagian besar remaja pria termasuk dalam kategori ini, termasuk saya; itulah mengapa saya suka membaca komik Spiderman!).

Meski diberkahi dengan kekuatan besar setelah digigit laba-laba radioaktif, Parker masih berjuang di dalam dirinya.

Salah satu alasan kematian pamannya, Ben, adalah sikapnya yang tidak bertanggung jawab untuk menghentikan kejahatan tersebut. Belakangan, ayah dari pacarnya, Gwen Stacy, kapten detektif polisi New York City George Stacy tewas dalam bentrokan antara Spiderman dan Doctor Octopus.

Kekasih hatinya, Gwen meninggal segera setelah Green Goblin melemparkannya dari menara jembatan. Yang lebih menyakitkan bagi Parker adalah hasil tes otopsi menemukan bahwa ketika membran Spiderman tiba-tiba melekat padanya sebelum Gwen terhempas di tanah, ternyata itulah yang menyebabkan dia meninggal dunia.

Parker sering dilanda oleh kepedihan hidup. Namun, dia tidak membiarkan rasa sakit dan penderitaan yang dia alami mengalihkan fokusnya dari misi dan tujuan hidupnya, yaitu membantu orang lain tanpa memandang usia, jenis kelamin, dan latar belakang.

Mengingat cerita Spiderman yang pernah saya baca, saya teringat bagaimana bocah pendiam dan pemalu ini, yang seringkali ditakuti terutama oleh wanita, menjadi seorang pemuda yang menikah dengan supermodel terhebat di dunia dan menjadi superhero terhebat dalam sejarah komik (menurut saya!). Tidak sedikit orang yang bisa mencapai level kehidupan seperti ini.

Sumber: Pexels.com

Jadi, saya memutuskan untuk menulis tujuh pelajaran tentang kepemimpinan yang saya dapat dari Peter Parker. Berikut daftarnya:

1. Berhati Lembut
Kebanyakan pemimpin berpikir bahwa karena mereka memiliki gelar yang besar, mereka dapat berperilaku berbeda dari orang lain dan menghindari emosi manusia.
Beberapa kali Parker mencoba yang terbaik untuk bertindak seperti pahlawan dan tidak menyukai dirinya sendiri. Ini berdampak buruk pada pernikahannya dengan Mary Jane.
Captain America yang sebelumnya memiliki masalah yang sama menasihati dia bahwa "topeng itu untuk menyembunyikan wajahmu, bukan hatimu". Parker mengikuti nasihat itu dan menjadi tulus dengan dirinya dan kepribadiannya.

Sebagai pemimpin, kita tidak boleh memakai topeng, terutama ketika berurusan dengan masalah hati dan hubungan.

2. Ambil tanggung jawab

Pemimpin yang hebat bertanggung jawab atas setiap tindakan yang mereka ambil - terutama kesalahan dan kegagalan.

Spiderman layak menjadi contoh karena tidak hanya mengakui kelemahan dan kegagalannya, ia juga tidak menyalahkan siapapun.

Seperti yang diingatkan pamannya, "Semakin kita berkuasa, semakin besar tanggung jawab kita."


Banyak pemimpin tidak menyadari seberapa besar kekuasaan yang mereka miliki. Karyawan Anda menghormati Anda. Sebagai seorang pemimpin, setiap kata yang Anda ucapkan akan dianalisis dan diulangi di seluruh departemen atau organisasi.

Sebagai orang tua juga, anak-anak kita memberi kita kekuatan yang penting. Apakah kita benar-benar memahami kekuatan yang kita miliki, dan apakah kita, seperti Spiderman, bertanggung jawab penuh atas kekuatan ini? Atau apakah kita mengabaikan kekuatan yang kita miliki?

Baca juga artikel berjudul "Sang Pembebas Juga Pemimpin"

3. Seringlah Tersenyum

Spiderman selalu tersenyum (dalam setelan jasnya) meski ia membawa beban yang tak terlukiskan dan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dia kehilangan cinta sejatinya dan keluarga tercinta terutama ibu, ayah, paman dan bibinya bahkan pernah, istrinya diculik. Setiap hari ia juga menghadapi momen-momen cemas yang mengancam nyawanya. Meski begitu, dia tetap berhasil bercanda dan tersenyum. Tidak mudah menjadi 'Friendly Neighbor Spiderman'.

Hampir semua pemimpin hebat tersenyum setiap saat.
Saya bertemu dengan pemenang Hadiah Nobel Mohamad Yunos, yang pada saat itu sedang mengalami masa sulit dengan pemerintahannya. Namun, selama pertemuan sarapan kami, senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya.

Para pemimpin hebat melewati saat-saat yang menyakitkan dan menyedihkan, sama seperti kita. Namun, mereka sadar akan kekuatan senyum alami mereka.
Apakah kamu selalu tersenyum Apakah kamu selalu mengucapkan terima kasih? Jika Spiderman bisa melakukan itu, Anda juga bisa. Selalu bercanda dan selalu tersenyum.

