Kebaikan Self-Talk untuk Kesehatan Mental dan Emosional

Rawpixel, Freepik
Saat asyik menggulir media sosial pada pagi hari, saya tertarik pada sebuah posting di Threads oleh Dr. Datin Hjh Mahidah. Ia menceritakan tentang sebuah penelitian yang pernah dilakukan pada tahun 2003. Dalam penelitian tersebut, seorang ahli imunologi perilaku yang mempelajari pola penyakit kronis menemukan sesuatu yang tidak biasa.
Kelompok yang hampir tidak pernah jatuh sakit, tidak mengalami burnout, tidak mengalami flu berkepanjangan, semuanya memiliki satu kebiasaan yang tidak biasa. Mereka berbicara kepada diri sendiri secara lantang. Di supermarket, saat mengemudi, bahkan ketika berjalan sendirian. Bukan karena mereka tidak stabil, tetapi karena tanpa sadar mereka sedang mengatur ulang sistem saraf mereka.
Peneliti tersebut memasang alat pemantau pada para sukarelawan untuk melacak kadar kortisol dan penanda imun secara real-time. Sesuatu yang mengejutkan terjadi. Begitu seseorang mengungkapkan pikirannya secara verbal, hormon stres mereka turun hingga 35%. Namun mereka yang tetap diam menunjukkan kadar kortisol yang tinggi selama berjam-jam. Seorang peneliti berkata:
Tubuh Anda memperlakukan emosi yang ditekan seperti racun yang tidak dapat dibuang.
Seorang eksekutif berprestasi tinggi dalam penelitian tersebut juga berbagi:
Saya bangga karena tidak pernah mengungkapkan apa yang saya rasakan. Kemudian mereka menunjukkan penanda imun saya, dan saya memiliki profil peradangan seperti pasien penyakit kronis. Pada hari saya mulai menyuarakan stres saya di ruangan kosong, hasil saya berubah dalam seminggu.
Mekanismenya sederhana. Ketika kita bersuara, hal ini mengaktifkan vagus nerve, memperlambat detak jantung, dan memberi sinyal kepada sistem imun untuk berhenti bertindak seolah-olah tubuh sedang diserang. Peneliti tersebut menyebut fenomena ini sebagai “pencernaan yang dapat didengar”, yaitu pikiran perlu mencerna emosi sebagaimana tubuh mencerna makanan.
Temuan yang paling menyakitkan adalah ini. Mereka yang dibesarkan dengan ajaran “bertahan dan diam” menunjukkan penekanan sistem imun yang paling parah. Seorang dokter merangkum hal ini dengan tegas:
Sistem imun Anda mencerminkan cara Anda berkomunikasi. Apa yang Anda tidak ungkapkan, tubuh Anda berhenti lindungi.
Menurutnya, sebagian besar penyakit kronis dimulai dari keheningan yang terkunci dalam sistem saraf.
Menariknya, konsep mengekspresikan emosi ini tidak hanya dibahas dalam penelitian modern, tetapi juga disebut dalam kisah para nabi. Nabi Ya’qub A.S. pernah berdoa:
Aku hanya mengadukan kesusahanku dan kesedihanku kepada Allah.” – Surah Yusuf 12:86
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa Nabi Ya’qub mengekspresikan kesedihannya dengan suara, bukan hanya memendamnya di dalam hati.
Apa itu Self-Talk?
Self-talk adalah berbicara kepada diri sendiri secara positif. Praktik ini dapat membantu seseorang membuat keputusan dengan lebih tepat dan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi masalah kehidupan.
Melalui positive self-talk, seseorang akan terdorong untuk berpikir positif, optimis, termotivasi, dan selalu berusaha melihat sisi baik dalam setiap situasi.
Manfaat Self-Talk
Melalui pembahasan ini, jelas bahwa berbicara kepada diri sendiri dapat memberikan berbagai manfaat. Kita juga dapat mempraktikkan self-talk positif karena membantu meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi.
Self-talk bukan sekadar kata-kata, tetapi merupakan bentuk harapan dan latihan untuk berprasangka baik terhadap apa yang terjadi saat ini dan di masa depan. Praktik ini dapat mengurangi stres dan risiko depresi. Praktik ini juga membantu kita mengembangkan pola pikir yang lebih optimis saat menghadapi situasi sulit.
Kepemimpinan
Berlatarkan pendidikan di bidang Bahasa dan Linguistik Melayu, Amirah Nadiah gemar membaca dan mengikuti perkembangan terkini, sehingga membuatnya tetap peka terhadap berbagai isu. Sebagai Content Editor, ia aktif dalam pekerjaan terjemahan serta pembuatan konten yang menarik dan meyakinkan.





