Grit, Resilience, dan Grinding: Mana yang Membawamu Tumbuh

Jan 27, 2026 3 Min Read
Sick Woman dizzy while Working
Sumber:

Karolina Grabowska, Pexels

Pernah mendengar kalimat ini?

Tidur itu untuk yang lemah.

Terdengar keren? Tidak juga. Itu bukan motivasi, melainkan strategi bunuh diri jangka panjang.

Sekarang, mari jujur sejenak. Berapa jam kamu tidur tadi malam?

Jika jawabannya dua sampai empat jam, lalu kamu menyebutnya sebagai bagian dari grinding, mari berhenti sebentar.

Kita perlu membahas tiga konsep yang sering disamakan, padahal sebenarnya berbeda sangat jauh: grit, resilience, dan grinding.

Grit Bukan Kerja Tanpa Henti Seperti Kuda

Grit berbicara tentang purposeful persistence, bukan blind hustle. Jika istilah tersebut terasa membingungkan, sederhananya grit adalah ketekunan yang memiliki alasan yang jelas.

Bukan berarti kamu terus bergerak tanpa henti, melainkan kamu memahami mengapa kamu bergerak.

Grit is not the intensity of effort today, but the consistency of meaningful effort over time.

Baca Juga: GRIT to GREAT: Kekuatan Passion untuk Mencapai Tujuan Jangka Panjang

Contoh:
Kamu belajar bahasa Spanyol satu hingga dua jam setiap hari karena ingin membangun relasi global dan membuka peluang baru. Konsisten, perlahan, tetapi mantap.

Bukan:
Belajar dua belas jam dalam semalam hanya demi bisa pamer di Instagram. Keesokan harinya tumbang dan kehilangan arah.

Grit itu seperti menanam pohon. Tidak membutuhkan badai besar.

Cukup sinar matahari dan air, setiap hari.

Resilience: Bangkit, tetapi Bukan ke Lubang yang Sama

writing information in notepad

Liza Summer, Pexels

“Bangkit dari kegagalan” adalah kalimat motivasi yang sangat sering terdengar.

Namun, mari berhenti sejenak.

Kamu bangkit di tempat yang sama, atau melompat ke tempat yang baru?

Terkadang resilience bukan tentang kembali ke medan lama, melainkan keberanian untuk meninggalkan sesuatu yang terus membuatmu jatuh.

Contoh:
Kamu bekerja di sebuah proyek dengan tekanan tinggi, tidak sejalan dengan nilai hidupmu, bahkan memaksamu berkompromi dengan etika.

Kamu gagal. Kamu kembali. Kamu dimaki.

Lalu mengulanginya lagi.

Sampai kapan?

Orang yang paling kuat bukanlah mereka yang paling sering jatuh, melainkan mereka yang tahu kapan harus mengubah arah.

Resilience sejati muncul ketika kamu mampu berkata:

“Tempat ini bukan untukku. Aku layak mendapatkan yang lebih baik.”

Baca Juga: Membangun Mindset Pemenang dalam Tim

Grinding: Tampak Hebat di Luar, Kosong di Dalam

Kita hidup di era yang memuja produktivitas.

  • Sibuk dianggap keren.
  • Lelah menjadi bentuk validasi.
  • Burnout bahkan diperlakukan seperti tanda kehormatan.

Namun ada fakta yang patut direnungkan.

WHO menyebut burnout sebagai occupational phenomenon. Artinya, ini bukan kelemahan personal, melainkan krisis global.

Kamu bisa terlihat sangat produktif, tetapi merasa hampa.

Bekerja keras, namun tidak tahu untuk apa.

Dipenuhi daftar tugas, tetapi kehilangan arah hidup.

Filosofi Sederhana

Hidup bukan perlombaan tentang siapa yang paling lelah, melainkan tentang siapa yang paling sadar mengapa ia berjalan.

Jangan sekadar bertahan hidup.

Mulailah menjalani hidup dengan intensi.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Rivaldy Varianto S.


Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:

Malaysia Leadership Summit 2026

Berangkat dari refleksi “Grit, Resilience, dan Grinding: Mana yang Membawamu Tumbuh” yang mengingatkan kita bahwa kerja keras tanpa arah hanya akan berujung kelelahan, percakapan tentang kepemimpinan hari ini menuntut makna yang lebih dewasa dan berkelanjutan. Malaysia Leadership Summit 2026 menghadirkan para pemimpin lintas industri yang tidak sekadar mengajarkan cara bertahan, tetapi juga bagaimana membangun resilience yang sehat, strategis, dan relevan dengan realitas masa kini. Melalui insight berbasis riset, pengalaman nyata, dan dialog mendalam, summit ini membekali Anda dengan perspektif dan tools kepemimpinan untuk tumbuh tanpa harus terjebak dalam budaya grinding yang melelahkan.

Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Share artikel ini

Alt

Rivaldy adalah Aerodynamics Engineer di Airbus UK yang berfokus pada optimalisasi kinerja pesawat agar efisien dan aman, sekaligus CEO Get Karier, platform yang dibangunnya untuk membantu profesional muda meraih karier global melalui e-book, mentoring, dan lokakarya. Tujuannya mengubah ambisi menjadi peluang nyata danterus mendorong generasi berikutnya untuk meraih kesuksesan di internasional.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

A Woman in Beige Blazer Holding a Notebook

Refleksi Satu Tahun di Dunia HR

Oleh Fathiyatus Syafigah. Satu tahun menjadi HR mengajarkan pentingnya fondasi, senior supportive, koneksi, skill, dan menjadi wajah perusahaan.

Jan 08, 2026 5 Min Read

jalan buntu

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Menemui Jalan Buntu

Oleh Di hujung video ini Adon mengungkapkan apa yang harus dilakukan jika diperhadapkan dengan jalan buntu, selamat menikmati.

Jan 08, 2021 1 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest