Pemimpin, Pelatih Dan Kapten Penting Demi Kesuksesan

Oleh Roshan ThiranEva Christodoulou|01-12-2020 | 2 Min Read

Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman dari Universitas Bridgeport, tempat saya bermain sepak bola untuk NCAA (Asosiasi Atletik Perguruan Tinggi Nasional).

Kami mengenang musim kemenangan tim kami - Purple Knights- ketika kami hampir memenuhi syarat untuk permainan 'play off' (permainan tambahan untuk menentukan hasil akhir). Seperti yang dapat ditebak, kami lebih jauh membahas individu yang telah mendorong kami untuk mencapai potensi penuh kami dialah pelatih Henrik Syatborn.

Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar cerita tentang pelatih Usain Bolt yaitu Glen Mills, tentang bagaimana dia membiarkan Bolt berlatih keras sambil menikmati latihannya. Ketika berkunjung ke Malaysia, Bolt menggambarkan pelatihnya sebagai satu-satunya orang yang akan membuat dia melakukan apa pun yang diperintahkan kepadanya. Dia mempercayai pelatihnya sepenuhnya, dan menyadari bahwa dia mampu mencapai level saat ini karena dorongan dan desakan dari pelatihnya tersebut.

Untuk artikel ini, saya dan Eva akan melihat bagaimana kepemimpinan dalam olahraga (yaitu pelatih dan kapten) merupakan faktor penting dalam keberhasilan dan kegagalan sebuah tim. Mari kita mulai dengan mempelajari peran seorang Pelatih.

Pelatih

Pelatih yang memberikan pengaruh paling kuat pada saya adalah Mokhtar Dahari, seorang legenda sepak bola Malaysia dan pelatih sepak bola pertama saya. Dia sangat menekankan pentingnya kerja keras, ketekunan, dan berjuang tanpa henti meskipun ada tantangan. Penjaga gawang Malaysia, R. Arumugam, juga menjadi pelatih saya yang lain.

Kepergiannya yang tiba-tiba mengejutkan kami, tetapi dia tetap menjadi inspirasi kami.

Ken Carter tumbuh dalam keluarga yang kasar, dan fokus pada pertumbuhan akademis. Namun, dia tertarik dengan olahraga, khususnya bola basket. Sebagai seorang pelatih, dia menekankan bahwa anggota timnya perlu memperhatikan study mereka selain latihan mereka sehingga mereka akan memiliki kesempatan untuk melanjutkan studi di tingkat perguruan tinggi, dan terbuka untuk kesempatan lainnya.

Ketika dia menemukan banyak anggota timnya yang dari para pelajar di SMA Richmond walaupun menang, tapi ternyata agak lesu hasil kelasnya, maka dia menghentikan pelatihan dan pertandingan sampai tim tersebut kembali ke kinerja positif di bidang akademis mereka.

Awalnya, masyarakat sekitar menjadi marah dengan perbuatannya; merekapun membuat aksi untuk menyatakan pendapat bahwa tim harus kembali berlatih. Tetapi para pemain menyadari niat pelatih mereka, dan menolak bermain sampai hasil akademis mereka meningkat. Pada akhirnya, Carter dipuji karena tindakannya yang mengedepankan nilai-nilai baik dalam timnya. Film Coach Carter tahun 2005, yang dibintangi oleh Samuel L. Jackson, menceritakan kisahnya.
John Wooden adalah orang pertama yang disebutkan dalam Basketball Hall of Fame; dia juga dipilih oleh ESPN sebagai pelatih terhebat sepanjang masa. Wooden telah menjadi pelatih bola basket UCLA selama 40 tahun, tidak pindah ke NBA atau peran profil yang lebih tinggi karena dia juga memiliki tekad yang dalam untuk mengajar bahasa Inggris. Dia ingin para pemainnya meraih kemenangan dalam hidup, bukan hanya dalam bola basket.

Dia mengutip kata mutiara dari percakapan dengan ayahnya saat dia besar di pertanian. "Anda seharusnya tidak pernah mencoba menjadi lebih baik dari yang lain. Selalu belajar dari mereka, dan jangan berhenti menjadi yang terbaik, ”ucapnya saat sesi Ted Talk.

"Sukses adalah ketenangan pikiran, hasil langsung dari kepuasan diri karena mengetahui bahwa Anda telah berusaha menjadi yang terbaik yang Anda bisa."


