Dari “No” Menjadi “Next”

Roon Z, Pexels
Kemarin, saya secara resmi ditolak untuk promosi internal ke posisi yang lebih senior.
Di LinkedIn, saya sering mengatakan bahwa kesuksesan bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu mampu bangkit kembali. Penolakan hanyalah satu titik kecil dalam perjalanan karier yang panjang. Sounds easy, right?
Namun kenyataannya jauh lebih kompleks.
Bayangkan duduk di depan calon user yang baru saja memutuskan bahwa kamu tidak lolos. Perasaannya campur aduk. Ada kecewa, minder, bahkan sempat muncul pikiran, “emangnya gue nggak worth it, ya?” Di saat yang sama, kamu tetap dituntut menjaga ekspresi agar terlihat profesional.
Calon user saya waktu itu mengatakan seperti ini:
Saya akan berhenti sejenak agar Anda punya waktu mengumpulkan pikiran atau pertanyaan yang ingin disampaikan kepada saya. Saya tahu Anda pasti kecewa dengan hasil ini, dan saya minta maaf atas keputusan ini.
Di momen itu saya sadar, ini bukan kali pertama saya ditolak. Puluhan kali sebelumnya saya sudah pernah berada di posisi yang sama. Dan ada satu hal penting yang saya pelajari:
Jangan keluar dari ruangan dengan tangan kosong.
Apakah mungkin bernegosiasi agar mereka berubah pikiran?
Well, kemungkinan besar itu hampir mustahil.
Tapi kamu tetap bisa mengambil value dari momen penolakan tersebut. Caranya?
Mintalah Feedback, Bukan Hanya Hasilnya
Di sini saya selalu masuk ke learning mode. Berhenti sejenak, ucapkan terima kasih, lalu ubah pemikiran dari “gagal” menjadi “data point”.
Pertanyaannya bukan lagi “kenapa saya tidak lolos?” tetapi “apa yang bisa saya tingkatkan untuk percobaan selanjutnya?”
Tanyakan apa yang masih kurang dari diri kamu dan apa saja yang perlu diperbaiki. Bisa dari teknik presentasi, jawaban saat interview, sampai perhitungan teknikal dan tes yang jawabannya kurang tepat.
Dengan begitu, saya punya short-term action plan yang jelas, bukan sekadar membawa pulang rasa kecewa.
Baca Juga: Feedback sebagai Alat Bertumbuh di Fase Mid-Career
Mintalah saran untuk perkembangan karier

Tima Miroshnichenko, Pexels
Ini bagian yang paling powerful. Saya langsung beralih ke feedforward mode. Siapa yang menyangka calon user akan ditanya tentang tips karier oleh orang yang baru saja mereka tolak?
Di kasus saya, calon user menutup laptopnya, lalu berkata:
Ini hanya antara kamu dan saya. Saya berbicara sebagai sesama karyawan.
Di titik itu, level komunikasinya berubah sepenuhnya. Dari user vs candidate menjadi peer-to-peer. Lebih personal, lebih jujur, dan lebih terbuka.
Dan yang terjadi? Saya justru mendapatkan banyak insights.
Sampai akhirnya, beliau menawarkan diri untuk menjadi mentor saya di lingkup internal kantor UK secara formal. (FYI, beliau tidak sembarang memberikan mentoring kepada orang lain.)
Kenapa beliau bersedia menjadi mentor? Karena saya sudah menunjukkan tiga hal saat interview:
- Saya punya career goal yang jelas, bukan hanya untuk 3 tahun ke depan, tetapi juga 10 tahun ke depan.
- Saya menunjukkan inisiatif. Saya membuat slides tanpa diminta, lebih memilih bertemu langsung dibandingkan video call, bahkan berdiri saat presentasi ketika orang lain duduk.
- Saya tidak goyah meski ditolak. Justru saya mampu membalikkan situasi menjadi kesempatan untuk belajar.
Alih-alih pulang dengan tangan kosong, saya pulang dengan mentor senior yang siap mendukung perjalanan karier saya.
Baca Juga: Bagaimana Menjadi Mentor yang Lebih Baik dan Mengapa Itu Penting
Sebenarnya ini bukan kejadian pertama.
Dan ini juga bukan pertama kalinya terjadi. Tahun lalu, saya sempat ditolak untuk role di Singapore. Namun hasil akhirnya serupa. Head of Asia Pacific Region APAC yang menolak saya justru menawarkan diri menjadi sponsor yang siap memberikan surat rekomendasi jika saya melamar kembali untuk role lain di APAC.
Jadi ya, penolakan memang menyakitkan. Namun penolakan juga bisa menjadi pintu menuju peluang baru, selama kita tahu cara menghadapinya.
Kamu pernah mengalami hal serupa? Kalau iya, mungkin kamu paham. Terkadang, sebuah ‘no’ justru merupakan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Rivaldy Varianto S.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Seperti yang sering terjadi dalam perjalanan karier, penolakan bukan akhir, tetapi titik belajar yang bisa mengubah “no” menjadi “next” ketika kita mau meminta umpan balik, memperbaiki diri, dan terus bertumbuh. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 hadir untuk membantu Anda membangun pola pikir tersebut, memperluas perspektif, dan mempersiapkan diri untuk melangkah ke peluang berikutnya dengan lebih siap dan percaya diri.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com
Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Konsultasi, Pertumbuhan
Rivaldy adalah Aerodynamics Engineer di Airbus UK yang berfokus pada optimalisasi kinerja pesawat agar efisien dan aman, sekaligus CEO Get Karier, platform yang dibangunnya untuk membantu profesional muda meraih karier global melalui e-book, mentoring, dan lokakarya. Tujuannya mengubah ambisi menjadi peluang nyata danterus mendorong generasi berikutnya untuk meraih kesuksesan di internasional.





