Apakah Anda Sedang Menjaga Cat yang Sudah Kering?

Sergey Meshkov, Pexels
Kemarin, saya menerima sebuah gambar WhatsApp dari seorang teman yang berisi cerita singkat. Cerita tersebut langsung membuat saya merenung tentang organisasi dan tim saya sendiri. Bahkan, dalam kehidupan pribadi maupun organisasi, kita sering kali melakukan hal-hal yang tidak bermakna, tidak produktif, dan hanya membuang waktu.
Berikut adalah inti cerita tersebut:
Seorang komandan kamp yang baru dilantik sedang melakukan inspeksi pertamanya ketika ia menemukan pemandangan yang aneh. Dua orang prajurit berdiri berjaga di samping sebuah bangku kayu tua. Dengan rasa penasaran, ia bertanya, “Mengapa kalian menjaga bangku ini?”
Para prajurit itu mengangkat bahu. “Kami tidak tahu, Pak. Komandan sebelumnya yang memerintahkan, dan kami hanya mengikuti tradisi.”
Kebingungan, sang komandan kemudian menghubungi beberapa komandan sebelumnya. Masing-masing memberikan jawaban yang sama. “Saya tidak tahu. Komandan sebelum saya yang memulainya, dan saya hanya melanjutkan tradisi.”
Akhirnya, ia berhasil menemukan seorang jenderal pensiunan yang pernah memimpin kamp tersebut puluhan tahun lalu. Sambil tertawa keras, sang jenderal berkata, “Apa? Mereka masih menjaga bangku itu? Saya hanya menyuruh beberapa orang untuk menjaganya selama beberapa jam saat catnya sedang mengering!”
Dan begitulah, selama enam puluh tahun, para prajurit membuang waktu dan energi untuk menjaga cat yang sudah kering, semua atas nama tradisi.
Baca Juga: Bagaimana Anda Tetap Melangkah Ketika Visi Kreatif Anda Dikritik?
Pelajaran yang Bisa Diambil
Cerita sederhana ini menggambarkan bahaya mengikuti tradisi dan status quo secara membabi buta tanpa pernah mempertanyakan tujuannya. Apa yang awalnya merupakan instruksi praktis berubah menjadi ritual yang tidak bermakna karena tidak ada yang berani bertanya “mengapa”.
Fenomena ini sangat umum terjadi di banyak organisasi, bahkan dalam kehidupan kita sendiri. Karena itu, penting untuk meluangkan waktu guna meninjau kembali berbagai kebiasaan dan praktik yang ada.
Bahaya Mengikuti Tradisi Tanpa Pertanyaan
Berikut beberapa temuan riset yang memperkuat pesan dari cerita ini. Ini bukan hal yang aneh, justru cukup umum di tempat kerja dan dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari pemborosan hingga terhambatnya inovasi.
1. Pemborosan Organisasi
Riset dari Harvard Business Review tahun 2015 menemukan bahwa hingga 30% proses organisasi merupakan “ritual” yang tidak memiliki nilai terukur, namun tetap dipertahankan karena “memang sudah seperti itu dari dulu”.
Sementara itu, McKinsey & Company memperkirakan bahwa perusahaan membuang 20 hingga 30% sumber daya setiap tahun akibat prosedur usang yang tidak pernah dipertanyakan.
2. Groupthink dan Stagnasi
Psikolog sosial Irving Janis melalui konsep groupthink menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap praktik lama dapat menekan kreativitas dan pemikiran kritis.
Peristiwa Space Shuttle Challenger disaster menjadi contoh tragis. Para insinyur NASA tetap mengikuti norma yang ada meskipun terdapat tanda peringatan yang jelas, yang akhirnya berujung pada bencana.
3. Dampak Budaya dan Sosial
Survei tahun 2020 dari Deloitte menunjukkan bahwa 52% karyawan merasa terjebak dalam praktik kerja yang sudah usang. Hal ini menyebabkan rendahnya keterlibatan dan menurunnya inovasi.
Dalam keluarga dan masyarakat, tradisi juga dapat mempertahankan stereotip atau praktik yang merugikan jika tidak pernah dipertanyakan. World Bank mencatat bahwa di banyak wilayah berkembang, tradisi yang kaku terkait peran gender membatasi partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
4. Hukuman bagi Inovasi
Riset dari Clayton Christensen melalui konsep The Innovator’s Dilemma menunjukkan bahwa pemimpin industri sering gagal karena terlalu terpaku pada praktik lama, sementara pendatang baru berani mengajukan pertanyaan baru.
Contohnya adalah Kodak, yang tetap bertahan pada tradisi film fotografi meskipun teknologi digital sudah berkembang. Hal ini akhirnya berujung pada kebangkrutan.
Penutup
Tradisi bisa menjadi sesuatu yang indah ketika memberikan makna, akar, dan identitas. Namun, ketika tradisi berubah menjadi kebiasaan tanpa makna, ia hanya menjadi seperti prajurit yang menjaga bangku yang tidak lagi perlu dijaga.
Baik pemimpin, organisasi, maupun keluarga, perlu terus bertanya: “Mengapa kita masih melakukan ini? Apakah masih relevan, atau kita hanya sedang menjaga cat yang sudah kering?”
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Banyak organisasi tanpa sadar terjebak dalam kebiasaan lama yang sudah tidak relevan, padahal kepemimpinan yang efektif menuntut keberanian untuk mengevaluasi dan menantang status quo. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 (24 Juni – 1 Juli 2026) membantu Anda membangun pola pikir tersebut agar mampu memimpin dengan lebih sadar dan berdampak.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Kepemimpinan