4. Tetap Melayani. 

Melayani orang lain pasti akan membawa manfaat di suatu hari nanti. Dalam kisah Amazing Spiderman, kita melihat bagaimana Spiderman membutuhkan bantuan beberapa operator crane. Bantuan datang tepat waktu karena mandor crane adalah ayah dari anak laki-laki yang diselamatkan Spiderman di awal cerita.

Memberi lebih baik daripada menerima. Anda akan diberi penghargaan pada saat-saat penting dalam hidup Anda. Saya juga begitu. Saat saya menghadapi masalah demi masalah, bantuan tiba-tiba muncul. Saya kemudian menyadari bahwa bantuan itu dari seseorang yang pernah saya bantu sebelumnya. Karma baik akan selalu kembali ke pangkuan kita jika kita rajin membantu orang lain. Apakah Anda sebagai pemimpin yang melayani?

5. Tabah dan bersungguh -sungguh. 

Jangan biarkan kesulitan dan rasa sakit menghentikan Anda. Spiderman menjalani kehidupan yang sangat sulit dan penuh kebuntuan. Tapi, dia tidak pernah membuat alasan untuk menyerah. Dia tidak pernah menjadi sandera dari masalah kompleks di sekitarnya.

Kebanyakan orang akan berhenti membantu orang lain jika itu berarti dia akan kehilangan orang yang dicintainya. Spiderman kehilangan cinta sejatinya, Gwen Stacy karena dia suka membantu orang lain. Dia juga kehilangan sahabatnya, Harry dan yang lainnya. Padahal, setelah kehilangan Gwen, dia tak menyangka bisa menemukan cinta baru. Tapi dia melanjutkan juga dan tidak membiarkan keraguan menjeratnya. Ia akhirnya bertemu Mary Jane yang mencintainya sepenuh hati, begitu pula Gwen.

Ketekunan menghasilkan buah tidak peduli apakah Anda sedang membangun bisnis atau karier. Anda harus terus bergerak maju dan semuanya akan baik-baik saja.

Sumber: Pexels.com

6. Kepemimpinan Tidak Gratis.

Banyak pemimpin lupa tentang biaya kepemimpinan. Menjadi seorang pemimpin membutuhkan pengorbanan waktu, uang dan tenaga serta kemampuan untuk menahan rasa sakit dan kesulitan.

Kita selalu berbicara tentang manfaat kepemimpinan tetapi gagal menghitung biaya yang diperlukan. Spiderman memahami biaya yang dikeluarkan sebagai pahlawan super. Dia kehilangan banyak hal termasuk kesendirian dan keluarga.

Sebagai pemimpin, pernahkah kita menghitung biaya kepemimpinan? Sama seperti segala sesuatu yang berharga memiliki biaya yang harus ditanggung, begitu pula kepemimpinan. Apakah kita menghitung biaya kepemimpinan? Apakah kita menyadari berapa biayanya?

Spiderman mengajarkan kita untuk menghitung biaya tetapi tetap menjadi yang terdepan. Tetapi jika kita meluangkan waktu untuk memahami biaya kepemimpinan, kita tidak akan menyerah dan tidak akan tinggal diam ketika masalah dan krisis muncul.

7. Anda tidak perlu menjadi pemimpin sepanjang waktu

Spidey bukanlah pemimpin alami. Namun, saat krisis melanda atau saat ia dibutuhkan untuk memimpin, ia ulet dalam mengambil peran tersebut. Dalam cerita panjang Titanus, Spiderman memimpin Wolverine, the Hulk, Nova, Ms. Marvel, She-Hulk dan lainnya untuk menyerang alien Titanus.

Ada juga saat-saat tertentu ketika Spiderman membiarkan yang lain menjadi pemimpin. Ia berhasil beralih peran dari pengikut yang setia dan berdedikasi menjadi pemimpin yang tegas dan dihormati.
Kita semua dapat belajar untuk memainkan peran yang berbeda di tingkat yang berbeda dalam organisasi kita. Apakah kita mengizinkan orang lain untuk memimpin? Dan apakah kita tahu kapan kita harus melanjutkan peran kita sebagai pemimpin?

Kesimpulan

Masih banyak lagi yang bisa dipelajari dari Spiderman. Tetapi yang paling penting adalah kita harus menghargai dan menerapkan ajaran itu sebaik mungkin dalam hidup kita.
Bibi Spiderman, May Parker pernah berkata,


“SAYA PERCAYA DALAM DIRI SETIAP ORANG ADA PAHLAWAN YANG MEMBUAT KITA JUJUR, MEMBUAT KITA KUAT, MEMBUAT KITA MENJADI INSAN MULIA, DAN AKHIRNYA MEMBERI KITA KEBANGGAAN PADA SAAT KITA MENGHEMBUS NAFAS TERAKHIR.”


Yakinlah, ada Spiderman dalam diri kita masing-masing. Kita semua dapat belajar darinya dan menjadi pemimpin dan pahlawan hebat dalam organisasi kita serta keluarga kita.

Jadi, teruslah belajar dan teruslah tersenyum. Semoga kita semua memiliki karier bergaya Spiderman dan perjalanan kepemimpinan yang luar biasa.

Tonton juga video berjudul "Perspektif Pemimpin Muda Dalam Kepemimpinan" dibawah ini:


Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.