Vince Lombardi, salah satu pelatih sepak bola paling sukses di Amerika, dikenal karena temperamennya yang panas dan tuntutan tinggi yang dia berikan pada timnya. Namun, di balik layar, ia tampaknya memahami kebutuhan untuk terhubung dengan setiap pemain dengan cara yang berbeda, dan pentingnya memperlakukan setiap pemain sebagai individu. Studi Kramer dan Shaap menunjukkan bahwa Lombardi sebenarnya tahu mana pemain perlu didorong oleh kritik, dan mana yang membutuhkan lebih banyak penguatan positif demi untuk dapat menggali dan mengeluarkan bakatnya.

Alex Ferguson memulai karir sepak bolanya sebagai striker Skotlandia. Kemudian mengelola klub sepak bola pertama di Skotlandia, dan kemudian untuk Manchester United dari 1986 hingga 2013.


Baca artikel ini dalam bahasa Inggris "The power of leadership in sports"

Sumber:Pexels.com

Di mata para pemain, banyak manajer, dan tak sedikit analis, dia adalah salah satu manajer terhebat dan tersukses sepanjang masa. 

“KETIKA SAYA MENJADI PELATIH, SETIAP PEMAIN HARUS BERAMBUT PENDEK DAN BERCUKUR. SAYA TIDAK TAHU BAGAIMANA MANAGER LAIN DAPAT MENGIJINKAN PEMAIN-PEMAIN MENAIKI BUS DENGAN BERJANGGUT. ITU SESUATU YANG TIDAK DAPAT SAYA TERIMA. SAYA MENGHARUSKAN TIM TURUN DARI BUS DENGAN SETELAN JAS, KEMEJA PUTIH DAN BERDASI, KERANA MEREKA MEWAKILI MANCHESTER UNITED. BAGI SAYA, INI ADALAH BAGIAN DARI PENDIDIKAN YANG YANG DIBERIKAN KEPADA, SUATU TANGGUNG JAWAB SEBAGAI PEMAIN MANCHESTER UNITED. INI ADALAH DISIPLIN.”


Setiap pelatih yang telah kami pelajari melakukan hal-hal yang berbeda, namun mereka memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap motivasi pemain, lingkungan, serta sistem pembelajaran dan pertumbuhan. Semuanya konsisten tentang apa yang perlu dilakukan dan apa yang diharapkan.

Peranan sebenarnya seorang pelatih

Pelatih bukan hanya sekedar melatih; mereka adalah guru, pembimbing, teman, bahkan ada yang memberikan bimbingan sebagai orang tua. Mereka juga menunjukkan emosi, semangat, keaslian, kejujuran dan kesabaran. Mereka juga tidak menghakimi orang lain.

Lingkaran mereka sangat terorganisir, sementara yang lain memiliki kemampuan khusus (seperti kemampuan untuk menilai potensi pemain, membaca dan menganalisis permainan, membantu pemain mengatasi kelemahan mereka, atau secara efektif menyatukan semua staf pendukung).

Namun yang terpenting, mereka sangat pandai menciptakan suasana yang berpusat pada atlet dan tim yang terstruktur, serta berorientasi kekeluargaan. Mereka cerdas untuk membangun hubungan profesional yang kuat dan langgeng dengan para atlet, dan pada saat yang sama, ramah dan mudah diajak bicara.

Cara mereka melatih tim juga mengandung unsur pengajaran, komunikasi, motivasi, respon, persiapan, presentasi dan penolakan yang tidak relevan. Mereka dengan cepat berubah dari memaksa dan menuntut menjadi orang kepercayaan, konselor dan penasihat pribadi.

Bandingan olahraga dengan bisnis

Saat kami mempelajari pelatih di bidang olahraga, kami mencoba membuat perbandingan dengan bisnis. Beberapa tahun terakhir ini, saya telah bertemu dengan berbagai klub Liga Utama Inggris. Setelah meninjau organisasi mereka, kami melihat perbedaannya dengan cara dalam menjalankan bisnis.

Kebanyakan bisnis memiliki seorang chief executive officer (CEO) yang memegang semua kekuasaan. Di bidang olahraga, sebagian besar klub memiliki manajer tim atau pelatih yang mengelola tim dan kinerja pemain, sedangkan CEO mengelola bisnis. Bisnis, di sisi lain, memiliki manajer yang memiliki tanggung jawab operasional.

