Terjebak dalam Siklus Penolakan

Jul 01, 2026 5 Min Read
abstract art
Sumber:

Freepik

Di Dalam Kurva Pembelajaran Bagian 1

Sebagai pengantar, ini bukan artikel tentang nasihat karier...

Ini adalah seri artikel tentang bagaimana rasanya berada di garis awal.

Bukan untuk memberikan jawaban, melainkan membantu memahami pengalaman yang kita alami, yaitu kurva pembelajaran (learning curve).

Semua orang ingin sukses dalam kariernya. Semakin cepat, semakin baik.

Namun kenyataannya, tidak apa-apa jika Anda belum memahami semuanya.

Sadari bahwa Anda tidak sendirian, dan bahwa pengalaman yang Anda alami adalah sesuatu yang valid.

Ini bukan permainan tentang kecepatan atau perbandingan. Ini adalah permainan tentang daya tahan dan kesabaran.


Semua orang mengingat penolakan pertama dalam hidup mereka.

Saya mengalaminya saat berusia 16 tahun.

Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah dan melamar posisi ketua Interact Club di sekolah saya. Di atas kertas, semuanya tampak berpihak kepada saya. Kakak saya pernah menjabat posisi tersebut, teman-teman mendukung saya, dan tim pengurus saat itu menganggap saya sebagai salah satu kandidat terkuat.

Namun ketika wawancara berlangsung, saya gugup.

Bukan hanya gugup, tetapi juga tidak yakin pada diri sendiri. Saya belum pernah melalui pengalaman seperti itu sebelumnya, dan keraguan tersebut terlihat jelas. Saya tidak mampu menampilkan diri dengan baik. Saya tidak terlihat seperti seseorang yang benar-benar menginginkan posisi tersebut.

Saya tidak mendapatkannya.

Saya ditawari posisi wakil ketua sebagai gantinya, tetapi penolakan itu lebih membekas dalam ingatan saya dibanding hasil akhirnya. Saat itu saya belum menyadarinya, tetapi itulah awal dari perasaan yang akan terus saya alami berulang kali.

Itulah pertama kalinya saya menyadari bahwa berusaha tidak selalu menghasilkan hasil yang kita harapkan.

Ketika Saya Mulai Meragukan Diri Sendiri

Hal itu terjadi lagi saat kuliah.

Saya mendaftar untuk bergabung dengan dewan mahasiswa. Kali ini, saya meyakinkan diri bahwa hasilnya akan berbeda. Saya mempersiapkan diri. Saya berpakaian profesional. Saya menjawab setiap pertanyaan sebaik mungkin.

Namun saya tetap tidak diterima.

Saat itulah keraguan mulai tumbuh semakin kuat.

Pada titik tertentu, Anda berhenti mengharapkan balasan.

Anda mengirim lamaran, menutup tab, lalu melanjutkan aktivitas seperti biasa, seolah-olah sejak awal Anda memang tidak pernah benar-benar berharap berhasil.

Ketika Penolakan Menjadi Pola

Selama di universitas, ada beberapa momen yang terasa seperti kemajuan. Saya bergabung dengan sebuah sub-tim dan mendapatkan peran kepemimpinan pada tahun pertama.

Untuk sementara waktu, saya merasa akhirnya mulai bergerak ke arah yang benar.

Namun masa itu terjadi saat pandemi COVID-19, dan ketika periode tersebut berakhir, rasa percaya diri saya ikut menghilang. Yang tersisa hanyalah ketakutan.

Saya menjadi begitu takut terhadap penolakan sehingga berhenti menempatkan diri dalam situasi baru. Saya menghindari bergabung dengan klub atau kegiatan baru, bukan karena tidak ingin, tetapi karena saya sudah lebih dulu meyakinkan diri mengenai hasil akhirnya.

Bahwa saya akan langsung ditolak begitu mencoba masuk. Jika diucapkan keras-keras, itu terdengar tidak masuk akal. Namun pada saat itu, rasanya sangat nyata.

Menariknya, penolakan tidak hanya membuat kita takut gagal. Penolakan juga membuat kita takut untuk mencoba.

Beratnya Pengalaman yang Berulang

Setelah lulus, siklus itu kembali dengan lebih kuat. Lamaran. Penolakan. Keheningan.

Terkadang saya bahkan tidak sampai ke tahap wawancara. Saya mulai mengajukan pertanyaan yang tidak mampu saya jawab sendiri. Apa yang salah dengan diri saya? Apakah saya memang tidak cukup baik? Apakah saya berharap terlalu banyak hanya untuk diberi kesempatan?

Saya tahu apa yang mampu saya lakukan, tetapi seolah-olah hal itu tidak berarti apa-apa. Dan perlahan, semuanya terasa semakin berat.

Ada hari-hari ketika saya tidak ingin bangun dari tempat tidur. Hari-hari ketika keheningan terasa lebih nyaring daripada email penolakan apa pun. Hari-hari ketika saya merasa telah tertinggal jauh tanpa pernah tahu kapan semuanya dimulai. 

