Berinovasi Seperti Hiu dalam Film Jaws

Oleh Simon Sinek|06-05-2022 | 3 Min Read
Source: George Desipris dari Pexels.com
'Less is more' ala film Jaws

Tahun 1975 silam, seorang sutradara muda ingin membuat film horor. Steven Spielberg ingin filmnya diisi dengan serangan hiu yang brutal dan berdarah-darah. Dia ingin kita melihat hewan besar ini diam-diam menyerang mangsanya yang tidak menaruh curiga. Namun, Spielberg menghadapi masalah. Hiu mekanik yang seharusnya memainkan peran utama dalam film jarang sekali bekerja seperti yang diharapkan. Meskipun sang sutradara muda sangat menginginkan serangan brutal dari hiu tersebut, realita tidak berjalan seperti harapannya.

Frustasi karenanya, tim Spielberg kemudian menemukan solusi. Mereka akan membiarkan penonton berimajinasi soal aksi brutal sang hiu. Penonton akan melihat sirip, lalu seseorang menghilang di dalam air, dan air berubah menjadi kemerahan. Sesimpel itu. Bahkan kita tidak akan melihat sirip di adegan lain. Barel kuning justru mengambang perlahan ke arah korban selanjutnya, karena ditarik oleh hiu menggunakan tali yang terikat pada barel tersebut. Alhasil, efeknya sukses menakutkan penonton.

Meskipun orang-orang mengetahui keberadaan hiu, kita tidak terlalu memikirkannya ketika pergi ke pantai. Namun, film Jaws berhasil membuat penontonnya was-was. Lucunya, tiap tahunnya lebih banyak orang meninggal dibunuh anjing daripada oleh hiu semenjak orang-orang mulai menghitung serangan hiu karena film Jaws.

Cara brilian Spielberg menceritakan film Jaws tentu saja tidak direncanakan. Itu adalah solusi yang dia temukan ketika rencana awalnya gagal. Ya, hiu mekanik yang tidak berfungsi memaksanya untuk mencari solusi lain.

Baca juga: Mau Inovasi? Hadirkan Pengalaman!

Kita memiliki anggapan keliru bahwa inovasi akan muncul dengan uang dan sumber daya yang melimpah. Padahal, kisah Spielberg menunjukkan sebaliknya. Dengan keterbatasan sumber daya yang mereka miliki, tim Spielberg berhasil mengatasi kegagalan rencana awal mereka dengan lahirnya inovasi lain. Inilah sebabnya mengapa perusahaan besar jarang menghasilkan produk yang benar-benar inovatif karena mereka memiliki uang dan sumber daya untuk membangun apapun yang mereka inginkan.

Pasalnya, perusahaan besar tidak dipaksa untuk menemukan cara-cara baru. Bisnis kecil, sebagai perbandingan, adalah tempat munculnya ide-ide besar. Dengan sedikit uang dan sumber daya, mereka mencari cara untuk membuat sesuatu bekerja dengan apa yang mereka miliki. Tidak heran bila perusahaan besar membeli bisnis kecil untuk ide-ide besar mereka.

Di sisi lain, Spielberg juga lulusan jurusan film. Tanpa hiu mekaniknya, dia bisa menggunakan ilmunya untuk memikirkan solusi lain. Dia tahu teknik yang digunakan Alfred Hitchcock dalam filmnya untuk membangun ketegangan dengan musik mendebarkan, detail sederhana, dan scene setelah kejadian. Spielberg tahu bahwa ketegangan muncul dalam imajinasi kita, bukan di depan mata kita. Meskipun dia tahu ini, dia tidak memanfaatkan ilmunya sampai dia harus melakukannya. 

Dan begitulah tentang ‘less is more’. Ada banyak orang cerdas di perusahaan besar yang tidak memanfaatkan kelebihannya karena mereka tidak butuh. Mereka memiliki semua sumber daya yang dibutuhkan. Sebaliknya, pengusaha cerdas tidak punya pilihan selain mengandalkan kecerdasan mereka. Itulah sebabnya mereka tidak pernah kehabisan ide untuk berinovasi.

Inovasi tidak lahir dari mimpi, namun lahir dari perjuangan. Pada intinya, inovasi bukan hanya tentang membangun masa depan; inovasi adalah tentang memecahkan masalah di masa sekarang. Dan inovasi terbaik, seperti hiu dalam film Jaws, sering kali merupakan sesuatu yang sudah ada tapi kita luput mencarinya.

Artikel ini diterjemahkan dari: How to Innovate Like A Shark

Tonton juga:


Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Kepemimpinan Tanpa Batas

Simon Oliver Sinek merupakan seorang pembicara dan penulis buku terlaris Start With Why dan The Infinite Game.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.