Baca artikel berjudul "Luangkan Waktu Libatkan Karyawan Anda"

Sumber:Pexels.com

Kapten Tim  

Paolo Maldini - kapten AC Milan dan Italia selama bertahun-tahun akrab dipanggil 'Il Capitano' - dianggap sebagai pemimpin oleh sesama pesepakbola. Sebagai nama permanen di daftar nama Milan, dia menginspirasi semua orang melalui cara dia bermain, serta dedikasinya pada sepak bola dan timnya.

Tidak peduli tawaran yang diberikan kepadanya, dia menolak semuanya dan tetap bersama klubnya sepanjang waktu.
Maldini, dalam perannya sebagai kapten dan selebihnya, selalu memberikan yang terbaik untuk timnya, memberikan semua dorongan saat menghadapi lawan yang kuat, dan selalu mengambil langkah penyelesaian yang berisiko untuk timnya. Dia sangat vokal dan selalu membela timnya.

Mahendra Singh Dhoni, pemain tengah juga kapten senior, seorang kidal namun dapat menyerang dengan tangan kanan. Ia umumnya dianggap sebagai salah satu pemain dengan finishing terbaik di tim kriket Nasional. Dia memimpin tim India dalam format limited-overs dari 2007 hingga 2016 dan di Tes Kriket dari 2008 hingga 2014.

Di bawah kepemimpinannya, India berhasil menduduki peringkat Nomor Satu dalam Daftar Posisi Tes ICC pada Desember 2009. Setelah itu, ia berhasil memimpin India dalam seri Tes Piala Dunia melawan Afrika Selatan pada Februari 2010.

India juga berhasil meraih hasil imbang 1-1 dalam seri Tes di Afrika Selatan akhir tahun itu. Setelah memenangkan final melawan Sri Lanka di Piala Dunia Kriket 2011, Sachin Tendulkar menyatakan Dhoni sebagai kapten terbaik yang pernah dia temui.

Menurut Tendulkar, sikap tenang Dhoni membantu seluruh rekan setim selama pertandingan, dan ia terkesan dengan cara Dhoni mengatasi stres. Dhoni juga seorang kapten yang peduli - ketika tim menang, dia mengizinkan rekan satu timnya untuk bertemu dengan media untuk berbagi kebanggaan dan pencapaian mereka. Tetapi di masa-masa sulit, dia akan mengambil tanggung jawab untuk menjawab semua pertanyaan sulit.

Dupuis, Bloom dan Loughead mempelajari perilaku kepemimpinan yang ditampilkan oleh para pemimpin dalam olahraga (mereka yang diberi gelar kehormatan 'kapten' oleh institusi mereka), dengan berfokus pada tim hoki. Temuan mereka mengkategorikan pengaruh kapten pada tim mereka dalam tiga bidang berikut:

1. Karekter dan Pengalaman Interpersonal

Ini mengacu pada tipe pemain yang sebagai kapten, dan pengalaman yang mereka miliki dalam olahraga. Kebanyakan dari mereka tumbuh bermain olahraga sejak usia muda, mereka telah bersama mengalami berbagai karakter kapten di masa lalu yang semua itu memberi mereka kesempatan belajar dan menggunakan berbagai gaya tersebut.

Kualitas seperti berkomunikasi secara efektif; jujur dan hormat; memiliki sikap positif; mampu mengendalikan emosi; tetap positif dan menunjukkan kepercayaan dan rasa hormat tampaknya menjadi apa yang teridentifikasi sebagai kunci keberhasilan dari para Kapten yang diwawancarai.

2. Interaksi lisan

Kesabaran mereka dalam mengamati sikap dan kinerja rekan satu tim sebelum memberikan umpan balik; kemampuan mereka untuk mengidentifikasi kapan harus menjadi otokratis dalam menyampaikan pesan dan kapan harus mengadopsi pendekatan yang lebih demokratis; dan kemampuan untuk memilih waktu yang tepat untuk berkomunikasi; ternyata telah membuat perbedaan.

Selain itu, penting bagi kapten untuk bekerja sama dengan baik bersama pelatih untuk menyampaikan pesan secara efektif dari tim kepada pelatih, serta bekerja dengan baik dengan pemimpin informal dalam tim yaitu para pemain yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi orang lain dan membantu dalam menyampaikan pesan.