Anda mengatakan pada diri sendiri bahwa suatu saat akan mencoba lagi.

Hanya saja bukan sekarang. Bukan dalam kondisi seperti ini.

Sebuah Kesempatan yang Berbeda

Lalu sesuatu yang kecil mulai berubah.

Seorang teman dekat mengajak saya bergabung sebagai relawan dalam sebuah program kepemudaan. Saya hampir menolaknya. Namun saya tidak melakukannya.

Di sinilah semuanya mulai berubah. Dalam lingkungan yang benar-benar baru, saya mulai melihat diri saya dengan cara yang berbeda. Saya menyadari bahwa saya mampu. Bahwa saya bisa memimpin. Bahwa saya bisa berkontribusi secara alami tanpa harus terlalu memikirkan setiap langkah yang saya ambil.

arric gomez

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, usaha yang saya lakukan terasa berarti lagi. Karena saya hadir dan terlibat, orang-orang mulai memperhatikan. Pada akhirnya, hal itu membawa saya mendapatkan rekomendasi untuk sebuah posisi di sebuah perusahaan.

Ironisnya, saya ditolak untuk posisi pertama yang saya lamar di sana. Namun saya justru ditawari posisi lain. Dan sejak saat itu, saya terus belajar. Membuat kesalahan. Lalu bertumbuh melalui semua proses tersebut.

Ketika melihat ke belakang, bagian tersulit sebenarnya bukanlah penolakan itu sendiri. Melainkan apa yang membuat saya percayai tentang diri saya setelah mengalami penolakan berulang kali.

Bagaimana pengalaman itu perlahan mengubah cara saya memandang peluang, dengan lebih sedikit kepercayaan diri, lebih sedikit harapan, dan terkadang lebih sedikit kemauan untuk mencoba.

Bahkan hingga sekarang, saya masih merasakannya. Masih ada sedikit kecemasan sebelum wawancara. Dan sekarang, karena terlibat dalam proses rekrutmen, saya juga telah melihat sisi lainnya.

Saya menyadari sesuatu.

Penolakan tidak selalu mencerminkan kemampuan Anda.

Terkadang itu soal waktu. Terkadang soal kecocokan. Terkadang ada faktor-faktor yang tidak akan pernah sepenuhnya Anda ketahui.

Pasar kerja saat ini memang sulit. Ada ribuan orang yang mengejar peluang yang sama.

Dan dalam banyak hal, penolakan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari.

Learned Helplessness

Yang tidak saya sadari saat itu adalah bahwa pengalaman yang saya alami sebenarnya memiliki nama.

Kondisi itu disebut learned helplessness.

Ini adalah kondisi ketika seseorang mengalami begitu banyak kegagalan atau kemunduran berulang hingga akhirnya percaya bahwa tindakannya tidak lagi membuat perbedaan. Setelah cukup banyak kekecewaan, bahkan usaha terbaik yang Anda lakukan pun bisa terasa sia-sia.

Ketika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa itulah kondisi saya saat itu.

Saya bukan hanya sedang menghadapi penolakan.

Saya sudah mulai mengharapkannya.

Saya tidak lagi melamar dengan energi yang sama.

Saya menghindari peluang bahkan sebelum peluang itu sempat menolak saya.

Saya meyakinkan diri mengenai hasil akhirnya bahkan sebelum apa pun terjadi.

Bukan karena saya tidak memiliki kemampuan. Tetapi karena di suatu titik, saya belajar untuk percaya bahwa mencoba sudah tidak lagi terasa layak diperjuangkan.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Konsultasi, Pertumbuhan

Alt

Arric memiliki pengalaman bertahun-tahun di dunia korporat, dengan spesialisasi di bidang pemasaran dan manajemen proyek. Berbekal latar belakang Biomedical Science, perjalanan kariernya dimulai dengan berbagai ketidakpastian sebagai lulusan baru yang menapaki jalur yang awalnya tidak ia rencanakan. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menggambarkan realitas dunia kerja sehingga pembaca merasa dipahami dan tervalidasi, bahwa tidak apa-apa jika belum memiliki semua jawaban, dan tidak apa-apa untuk mengakui ketika sedang berjuang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

girl sitting on a bench

Cara Melakukan Tinjauan Hidup Tahunan: 7 Pertanyaan

Oleh Gregg Vanourek. Melakukan tinjauan hidup tahunan membantu kita melihat perjalanan hidup secara utuh. Melalui tujuh pertanyaan reflektif, kita dapat memahami pola, pelajaran, dan fokus utama agar dapat memasuki tahun baru dengan arah, kejelasan, dan niat yang lebih kuat.

Dec 31, 2025 4 Min Read

A father and son

Kesalahan di Usia Muda yang Bisa Menjadi Penyesalan di Masa Depan

Bersama Rory Asyari, memahami berbagai kesalahan umum yang sering dilakukan anak muda dalam karier, keuangan, hubungan, dan pola pikir.

Jun 12, 2026 60 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest