Usaha vs. Visibilitas: Siapa yang Layak Mendapat Pengakuan?

Daniel Chekalov, Unsplash
Jika Anda melewatkan Bagian 3, silakan baca terlebih dahulu.
Sebagai pengantar, seri ini bukanlah kumpulan artikel tentang nasihat karier.
Seri ini membahas bagaimana rasanya berada di titik awal perjalanan karier. Bukan untuk memberikan semua jawaban, melainkan membantu memahami pengalaman yang sedang dijalani, yaitu learning curve.
Semua orang ingin sukses dalam kariernya. Semakin cepat, semakin baik.
Namun kenyataannya, tidak apa-apa jika Anda belum memiliki semua jawaban.
Sadari bahwa Anda tidak sendirian, dan apa yang Anda alami adalah sesuatu yang wajar.
Ini bukan perlombaan tentang siapa yang paling cepat atau paling unggul dibanding orang lain. Ini adalah perjalanan yang membutuhkan ketahanan dan kesabaran.
Sebagai lulusan baru atau seseorang yang masih berada di awal perjalanan karier, kita sering memiliki gambaran tertentu tentang seperti apa kemajuan seharusnya terlihat. Kita mencari validasi melalui penilaian kinerja, bonus, promosi, maupun pengakuan. Kita ingin memastikan bahwa apa yang kita lakukan benar-benar membawa kita maju.
Kita ingin berkembang, naik ke jenjang berikutnya, dan mencapai sesuatu, baik itu penghasilan yang lebih baik, jabatan, maupun pengalaman. Dan tidak ada yang salah dengan ambisi. Ambisi bukan sesuatu yang perlu disembunyikan. Justru itulah yang mendorong kita untuk terus bertumbuh.
——— ✦ ———
Namun di tengah perjalanan, kita mulai memercayai satu hal yang terdengar sederhana. Jika saya bekerja keras, saya akan mendapatkan pengakuan. Jika saya memberikan hasil terbaik, memenuhi tenggat waktu, melakukan lebih dari yang diminta, dan mengikuti aturan, maka pada akhirnya semua itu akan terlihat.
Rasanya adil. Rasanya masuk akal. Namun dalam kenyataannya, tidak selalu demikian.
Karena pengakuan tidak hanya datang dari usaha. Pengakuan juga datang dari visibilitas. Anda bisa saja bekerja dengan konsisten, diam-diam menghasilkan kinerja yang baik, tetapi jika tidak ada yang melihatnya atau tidak ada yang mengaitkan hasil tersebut dengan nama Anda, semua itu bisa saja luput dari perhatian.
Di situlah rasa frustrasi mulai muncul.
——— ✦ ———
Lalu Anda mulai menyadari sesuatu yang terasa kurang nyaman. Orang-orang yang mendapatkan pengakuan belum tentu mereka yang bekerja paling keras. Sering kali, merekalah yang paling terlihat.
Hal ini memunculkan pertanyaan yang sulit. Apakah mereka memang pantas mendapatkannya?
Kadang jawabannya, ya. Ada orang-orang yang memang bekerja keras sekaligus mampu memastikan hasil kerjanya terlihat. Mereka mampu mengomunikasikan kontribusinya dengan baik dan memposisikan diri secara tepat.
Namun tidak selalu demikian. Terkadang, yang lebih menentukan adalah kemampuan memahami dinamika lingkungan kerja, mengetahui kapan harus berbicara, dan hadir pada momen yang tepat. Dan terkadang, itulah yang membuat seseorang unggul.
Pada titik inilah hubungan antara usaha dan hasil mulai terasa tidak selaras. Anda mulai bertanya-tanya apakah semua kerja keras yang dilakukan benar-benar berarti jika tidak ada yang melihatnya.
——— ✦ ———
Saya masih ingat ketika pertama kali mulai bekerja. Saat itu saya bergabung dengan sebuah perusahaan kecil tanpa pengalaman kerja sebelumnya dan tanpa latar belakang pendidikan yang benar-benar menonjol. Karena itu saya berkata kepada diri sendiri bahwa saya harus membuktikan sesuatu.
