Skill Terpenting di Era AI Bukan Teknologi, Melainkan…

Markus Spiske, Pexels
Ada satu hal yang menurut saya cukup ironis. Sejak kecil, kita menghabiskan belasan bahkan puluhan tahun di bangku sekolah dan perguruan tinggi.
Kita mempelajari matematika, sejarah, fisika, akuntansi, manajemen, hukum, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Namun, ada satu kemampuan yang hampir tidak pernah diajarkan secara serius.
Yaitu bagaimana cara belajar dengan efektif.
Bayangkan. Kita menghabiskan sebagian besar hidup menggunakan sebuah alat, tetapi tidak pernah benar-benar diajarkan cara mengoptimalkan penggunaannya.
Situasinya seperti seseorang yang membeli mobil mewah, mengendarainya setiap hari selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah mempelajari cara merawat mesinnya.
Kemudian ia bertanya-tanya mengapa performanya terus menurun.
Saat membaca buku The Only Skill That Matters karya Jonathan A. Levi, saya merasa seperti mendapat tamparan yang cukup keras.
Buku ini menyadarkan saya bahwa di era ketika informasi tersedia di mana saja, tantangan terbesar bukan lagi kurangnya informasi. Tantangan terbesar justru terletak pada ketidakmampuan kita mengolah informasi tersebut.
Barangkali inilah yang menjelaskan mengapa sebagian orang terus berkembang sementara yang lain tertinggal.
Bukan karena mereka lebih cerdas, tetapi karena mereka belajar lebih cepat.
Dunia Tidak Lagi Menghargai Apa yang Anda Ketahui
Dahulu, pengetahuan merupakan keunggulan kompetitif.
Hari ini?
Google atau ChatGPT mengetahui jauh lebih banyak. Pengetahuan semakin mudah diakses dan nilainya semakin murah.
Yang menjadi semakin berharga adalah kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan menerapkan pengetahuan baru dengan cepat.
Ibarat sebuah smartphone, nilai sebuah ponsel tidak ditentukan oleh banyaknya aplikasi yang sudah terpasang. Nilainya terletak pada kemampuannya untuk terus menginstal aplikasi baru ketika kebutuhan berubah.
Hal yang sama berlaku bagi manusia.
Yang membuat seseorang tetap relevan bukanlah apa yang sudah ia ketahui. Yang menentukan adalah seberapa cepat ia mampu mempelajari hal-hal baru.
Inilah tesis utama Jonathan A. Levi. Learning how to learn is the ultimate meta-skill. Belajar cara belajar merupakan keterampilan induk yang melahirkan berbagai keterampilan lainnya.
Baca Juga: Langkah Awal Membangun Kebiasaan Kepemimpinan yang Efektif
Skill yang Mengalahkan Bakat
Banyak orang meyakini bahwa kesuksesan ditentukan oleh bakat.
Semakin hari saya justru semakin meragukannya. Dalam kehidupan nyata, saya lebih sering melihat kebalikannya. Orang biasa yang terus belajar pada akhirnya mampu melampaui orang berbakat yang berhenti belajar.
Jonathan Levi menunjukkan bahwa otak manusia jauh lebih fleksibel daripada yang selama ini kita bayangkan.
Permasalahannya bukan pada kapasitas, melainkan pada metode.
Banyak dari kita belajar dengan cara yang kurang tepat. Membaca berulang kali. Menghafal tanpa benar-benar memahami. Mengonsumsi informasi tanpa pernah menggunakannya.
Akibatnya, kita merasa sedang belajar, padahal sebenarnya hanya menghabiskan waktu bersama informasi.
Ada perbedaan besar antara membaca buku dan benar-benar menyerap isinya. Ada perbedaan besar antara mengikuti pelatihan dan mengalami transformasi yang nyata.
Pelajaran untuk Karier
Bagian ini menurut saya sangat relevan. Karier modern tidak lagi berjalan seperti dahulu.
Dulu, seseorang dapat mengandalkan satu keahlian selama 30 tahun.
Hari ini? Belum tentu.
Skill yang relevan saat ini bisa saja menjadi usang dalam lima tahun ke depan.
Artificial Intelligence mengubah cara kita bekerja. Otomasi mengubah proses bisnis. Transformasi digital mengubah model organisasi.
