Pelajaran Itu Tidak Pernah Berhenti

Chris, Unsplash
Sam Neill meninggal dunia minggu ini. Sejak itu, ada satu cuplikan video yang terus terngiang di benak saya.
Video tersebut berasal dari The Assembly, serial ABC yang mempertemukan mahasiswa jurnalisme autistik dengan tokoh-tokoh terkenal Australia melalui sesi wawancara yang dibimbing Leigh Sales. Sam menjadi tamu pertama mereka pada episode pembuka musim pertama.
Di salah satu momen, ia bercerita tentang ibunya dan ayah sang ibu yang gugur dalam Perang Dunia I. Saat mengenangnya, ia tak mampu menahan air mata.
Lihat unggahan beserta video yang menjadi viral tersebut.
Di hadapan kita ada sosok dengan perjalanan karier luar biasa. Jurassic Park. The Piano. Peaky Blinders. Portofolio yang dipenuhi karya besar, gelar kebangsawanan, dan lebih dari lima dekade berkarya yang disaksikan dunia. Namun pada saat itu, semua pencapaian tersebut seolah menghilang. Yang terlihat hanyalah seorang anak yang larut dalam kesedihan karena beban yang dipikul keluarganya jauh sebelum dirinya lahir.
Saya sudah menonton cuplikan itu berkali-kali.
Dan ada satu hal yang benar-benar membekas.
Siapa pun diri kita, setinggi apa pun jabatan yang tertera pada tanda tangan email kita, orang tua akan terus mengajari kita bahkan setelah mereka tiada.
Pelajaran itu tidak pernah berhenti.
Suara yang muncul di kepala kita, "Bersikaplah baik. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Jangan terlalu membanggakan diri. Lakukan hal yang benar meski tidak ada yang melihat." Itu adalah suara mereka. Sejak dulu, itu memang suara mereka. Dan hingga kini, suara itu masih membentuk cara kita hadir di hadapan orang lain. Masih membentuk cara kita memimpin. Masih membentuk siapa diri kita ketika ruangan kosong dan tidak ada seorang pun yang sedang menilai.
Orang-orang yang membesarkan kita benar-benar menjadi bagian dari diri kita. Nilai-nilai yang mereka teladankan berubah menjadi respons alami saat kita berada di bawah tekanan. Naluri yang muncul sebelum strategi. Refleks yang hadir sebelum rencana. Ilmu saraf memiliki banyak istilah untuk menjelaskan hal ini. Namun kita sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan ilmiah untuk memercayainya. Kita merasakannya setiap kali tanpa sadar melakukan sesuatu persis seperti yang dulu dilakukan orang tua kita.
Jadi, Izinkan saya berbagi lebih dulu.
Orang tua saya mengajarkan tiga hal, yaitu ketangguhan, kerja keras, dan kebaikan hati.
Baca Juga: Grit, Resilience, dan Grinding: Mana yang Membawamu Tumbuh
Saya baru benar-benar memahami makna ketiga nilai itu ketika kehidupan mulai mengujinya. Bertahun-tahun lalu, saat menjadi ibu tunggal, saya mengalami penolakan demi penolakan ketika mencari pekerjaan. Empat puluh kali lamaran saya ditolak secara berturut-turut. Empat puluh kali mendengar kata "tidak", sementara saya harus membesarkan anak dan tetap membayar berbagai tagihan yang tentu tidak peduli bagaimana perasaan saya.
Ketangguhanlah yang membuat saya tetap bangun setiap pagi ketika rasanya sudah tidak memiliki tenaga lagi. Kerja keraslah yang membuat saya mampu membangun LeadershipHQ dari nol, dimulai dari satu klien, satu percakapan, dan satu malam panjang demi malam panjang. Lalu ada kebaikan hati. Nilai inilah yang sebenarnya paling mudah saya lepaskan pada masa itu. Sangat mudah jika saya memilih menjadi keras. Sangat mudah membiarkan penolakan berubah menjadi kepahitan. Namun suara orang tua saya tidak pernah mengizinkannya.
Tetaplah menjadi pribadi yang baik. Bahkan sekarang. Terutama sekarang.
Tiga nilai itulah yang kemudian menjadi fondasi dari semua hal yang saya bangun hingga hari ini. Itulah alasan mengapa Human Leadership bukan sekadar istilah bagi saya, melainkan sesuatu yang sangat personal. Orang tua saya telah memberikan cara untuk menjalani hidup. Selama lebih dari 35 tahun, saya berusaha hidup sesuai dengan warisan itu dan meneruskannya kepada putri saya.
Karena pada akhirnya, kita sering menghabiskan sebagian besar perjalanan karier untuk mengejar simbol-simbol kesuksesan. Promosi jabatan. Ruang kerja di sudut kantor. Kesempatan menjadi pembicara utama. Logo perusahaan besar di dalam presentasi. Tidak ada yang salah dengan ambisi. Saya pun membangun hidup saya melaluinya.
Namun kepemimpinan tidak pernah ditentukan oleh jabatan.