Saya harus terlihat. Pekerjaan saya harus terlihat. Saya harus menunjukkan bahwa saya mampu memberikan hasil dan membawa nilai bagi perusahaan.
Maka saya bekerja sekeras mungkin. Saya terus bekerja hingga orang-orang di sekitar mulai menyadari betapa besar usaha yang saya lakukan. Saya memiliki tujuan. Saya ingin membangun pengalaman sekaligus membuktikan bahwa saya layak berada di sana.
Karena perusahaan tersebut relatif kecil, saya memiliki akses yang lebih besar. Saya bisa menunjukkan hasil kerja secara langsung kepada para pemimpin perusahaan. Saya secara sukarela terlibat dalam berbagai proyek, membantu tim lain, dan mengambil tanggung jawab yang bahkan melampaui apa yang diminta.
Dan hasilnya, saya mulai dikenal.
Namun saya juga menyadari bahwa saya cukup beruntung. Saat itu persaingan di sekitar saya belum terlalu besar.
Situasinya berbeda ketika berada di organisasi yang lebih besar. Jumlah karyawan lebih banyak. Struktur organisasi lebih kompleks. Persaingan untuk mendapatkan visibilitas pun jauh lebih ketat. Semua orang ingin diperhatikan. Semua orang ingin menonjol. Semua orang ingin berkembang.
Dan ketika kesempatan semakin terbatas, persaingan pun menjadi semakin sengit.
Bahkan terkadang menjadi tidak sehat. Orang mulai menjaga pekerjaannya sendiri. Kontribusi menjadi tidak lagi jelas. Suara-suara mulai menghilang. Kita sering mendengar cerita tentang siapa yang dianggap memiliki klien tertentu, siapa yang mendapatkan pengakuan, dan siapa yang dinilai lebih berharga.
Perlahan-lahan, kerja keras saja terasa tidak lagi cukup.
Akhirnya setiap orang memilih caranya sendiri untuk beradaptasi. Ada yang semakin berusaha tampil agar lebih terlihat. Ada yang memilih diam untuk menghindari konflik. Ada pula yang kehilangan semangat karena merasa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.
Baca Juga: Di Antara Dua Negara, Saya Belajar Mengerti Perbedaan
——— ✦ ———
Ada alasan mengapa situasi ini terasa begitu mengecewakan.
Kita percaya bahwa jika kita berusaha, kita akan memperoleh hasil. Bahwa ada hubungan yang jelas antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita terima.
Namun ketika hubungan itu tidak terjadi, muncullah ketegangan.
Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai control expectancy. Yaitu keyakinan bahwa tindakan kita seharusnya menghasilkan konsekuensi yang dapat diprediksi. Ketika kita bekerja keras, kita berharap akan mengalami kemajuan. Ketika kita memberikan kinerja terbaik, kita berharap mendapatkan pengakuan.
Namun ketika hasil yang diterima tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan, kita mulai merasa kehilangan kendali atas situasi.
——— ✦ ———
Di situlah kebingungan itu berasal.
Masalahnya bukan semata-mata tentang usaha atau visibilitas. Masalahnya adalah bagaimana kita mencoba memahami sebuah sistem yang aturannya tidak selalu jelas.
Mungkin usaha memang tetap penting. Namun memahami di mana dan bagaimana usaha itu dapat terlihat juga tidak kalah penting.
Karena terkadang, bukan berarti Anda kurang berusaha.
Bisa jadi, apa yang sudah Anda lakukan belum terlihat dengan cara yang selama ini Anda harapkan.
Kepribadian
Arric memiliki pengalaman bertahun-tahun di dunia korporat, dengan spesialisasi di bidang pemasaran dan manajemen proyek. Berbekal latar belakang Biomedical Science, perjalanan kariernya dimulai dengan berbagai ketidakpastian sebagai lulusan baru yang menapaki jalur yang awalnya tidak ia rencanakan. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menggambarkan realitas dunia kerja sehingga pembaca merasa dipahami dan tervalidasi, bahwa tidak apa-apa jika belum memiliki semua jawaban, dan tidak apa-apa untuk mengakui ketika sedang berjuang.