Akibatnya, karier bukan lagi perlombaan tentang siapa yang paling pintar. Karier adalah perlombaan tentang siapa yang paling mampu beradaptasi.
Saya sering bertemu profesional yang merasa tertinggal. Bukan karena mereka tidak kompeten, melainkan karena mereka berhenti belajar setelah mencapai jabatan tertentu.
Padahal, dunia tidak pernah berhenti berubah.
Jika ingin tetap relevan, jadilah pembelajar yang agresif, bukan pembelajar yang pasif.
Pelajaran untuk Bisnis
Prinsip yang sama juga berlaku dalam dunia bisnis.
Banyak perusahaan gagal bukan karena kekurangan modal, tetapi karena gagal belajar.
Mereka terlalu lama mempertahankan asumsi lama. Terlalu percaya pada formula sukses masa lalu. Terlalu lambat membaca perubahan pasar.
Kodak pernah menjadi raksasa fotografi. Nokia pernah mendominasi industri telepon seluler. Blockbuster pernah menguasai bisnis penyewaan film.
Mereka tidak kalah karena kurang cerdas. Mereka kalah karena gagal belajar lebih cepat dibandingkan perubahan yang terjadi.
Dalam dunia bisnis, kemampuan organisasi untuk belajar sering kali lebih penting daripada strategi itu sendiri. Sebab strategi yang sangat efektif hari ini bisa menjadi tidak relevan keesokan harinya.
Pelajaran untuk Kehidupan
Bagian yang paling menarik dari buku ini justru bukan tentang karier maupun bisnis, melainkan tentang kehidupan.
Banyak orang berhenti berkembang ketika rasa ingin tahunya menghilang.
Mereka merasa sudah tahu, merasa cukup, atau menganggap tidak perlu belajar lagi. Padahal kehidupan adalah proses pembelajaran yang tidak pernah benar-benar berakhir.
Setiap orang yang kita temui membawa pelajaran. Setiap kegagalan menyimpan pelajaran. Setiap keberhasilan juga menghadirkan pelajaran.
Persoalannya bukan apakah pelajaran itu ada. Persoalannya adalah apakah kita cukup rendah hati untuk mempelajarinya.
Cara Praktis Menerapkannya
Dari buku ini, saya mengambil beberapa kebiasaan sederhana.
1. Belajar dengan Tujuan - Jangan membaca hanya untuk menambah informasi. Bacalah untuk membantu menyelesaikan masalah.
2. Ajarkan Kembali - Jika Anda tidak mampu menjelaskan sesuatu dengan sederhana, besar kemungkinan Anda belum benar-benar memahaminya.
3. Kurangi Konsumsi, Perbanyak Implementasi - Banyak orang kecanduan belajar, tetapi hanya sedikit yang kecanduan menerapkan apa yang dipelajari. Padahal pengetahuan tanpa tindakan tidak lebih dari sekadar hiburan intelektual.
4. Jadwalkan Waktu Belajar - Belajar bukanlah aktivitas yang dilakukan dari sisa waktu. Belajar harus menjadi salah satu agenda utama.
Baca Juga: Belajar dengan Ritme Sendiri
Mindblown Moment
Setelah menutup buku ini, saya mendapatkan satu kesadaran yang cukup mengubah cara pandang saya.
Kita sering menganggap bahwa aset terbesar adalah pengalaman. Padahal pengalaman juga bisa menjadi jebakan.
Sebab pengalaman kerap membuat kita merasa sudah mengetahui segalanya. Yang lebih penting daripada pengalaman adalah kemampuan untuk terus memperbarui diri.
Mungkin di situlah letak perbedaan antara orang yang tetap relevan dan mereka yang perlahan tertinggal.
Bukan usia, gelar, jabatan, ataupun banyaknya pengalaman. Melainkan kemampuan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang paling banyak mengetahui sesuatu. Masa depan akan dimenangkan oleh mereka yang paling cepat belajar.
Karena di dunia yang berubah setiap hari, kemampuan belajar bukan lagi sekadar keunggulan. Kemampuan tersebut telah menjadi mekanisme untuk bertahan hidup.
Mungkin itulah alasan Jonathan A. Levi menyebutnya sebagai The Only Skill That Matters.
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Agung Setiyo Wibowo.
Kepemimpinan
Agung merupakan seorang konsultan, self-discovery coach, dan trainer yang telah menulis lebih dari 50 buku best seller.




