Bisakah Anda Melatih Pikiran untuk Menjadi Sakit?

Lummi AI
Kebiasaan buruk dapat tertanam dalam jaringan saraf kita dengan mudah, sama seperti kebiasaan baik. Seperti yang sudah diketahui, neuron yang aktif bersama akan saling terhubung. Alvaro Pascual-Leone mengingatkan bahwa perubahan plastis tidak selalu menghasilkan peningkatan perilaku bagi seseorang.
Hal ini menarik perhatian saya:
Selain menjadi mekanisme untuk perkembangan dan pembelajaran, plastisitas juga dapat menjadi penyebab patologi. Tidak mengherankan jika neuroplastisitas dikaitkan dengan berbagai gangguan mental, mulai dari depresi hingga gangguan obsesif-kompulsif dan tinnitus. Semakin seseorang memusatkan perhatian pada gejala, semakin dalam gejala tersebut terukir dalam sirkuit saraf. Dalam kasus terburuk, pikiran pada dasarnya melatih dirinya sendiri untuk menjadi sakit.
~ Nicholas Carr, The Shallows
Mari kita pahami lebih dalam. Neuroplastisitas merujuk pada kemampuan otak untuk mengatur ulang dirinya dengan membentuk koneksi saraf baru. Proses ini dipengaruhi oleh pola pikir, pengalaman, pembelajaran, bahkan cedera.
Selama ini, neuroplastisitas sering dibahas dalam konteks pemulihan dan peningkatan, seperti mendapatkan kembali kemampuan bergerak setelah stroke atau mempelajari keterampilan baru. Namun, pada saat yang sama, proses ini juga dapat berkontribusi pada bertahannya kondisi tertentu, seperti nyeri kronis, kecemasan, dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya.
Dalam beberapa kasus, otak dapat “belajar” untuk tetap berada dalam kondisi sakit akibat perubahan neuroplastisitas yang tidak adaptif. Otak menciptakan sinyal bahaya yang terus-menerus, yang memicu gejala seperti rasa sakit, kelelahan, dan kecemasan yang meningkat. Gejala ini bukan sekadar imajinasi, melainkan perubahan neurologis nyata yang dipengaruhi oleh neuroplastisitas.
Namun, di sinilah kabar baiknya. Otak juga dapat dilatih kembali. Kemampuan otak untuk berubah bekerja ke dua arah. Ia dapat memperkuat kondisi sakit, tetapi juga dapat mendukung proses penyembuhan.
Cara Melatih Pikiran agar Tetap Sehat
Meski tidak selalu mudah, cobalah untuk mengisi hari Anda dengan sebanyak mungkin hal positif:
- Berolahraga
- Bermain atau mendengarkan musik
- Menghabiskan waktu bersama orang-orang yang bahagia dan tangguh
- Membaca kisah yang menginspirasi
- Berjalan di alam
- Menulis puisi
- Membantu orang lain
- Lebih sering tersenyum
- Lebih banyak tertawa
- Memulai jurnal rasa syukur
- Mengajak anjing berjalan-jalan
- Mengurangi konsumsi berita
- Berhenti mengeluh
- Berdoa, bermeditasi, atau mengambil waktu hening
- Membaca novel yang epik
Baca Juga: Kebiasaan Tersembunyi yang Bisa Melindungi Kesehatan Otak
Kemungkinannya tidak terbatas, dan sebenarnya Anda sudah mengetahuinya.
Kita membutuhkan kebahagiaan seperti kita membutuhkan udara. Kita membutuhkan cinta seperti kita membutuhkan air. Kita membutuhkan satu sama lain.
~ Maya Angelou
Ingat, dengan usaha yang konsisten dan disengaja, otak Anda dapat dilatih untuk mendukung kesehatan Anda.
Terima kasih sudah membaca. Anda adalah seseorang yang genius!
Artikel ini pertama kali dipublikasikan di koran Brain Bulletin milik Terry Small.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Pola pikir yang terus-menerus berfokus pada hal negatif dapat “melatih” otak untuk memperkuat stres, kecemasan, bahkan rasa tidak sehat, karena otak belajar dari apa yang kita ulangi setiap hari. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 (24 Juni – 1 Juli 2026) membantu Anda membangun pola pikir yang lebih sehat, memperkuat kesadaran diri, dan memimpin dengan energi yang lebih positif serta berdampak.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Kepribadian
Terry Small adalah pakar otak asal Kanada yang percaya bahwa mempelajari ‘cara belajar’ adalah keterampilan paling penting yang dapat diperoleh seseorang.