Kepemimpinan ditentukan oleh nilai-nilai yang kita pegang dan kita wariskan. Kepemimpinan terlihat dari cara kita memperlakukan orang yang tidak dapat memberikan keuntungan apa pun kepada kita. Kepemimpinan terlihat dari apakah orang-orang yang bekerja bersama kita merasa lebih percaya diri atau justru merasa semakin kecil setelah berinteraksi dengan kita. Kepemimpinan adalah sebuah sikap. Sikap yang kita warisi, dan kini sedang kita wariskan kepada orang lain, disadari ataupun tidak.
Itulah bagian yang paling menyentuh saya dari kisah Sam. Bukan ketenarannya. Melainkan kelembutan yang ada di balik semua pencapaiannya. Ia mengingatkan kita bahwa bahkan orang-orang paling sukses sekalipun tetap membawa kesedihan ibunya, kebanggaan ayahnya, serta pelajaran-pelajaran kecil yang membentuk mereka jauh sebelum dunia mengenal nama mereka.
Dan ada satu hal yang jarang kita sadari: Kita pun sedang melakukan hal yang sama. Setiap hari, kita sedang menjadi suara yang kelak akan terus hidup di dalam diri orang lain. Anak-anak kita. Tim yang kita pimpin. Generasi muda yang memperhatikan bagaimana kita menghadapi masa-masa sulit. Mereka mungkin tidak akan mengingat jabatan kita.
Namun mereka akan mengingat bagaimana perasaan mereka saat bersama kita, serta nilai-nilai yang kita pertahankan ketika sebenarnya jauh lebih mudah untuk menyerah.
Baca Juga: Ini Pesan Toy Story 5 untuk Orang Tua
Bagaimana Memimpin dengan Warisan Nilai yang Baik
Jika Anda ingin memimpin dengan cara yang membuat orang-orang yang membesarkan Anda merasa bangga, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
1. Kenali Suara yang Membentuk Anda
Tuliskan tiga nilai utama yang terus diajarkan oleh orang-orang yang membesarkan Anda. Sulit memimpin berdasarkan nilai yang bahkan belum pernah Anda sadari. Ketika nilai-nilai itu telah Anda kenali, Anda akan lebih mudah melihat kapan Anda benar-benar menjalaninya, dan kapan Anda mulai menjauh darinya.
2. Jadilah Teladan, Terutama pada Hari-Hari Terberat
Orang lain tidak meniru apa yang Anda katakan dalam rapat besar. Mereka meniru apa yang Anda lakukan ketika berada di bawah tekanan. Respons alami Anda akan perlahan menjadi respons alami mereka. Karena itu, pimpinlah seolah selalu ada seseorang yang sedang belajar dari Anda. Sebab memang demikian adanya.
3. Hargai Perilaku yang Baik
Perilaku yang kita apresiasi secara terbuka adalah perilaku yang akan terus diwariskan. Berikan penghargaan pada kebaikan hati, keberanian, dan integritas, bukan hanya pada hasil kerja.
4. Ceritakan Kisah yang Membentuk Anda
Nilai-nilai tidak diwariskan melalui kebijakan atau aturan. Nilai diwariskan melalui cerita. Bagikan pengalaman yang membentuk diri Anda. Dari situlah tim memahami nilai apa yang benar-benar Anda pegang.
5. Lakukan Ujian "Ruangan Kosong"
Tanyakan kepada diri sendiri. Siapakah saya ketika tidak ada seorang pun yang melihat? Jawaban atas pertanyaan itu, bukan jabatan Anda, adalah warisan yang sebenarnya sedang Anda bangun.
"Jadikan ini sebagai pengingat, untuk Anda maupun saya."
Warisan yang kita tinggalkan bukanlah jabatan. Melainkan nilai-nilai yang kita hidupi. Warisan itu terlihat dari apa yang orang lain rasakan saat bersama kita, dan apa yang tetap mereka bawa setelah kita tidak lagi berada di ruangan yang sama, bahkan ketika suatu hari nanti kita telah tiada.
Pimpinlah dengan kesadaran bahwa semua itu berarti. Karena memang berarti. Dan karena hari ini, ada seseorang yang sedang belajar dari Anda, sebagaimana hingga kini Anda masih belajar dari orang-orang yang telah membesarkan Anda.
Selamat jalan, Sam Neill. Terima kasih atas semua cerita yang telah Anda tinggalkan. Semoga beristirahat dengan tenang.
Sekarang, saya ingin bertanya kepada Anda. Apa pelajaran paling berharga yang diajarkan oleh orang-orang yang membesarkan Anda? Bagi saya, jawabannya adalah ketangguhan, kerja keras, dan kebaikan hati. Saya ingin mendengar jawaban Anda.
Artikel ini pertama kali diterbitkan di LinkedIn Sonia McDonald.
Kepribadian
Sonia adalah CEO LeadershipHQ dengan pengalaman luas dalam pengembangan organisasi, pembelajaran, fasilitasi, dan pengembangan kepemimpinan. Ia berkomitmen membangun kemitraan jangka panjang dengan klien serta berfokus pada pencapaian hasil terbaik bagi bisnis dan karyawan mereka.





