Feedback sebagai Alat Bertumbuh di Fase Mid-Career

Moose Photos, Pexels
Di awal karier saya, dengan pengalaman profesional yang belum mencapai lima tahun, kemampuan mengelola feedback adalah keterampilan yang sering diremehkan, padahal justru memiliki dampak paling besar. Saat itu, saya cukup rendah hati untuk menyadari bahwa saya belum benar-benar memahami apa pun tentang dunia yang begitu luas dan dinamis ini.
"Kamu seharusnya bisa lebih mengontrol emosi kamu dalam berinteraksi"
“Reporting kamu kurang data dan tidak memberikan inti summary. Bagaimana kamu bisa menyusun action plan yang solid dengan data seperti ini?”
“Kamu perlu memahami siapa audience kamu. Sesuaikan apa yang kamu sampaikan dengan point of view mereka. Mulai dari pemilihan kata, penyajian slide, hingga preferensi mereka. Karena merekalah yang harus kamu convince (yakinkan). You work for them.”
“Ketika seseorang berbicara dengan kamu, jangan melakukan hal lain meskipun itu urgent. Atau setidaknya izin terlebih dahulu tanpa mengabaikan mereka.”
"Kayaknya kamu bisa communicate it better ke rekan kerja kamu, your tone is not proper"
Feedback memang hampir selalu terasa tidak nyaman untuk didengar, meskipun sering dikategorikan sebagai constructive feedback yang banyak dianjurkan para pakar. Namun, bagi penerimanya, feedback kerap terdengar seperti kritik, hinaan, atau bahkan serangan personal yang berpotensi merusak relasi di antara dua pihak.
Diperlukan keikhlasan dan point of view sehat yang dibangun dengan sangat baik untuk membangun skill ini. Namun percayalah, ketika kita dapat me-manage feedback dalam bentuk apa pun, termasuk kritik yang disampaikan dengan keras dan cenderung menyakitkan, hal tersebut justru dapat menjadi batu loncatan yang sangat kuat untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih MANTAP.
I've been there. pernah berada pada fase di mana setiap feedback saya anggap sebagai sesuatu yang personal, seolah disampaikan karena ketidaksukaan pemberi feedback terhadap diri saya.
Namun kemudian saya menyadari bahwa feedback juga merupakan bentuk perhatian, dan saya perlu mengelola serta memanfaatkannya. Suatu kali, seseorang mengatakan kepada saya untuk memproses feedback seperti menggunakan saringan, bukan spons. Dan itulah yang saya lakukan setelah melalui percakapan yang baik dengan seorang teman dekat.
Hasilnya sangat terasa. Keterampilan ini membantu saya bertumbuh, mendapatkan promosi, serta membangun relasi yang sehat dengan seluruh stakeholder.
Baca Juga: Feedback Bukan Sekadar Kritik tapi Cara Membangun Performa dan Hubungan
Pada kenyataannya, feedback memang memicu berbagai aspek dalam diri penerimanya. It’s not easy to receive feedback. Proses mengenal diri sendiri pun ternyata tidak sederhana. Keinginan untuk berkembang sering kali berbenturan dengan kebutuhan dasar kita untuk diterima. Pemahaman ini semakin dalam saya rasakan setelah membaca buku Thanks for the Feedback karya Douglas Stone dan Sheila Heen.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa terdapat tiga pemicu utama yang sering membuat kita menolak feedback. Sering kali, tanpa kita sadari.
1. Truth Triggers
Ini terjadi saat kita merasa feedback yang diberikan keliru, tidak adil, atau tidak relevan. Fokus kita langsung tertuju pada upaya membantah isinya, bukan memahami maksud di baliknya.
2. Relationship Triggers
Reaksi kita dipengaruhi oleh siapa yang menyampaikan feedback. Bukan pesannya yang kita dengarkan, melainkan ego yang terusik. Hal ini sering terjadi ketika feedback datang dari bawahan atau seseorang yang jarang bekerja langsung dengan kita.
3. Identity Triggers
Merupakan pemicu paling sensitif. Feedback terasa mengancam karena seolah mempertanyakan kompetensi, nilai diri, atau siapa diri kita sebenarnya.
Memahami ketiga trigger ini membantu saya melihat feedback dengan lebih jernih. Tidak lagi sebagai serangan, melainkan sebagai sinyal untuk bertumbuh, bergantung pada bagaimana saya memilih untuk meresponsnya. Namun hal ini sangat manusiawi, karena tidak semua orang memiliki awareness dan pemahaman tentang feedback sejak awal perjalanan kariernya.
Menerima feedback sering kali menjadi lebih sulit karena dalam satu percakapan, kita bisa terpicu oleh lebih dari satu hal sekaligus. Saya teringat suatu waktu ketika saya mendapatkan feedback, “Kamu seharusnya bisa mengerjakan dan menyelesaikan ini lebih cepat.”
