Peran Hobi dalam Meningkatkan Inovasi Organisasi

Lifestylememory, Freepik
Selama masa sekolah, saya tidak terlalu tertarik pada akademik dibandingkan dengan kegiatan ekstrakurikuler dan hobi. Para guru tidak melarangnya, tetapi sering mendorong saya untuk lebih fokus pada akademik. Gagasannya adalah bahwa apa yang saya lakukan merupakan sesuatu yang ‘tambahan’, sehingga akan lebih baik jika waktu dialokasikan untuk akademik. Pola pikir serupa juga berlaku di tempat kerja. Karyawan diharapkan mengalokasikan waktu paling produktif mereka untuk bekerja sesuai dengan deskripsi pekerjaan.
Dengan meningkatnya ketergantungan pada otomatisasi dan meningkatnya burnout karyawan, keunggulan kompetitif perusahaan akan semakin bergantung pada kapabilitas manusia, karena proses otomatisasi akan serupa di antara para pesaing. Kapabilitas manusia yang tidak dapat digantikan oleh Artificial Intelligence (AI) seperti creative thinking, systems thinking (pemikiran sistem), critical thinking (berpikir kritis), pemecahan masalah lintas domain, dan empati akan menjadi pembeda utama di masa depan. Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menyebutkan bahwa pemberi kerja menghargai pemikiran analitis, ketahanan, fleksibilitas, kelincahan, kepemimpinan dan pengaruh sosial, creative thinking, serta empati dan mendengarkan secara aktif di antara karyawan. Banyak keterampilan yang dicari oleh pemberi kerja ini dianggap sebagai keterampilan ‘soft’ (lunak), tetapi menjadi semakin penting seiring waktu karena keterampilan ‘hard’ (teknis) konvensional semakin banyak diotomatisasi.
Namun, karyawan menghadapi berbagai tantangan di tempat kerja yang menghambat mereka untuk mewujudkan potensi penuh mereka. Laporan State of the Global Workplace 2025 dari Gallup menunjukkan bahwa hanya 21% karyawan dan 27% manajer yang tetap ‘terlibat’ dengan pekerjaan mereka. Sekitar 62% karyawan dilaporkan ‘tidak terlibat’ dan sekitar 17% dilaporkan ‘secara aktif tidak terlibat’ dari pekerjaan mereka. Hanya 33% karyawan yang menilai hidup mereka sebagai ‘berkembang’, sementara 58% melaporkannya sebagai ‘berjuang’ dan 9% sebagai ‘menderita’. Emosi harian seperti stres, kemarahan, kesedihan, dan kesepian juga dilaporkan dalam jumlah yang signifikan. Laporan tersebut memperkirakan bahwa jika tenaga kerja global sepenuhnya terlibat, hal itu akan menambah US$9,6 triliun terhadap PDB global, yang saat ini masih belum dimanfaatkan.
Baca Juga: Keterlibatan Karyawan
Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk melibatkan karyawan secara aktif dalam pekerjaan mereka, yang dapat terjadi ketika karyawan menemukan tujuan dalam pekerjaan mereka dan juga merasakan rasa memiliki. Hobi dan aktivitas kreatif memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Profesi mungkin tidak selalu dipilih oleh karyawan, tetapi hobi selalu merupakan pilihan pribadi. Oleh karena itu, dalam kehidupan profesional, hobi harus dihargai secara independen karena nilainya sendiri dan karena kontribusi yang dapat diberikannya terhadap pekerjaan.

Pikisuperstar, Freepik
Sebuah penelitian tahun 2023 yang melibatkan 93.263 orang di 16 negara menyatakan bahwa memiliki hobi dapat dikaitkan dengan kesejahteraan mental, lebih sedikit gejala depresi, dan kepuasan hidup yang lebih tinggi. Penelitian lain pada tahun 2019 menemukan bahwa cross-domain influences dari keterampilan kreatif bersifat luas, yang menunjukkan bahwa kreativitas dari satu aktivitas dapat memengaruhi aktivitas lain.
Oleh karena itu, keterampilan yang terkait dengan hobi karyawan dapat dimanfaatkan dalam pekerjaan. Selain itu, mendorong hobi dapat mencegah burnout dan meningkatkan kesejahteraan karyawan, yang berpotensi meningkatkan produktivitas secara signifikan. Hobi karyawan merupakan cara yang dapat diskalakan dan hemat biaya untuk mengembangkan kapabilitas tersebut, meningkatkan kesejahteraan, dan membuka inovasi. Sudah saatnya memindahkan hobi dari posisi marginal dalam HR ke pusat strategi talenta.
Perusahaan-perusahaan terkemuka telah mulai melembagakan dukungan terhadap hobi karyawan untuk memanfaatkan potensi mereka yang sebenarnya. Aturan ‘20% rule’ dari Google telah lama menginspirasi karyawan untuk mengalokasikan waktu mereka pada proyek yang mereka arahkan sendiri, yang didasarkan pada keyakinan bahwa otonomi mendorong inovasi. Dengan cara ini, organisasi mendapatkan manfaat dari kreativitas karyawan. Acara ShipIt dari Atlassian yang berlangsung setiap kuartal mendorong karyawan untuk membentuk tim cross-functional dan menyelesaikan masalah yang mereka pedulikan secara mandiri, yang menghasilkan siklus make-test-learn (buat-uji-pelajari) dalam 24 jam.
