Di Antara Dua Negara, Saya Belajar Mengerti Perbedaan

Feb 02, 2026 3 Min Read
a Woman Looking at the City Skyscrapers
Sumber:

Pexels

Selama hampir 20 tahun, hidup saya ada di Malaysia. Saya sekolah di sana, tumbuh besar di sana, dan terbiasa dengan ritmenya. Namun secara bersamaan, lingkungan terdekat saya justru orang Indonesia. Di rumah Indonesia, di pergaulan Indonesia, dan hanya lokasinya saja yang berbeda.

Waktu itu, saya tidak pernah benar-benar memikirkan soal identitas. Semuanya terasa normal.

Sampai akhirnya saya pindah ke Indonesia.

Yang saya bayangkan akan terasa seperti pulang, ternyata justru terasa asing. Banyak hal kecil yang membuat saya kikuk. Mulai dari cara orang berbicara, bercanda, menyampaikan pendapat, sampai cara bereaksi terhadap sesuatu. Saya sering merasa “kok aku beda, ya?” atau “Mereka tersinggung gak ya sama jawaban aku?”. 

Di Malaysia, saya orang Indonesia.

Di Indonesia, saya justru sering dibilang “kok kayak orang Malaysia”.

Di titik itulah, saya sadar: saya hidup di tengah-tengah.

Baca Juga: Tiga Kilometer Pertama: Saat Langkah Berat Menjadi Awal Perubahan

Toleransi Dimulai dan Memahami Orang Lain

Pindah negara ternyata bukan hanya soal berpindah tempat tinggal. Bukan sekadar adaptasi makanan, cuaca, atau sistem. Yang paling terasa justru soal kebiasaan dan cara memandang dunia. 

Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele (intonasi bicara, cara bercanda, cara menyampaikan ketidaksetujuan) ternyata bisa punya makna yang berbeda di tempat yang berbeda.

Dari situlah saya mulai lebih memahami tentang toleransi, bukan sebagai konsep besar, tapi sebagai praktik sehari-hari.

Toleransi bukan cuma soal menerima perbedaan yang kelihatan jelas. Kadang, toleransi justru diuji lewat hal-hal kecil: saat cara kita disalahpahami, saat niat baik kita diterjemahkan berbeda, atau saat kita harus menahan diri untuk tidak langsung menghakimi. 

Hidup di dua budaya mengajarkan saya bahwa banyak orang tidak bermaksud menyakiti, mereka hanya tumbuh dengan konteks yang berbeda.

Belajar Bertoleransi pada Diri Sendiri

Awalnya, berada “di tengah” terasa melelahkan. Ada dorongan untuk terus menyesuaikan diri agar diterima. Ada rasa takut dianggap aneh, tidak sopan, atau tidak nyambung. Saya sempat merasa harus memilih: ikut sepenuhnya atau menyingkir pelan-pelan.

Namun, seiring waktu, saya mempelajari satu hal: toleransi juga berlaku untuk diri sendiri.

Saya belajar memberi ruang pada diri saya yang tidak sepenuhnya cocok di satu tempat. Bahwa tidak apa-apa membawa kebiasaan lama ke lingkungan baru, selama kita mau belajar dan terbuka. Bahwa menyesuaikan diri tidak selalu berarti menghapus siapa diri kita sebenarnya.

Ketika Toleransi Menjadi Keterampilan di Dunia Kerja

Pengalaman hidup di tengah dua budaya ini pelan-pelan membentuk cara saya bersikap. Saya jadi lebih hati-hati berbicara, lebih peka membaca situasi, dan lebih terbiasa melihat suatu masalah melalui lebih dari satu sudut pandang. Saya belajar mendengarkan sebelum bereaksi, dan memahami sebelum menilai.

Dalam dunia kerja dan kehidupan sosial, kemampuan ini sangat relevan. Kita semakin sering bertemu orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Seperti cara berpikir, nilai, dan kebiasaan yang tidak selalu sama dengan kita. Tanpa toleransi, perbedaan mudah berubah jadi konflik. Tapi dengan toleransi, perbedaan bisa menjadi jembatan.

Baca Juga: 7 Cara Menjembatani Kesenjangan Otoritas

Hari ini, saya tidak lagi terlalu sibuk mencari label. Saya tidak harus sepenuhnya Malaysia atau sepenuhnya Indonesia untuk merasa utuh. Saya adalah hasil dari perjalanan panjang, dari pertemuan dua budaya, dan dari proses belajar yang terus berjalan.

Mungkin, hidup di tengah memang tidak selalu nyaman. Tapi dari sanalah saya belajar arti toleransi yang sesungguhnya. Bukan hanya menerima orang lain, tapi juga menerima diri sendiri. Dan mungkin, berada di tengah bukan tanda kebingungan, melainkan ruang tumbuh untuk menjadi manusia yang lebih peka, lebih terbuka, dan lebih memahami.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

An Open Book

Dear 2026, Tolong Perbaiki Hidupku…

Oleh Manisha Mutiara Tsani. Pergantian tahun sering memberi ilusi bahwa hidup akan berubah dengan sendirinya. Namun tanpa mengubah kebiasaan, cara kerja, dan sistem yang kita jalani, 2026 hanya akan menjadi tahun baru dengan pola lama.

Jan 05, 2026 3 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Kepemimpinan Yang Melayani

Kepemimpinan Yang Melayani

Theo Litaay, SH, LLM, Ph.D, membahas penerapan kepemimpinan yang melayani dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja tim dan kesejahteraan.

Feb 19, 2025 56:41 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest