Pemimpin yang Ideal Harus Banyak Bertanya

Oleh Natalia Karelaia|22-12-2021 | 3 Min Read
Source: Olya Kobruseva dari Pexels.com
Sebagai pemimpin, apakah Anda sudah banyak bertanya?

Pemimpin sering digambarkan sebagai sosok yang mengarahkan dan membuat keputusan daripada bertanya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa bertentangan dengan kepercayaan populer – pemimpin yang secara rutin mengajukan pertanyaan menjadi lebih kredibel dalam peran mereka.

Sebagian besar pemimpin percaya sebaliknya. Mereka pikir dengan bertanya, para karyawan atau rekan kerja yang bersangkutan merasa ragu tentang kompetensi mereka. Memang tidak selalu salah, tetapi itu hanya sedikit dari gambaran yang lebih kompleks.

Baca juga: Evaluasi Diri Sebagai Pemimpin dengan 5 Pertanyaan Berikut

Mengapa pemimpin tidak mengajukan pertanyaan

Berdasarkan studi Organizational Behavior and Human Decision Processes dari Universitas Surrey, ditemukan bahwa hanya 29 persen dari 281 manajer yang sering mengajukan pertanyaan. Anehnya, para manajer juga melaporkan bahwa mengajukan pertanyaan adalah cara yang baik untuk mendapatkan kepercayaan, masukan dan bantuan, serta untuk menjadi pemimpin yang rendah hati. Namun, mereka kurang optimis dengan keraguan yang timbul ketika seorang manajer banyak bertanya.

Hal ini dikarenakan upaya untuk dilihat sebagai orang yang kompeten di tempat kerja lebih penting daripada keberhasilan pemimpin dalam memperoleh kepercayaan, kerja sama dengan karyawan, dan lain sebagainya. Maka, tidak heran jika banyak pemimpin menjadi waspada ketika mengajukan pertanyaan.

Kami menyelidiki apakah ada korelasi negatif antara bertanya dengan asumsi yang timbul terkait kompetensi. Dilakukan percobaan di mana peserta yang direkrut melalui platform Mechanical Turk Amazon membaca skenario yang berbeda tentang pemimpin yang mengajukan pertanyaan, yang memberikan kesimpulan dan yang mengakui bahwa mereka tidak tahu sesuatu. Mereka kemudian menilai kompetensi, kerendahan hati dan kepercayaan serta kecenderungan mereka sendiri untuk membantu bos berdasarkan informasi dalam skenario tersebut.

Menariknya, keraguan akan kompetensi pemimpin yang mengajukan pertanyaan jauh lebih rendah daripada pemimpin yang terang-terangan mengakui ketidaktahuan. Pemimpin yang mengajukan pertanyaan memberikan kesan baik tentang kerendahan hati mereka pada para karyawannya.

Akibatnya, para pemimpin yang mengajukan pertanyaan dinilai lebih dapat dipercaya dan karyawan lebih bersedia membantu dibandingkan dengan pemimpin yang langsung memberikan kesimpulan atau asumsi. 

Baca juga: Cara Memimpin dan Memberdayakan Anggota yang Lebih Cerdas

Lalu, mengapa pemimpin harus bertanya?

Bertanya dipandang sebagai cara lain untuk menunjukkan inkompetensi kita. Padahal, bertanya merupakan cerminan dari kemauan untuk melihat diri secara akurat - termasuk mengamati kesenjangan dalam wawasan, memberikan apresiasi terhadap kelebihan dan kontribusi orang lain, serta bersemangat untuk belajar dari orang lain. 

Pemimpin yang ideal tentu bertanya untuk meningkatkan keterlibatan dan mengevaluasi kinerja karyawan. Para pemimpin yang ingin tahu kemudian menuai manfaat interpersonal yang melebihi informasi atau solusi yang diharapkan ketika mereka bertanya.

Meskipun begitu, tidak semua pertanyaan layak diajukan. Jenis pertanyaan yang lebih mementingkan diri sendiri, manipulatif, dan semacamnya jelas dapat merusak reputasi Anda sebagai pemimpin.

Intinya, para pemimpin tidak boleh membiarkan kekhawatiran yang mencegah karyawan mengajukan pertanyaan. Terapkan kebiasaan "Ketika ragu, ajukan pertanyaan" di tempat kerja jika perlu. Pertimbangkan kepentingan bertanya sebagai investasi interpersonal yang juga memungkinkan Anda untuk membuat keputusan lebih baik.

Leaderonomics.com adalah situs bebas iklan. Dukungan dan kepercayaan kalian lah yang mendorong kami untuk terus menyajikan artikel berkualitas tiap harinya. Ketika Anda mendukung kami, maka secara langsung Anda membantu jutaan orang untuk terus mengakses situs kami secara gratis. Jika berkenan, Anda bisa dukung kami di sini.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Natalia Karelaia adalah seorang Associate Professor di Ilmu Keputusan INSEAD di mana ia mengajar berbagai topik tentang pengambilan keputusan, negosiasi, dan pengembangan kepemimpinan. Natalia menjadi bagian dari INSEAD pada tahun 2008, juga merupakan seorang peneliti di Harvard Business School (2016 - 2017) dan Program Negosiasi Harvard University (2008).
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.