Kickbox dari Adobe mendukung karyawan dengan kit intrapreneurship DIY yang membantu menyediakan pelatihan, pendanaan awal, dan tools untuk memungkinkan karyawan memvalidasi ide dengan cepat, tanpa penyaringan manajerial. Praktik seperti ini telah diadopsi oleh berbagai perusahaan di berbagai wilayah untuk meningkatkan keterlibatan karyawan serta meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Hal ini menunjukkan bahwa kebebasan yang terstruktur dapat menghasilkan hasil inovatif.
Apa yang Dapat Dilakukan Pemimpin untuk Membuka Kreativitas
- Tetapkan niat yang jelas di tingkat eksekutif: Memberikan sinyal bahwa creative pursuits (aktivitas kreatif) adalah aset strategis dan bagian dari agenda talenta dan inovasi, bukan proyek sampingan. Sertakan perencanaan pada tingkat makro, seperti skills shift di pasar, dan tingkat mikro, seperti risiko kesejahteraan, untuk meningkatkan efektivitas.
- Ciptakan waktu dan ruang: Pemberi kerja dapat memilih salah satu dari tiga model yang telah terbukti, yaitu mengalokasikan sebagian waktu khusus untuk aktivitas kreatif, mengadakan hackathon (maraton inovasi) secara berkala, dan memberikan dukungan untuk menguji ide. Hal ini menghasilkan pengelolaan terstruktur atas waktu dan upaya karyawan menuju arah strategis.
- Integrasikan hobi dengan design thinking dan systems thinking: Mendorong hobi kreatif seperti melukis, musik, dan fotografi sebagai input untuk prototyping dan storytelling dapat meningkatkan keterampilan design thinking karyawan. Demikian pula, mendorong hobi strategis seperti permainan strategi, musik ensemble, dan berkebun, yang membantu pengenalan pola dan pemikiran umpan balik berulang, dapat meningkatkan keterampilan systems thinking karyawan.
- Bangun sistem pengakuan: Menciptakan sistem untuk mengakui upaya kreatif secara publik, bukan hanya hasil, dapat menjadi dorongan halus untuk secara bertahap membangun budaya kerja di mana upaya kreatif menjadi tidak terikat.
- Ukur hal yang benar-benar penting: Merancang indikator yang mengukur konversi energi pribadi menjadi hasil organisasi sangat penting. Indikator tersebut dapat dibangun berdasarkan tema seperti partisipasi karyawan, keterampilan yang dipelajari, arus ide, keterlibatan dan kesejahteraan, serta dampak bisnis
Baca Juga: Berani Menolak Pekerjaan Demi Prioritas
Karena kreativitas bersifat subjektif, algoritma tidak dapat dilatih untuk melakukannya seperti manusia. Oleh karena itu, sisi kreatif manusia telah membuka kemungkinan baru ketika produktivitas semakin diotomatisasi. Mengintegrasikan hobi ke dalam pekerjaan profesional dapat membantu pekerja mencapai ikigai (makna hidup) mereka dan membuka potensi penuh mereka. Antusiasme Steve Jobs terhadap kaligrafi mendorongnya untuk mengikuti kelas tersebut, yang tampak tidak relevan, tetapi akhirnya sangat membantu saat merancang Macintosh pertama. Kebijakan InDay (Hari Inovasi) dari LinkedIn mendorong karyawan untuk menjalankan tugas mandiri yang mereka anggap bermakna dan bertujuan sekali setiap bulan, yang memberikan tujuan yang lebih besar yang terintegrasi dengan pekerjaan mereka dan menghasilkan kepuasan hidup. Diyakini bahwa satu hari tersebut memberi energi kepada karyawan untuk sepanjang bulan.
Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa hobi bukanlah gangguan dari ‘pekerjaan utama’, melainkan merupakan pengungkit praktis yang harus dikembangkan oleh pemimpin dalam budaya organisasi mereka untuk membentuk systems thinkers, melindungi kesehatan mental, dan mempertahankan inovasi. Dalam dunia yang dipercepat oleh AI saat ini, sumber daya yang paling langka dan paling berharga adalah kreativitas manusia yang penuh energi dan out-of-the-box thinking (pemikiran di luar kebiasaan). Organisasi yang merancang dukungan terhadap hobi melalui waktu, tools, dan kepercayaan akan memimpin dekade ide berikutnya.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Di era di mana kreativitas, empati, dan pemikiran lintas disiplin menjadi pembeda utama kepemimpinan, energi dan inspirasi sering justru lahir dari kehidupan di luar pekerjaan, termasuk melalui hobi dan minat pribadi. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 dirancang untuk membantu Anda membuka potensi tersebut, memperluas cara berpikir, dan mengembangkan kepemimpinan yang lebih kreatif, reflektif, dan berdampak di tengah dunia kerja yang terus berubah.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Pertumbuhan
Aakash Bajpai adalah mahasiswa MBA di Indian Institute of Forest Management yang menulis tentang kebijakan publik dan strategi.