Saat itu, saya tidak benar-benar mendengar pesan di balik kalimat tersebut. Saya terpancing oleh apa yang saya anggap sebagai feedback yang tidak tepat:
"Maksudnya lebih cepat gimana? Saya sudah mengatur prioritas, mengerjakan beberapa hal sekaligus, dan berusaha menyelesaikan pekerjaan seefisien mungkin"
Di saat yang sama, saya juga terpancing oleh siapa yang menyampaikan feedback tersebut, "Ini orang main complaint aja nggak tau apa beban kerja lagi sebanyak apa? memang saya cuma mengurus member dia aja?"
Lebih dalam lagi, feedback tersebut menyentuh identitas diri saya. Saya melihat diri saya sebagai seseorang yang kompeten, dapat diandalkan, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, label “kurang cepat” terasa mengancam.
Setelah saya refleksikan, reaksi-reaksi itu justru membuat saya gagal menangkap pesan yang sesungguhnya. Feedback tersebut bukan semata tentang kecepatan, melainkan mengenai efektivitas cara kerja, bagaimana saya menetapkan prioritas, menyederhanakan proses, serta mengomunikasikan kendala sejak awal. Karena terlalu sibuk membela diri, saya melewatkan kesempatan untuk berdialog lebih sehat dan belajar lebih banyak dari feedback tersebut.
Suatu hari, dalam sesi one on one, manager saya mengingatkan saya yang dikenal ambisius ini. “The happiness and real progress lives in the process, not at the finish line. Growth happens along the way, not in the result.”
Sejak saat itu, saya berhenti memandang feedback sebagai ancaman atau bentuk ketidaksukaan orang lain terhadap saya. Sebaliknya, saya melihatnya sebagai tools penting dalam membangun karier. Hingga hari ini dan ke depannya, saya akan selalu berterima kasih kepada siapa pun yang memberikan feedback kepada saya dalam bentuk apa pun.
Namun tentu saja, tidak semua feedback harus diikuti. Di sinilah pentingnya memahami diri sendiri. Kita bukanlah spons yang menyerap semuanya. Kita adalah saringan.

Yan Krukau, Pexels
Lalu, bagaimana caranya menjadi saringan?
Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan awareness, being mindful, dan memiliki self-control yang baik.
Baca Juga: Mengapa Orang Indonesia Tidak Terbiasa dengan Feedback?
Setiap kali menerima feedback, kita dapat melatih diri dengan meningkatkan kesadaran diri. Menyadari apa yang sebenarnya terpicu dalam diri kita, apakah itu ego, emosi, maupun asumsi terhadap pemberi feedback.
Dengan kesadaran ini, kita belajar untuk tidak langsung bereaksi. Kita memberi jeda agar dapat berpikir lebih jernih. Di saat yang sama, kita melatih kemampuan menahan penilaian, mendengarkan tanpa buru-buru membenarkan atau menyalahkan, serta berani mengajukan klarifikasi demi memahami konteks dan maksud yang sebenarnya.
Namun, semua itu hanya dapat berjalan jika kita juga mampu mengelola diri sendiri. Menjaga energi fisik dan mental, serta membangun personal mastery agar tetap grounded dan tidak mudah goyah. Dalam tahapan ini, kita dapat menyaring feedback mana yang perlu di follow up dan mana yang tidak.
Sebagai seseorang yang mulai memasuki fase mid-career, memandang feedback sebagai alat untuk bertumbuh bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan. Terkadang, kita memang bertumbuh melalui proses yang tidak nyaman, bahkan terasa kasar. Namun, hal tersebut tidak berarti kita tidak bisa membangun lingkungan kerja dengan budaya feedback yang sehat.
Reframing feedback as a gift is a life hack.
Saya banyak belajar dari manager saya terkait hal ini. I wish everyone had, at least once in their life, a mentor like him. Pada akhirnya, feedback bukan tentang siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling bersedia untuk terus belajar.
Menutup tahun 2025, saya berharap banyak hal-hal baik dan penuh makna menyertai perjalanan kita semua. Karena bekerja memang melelahkan, tetapi menemukan makna di dalamnya membuat kita menjalaninya dengan lebih bahagia.
Happy new year everyone!
Kepemimpinan
Fathiyatus Syafigah adalah Lead Talent Acquisition & Employee Branding di Unicharm, berfokus pada strategi rekrutmen dan program pembelajaran untuk memperkuat talent pipeline. Pendekatannya menggabungkan praktik terbaik korporasi dengan solusi yang lincah dan relevan untuk membangun fondasi HR yang berkelanjutan.