3. Prilaku berbasis kerja

Ini mengacu pada aktivitas yang bersifat administratif, seperti membantu pelatih dengan perencanaan di luar musim, penggalangan dana, bertemu penggemar, mewakili tim dalam sesi media, pertemuan dengan sponsor, dan upacara penghargaan. Sedangkan di waktu pertandingan, ini mengacu pada waktu menghadapi wasit, atau menyelesaikan masalah tim di tempat kejadian.

Pada dasarnya, ini adalah tentang memberikan contoh yang benar, bersedia membantu dalam semua aktivitas walaupun tidak ada hubungannya dengan pelatihan dan permainan itu sendiri, namun penting untuk kesuksesan tim. Ini juga merupakan cara untuk menetapkan norma bagi tim, dan untuk mendampingi anggota baru.

Kesimpulan

Sementara pelatih memberikan pengaruh yang signifikan pada tim, kapten memainkan peran penting selama pertandingan. Ketika tim dalam posisi kalah, atau wasit tidak ada di pihak mereka, kapten tim adalah faktor yang membuat perbedaan.

Misalnya, pada 26 Oktober 2008, musim yang tidak menguntungkan Everton, saya melihat Everton bermain melawan Manchester United yang dipimpin Cristiano Ronaldo. Everton tertinggal 1-0. Kapten Phil Neville, yang tidak pernah dianggap penonton sebagai anggota Everton sejati, mencoba menyemangati timnya tetapi nampaknya gagal.

Kemudian, dia memutuskan untuk bertindak sendiri dia melayang dan membuat sliding kepada Ronaldo yang menyebabkan dia amat kesakitan. Timnya melihat tekadnya untuk membuat perbedaan. Setelah itu, permainan berubah arah, Everton segera mencetak gol dan tiba-tiba musim berubah, mereka bangkit. Kapten bisa membuat perbedaan besar.

Sementara pelatih menguraikan filosofi, taktik, dan pola permainan, kapten memastikan bahwa semua ini diterapkan. Pertanyaan besar yang harus kita tanyakan adalah dalam bisnis, siapa pelatih dan siapakah kaptennya.

Kita tahu CEO menentukan arah dalam bisnis tetapi apakah mereka memainkan peran yang sama sebagai Pelatih? Dalam bisnis dengan ratusan orang, CEO jarang memiliki waktu dan energi atau bahkan kemampuan untuk memengaruhi dan membimbing setiap karyawan.

Jadi, siapakah Pelatih dalam dunia bisnis? Pelatih mengelola sekelompok kecil pemain, dan bekerja tanpa lelah untuk menggali yang terbaik dari grup tersebut.

Dapatkah seorang manajer dalam bisnis dianggap sebagai pelatih yang hebat? Apakah mereka mengizinkan tim mereka mengalahkan saingan? Apakah manajer membantu menciptakan suasana kemenangan dan mempertahankan atmosfer itu? Apakah mereka mendorong karyawannya untuk mencapai prestasi tetapi pada saat yang sama, menunjukkan bahwa mereka peduli dan bersedia memberikan bimbingan dan cinta sebagaimana orang tua kepada anak-anaknya? Apakah mereka mampu menyatukan pekerja pendukung (layanan pendukung) dengan karyawan garis depan (tim penjualan atau operasi) untuk membentuk tim pemenang yang bersatu?

Dan yang lebih penting lagi, apakah mereka memiliki kapten yang hebat di tim mereka sehingga kepemimpinan yang hebat ada di lapangan? Banyak tim memiliki manajer yang hebat tetapi tidak memiliki kapten yang dapat membantu untuk mendorong kinerja dengan cara yang tepat waktu. Bagaimana kita dapat mengembangkan bentuk kepemimpinan ini pada semua tim dalam organisasi kita?

Artikel ini menyajikan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Kami berharap ini akan memungkinkan setiap CEO, manajer dan kapten untuk merefleksikan kepemimpinan mereka sendiri Apakah anda seorang pelatih yang hebat seperti Sir Alex Ferguson, dan apakah anda memiliki kaptem yang hebat di tim anda? Jika tidak, mungkin sudah waktunya bagi Anda untuk melihat bagaimana Anda bisa tumbuh menjadi pelatih atau kapten yang dapat membuat perbedaan positif bagi tim Anda. 

Tonton juga video berjudul "3 Kunci Prinsip Kepemimpinan: Brillianto Rineksa, ISRA" dibawah ini:


Share artikel ini

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Eva was formerly the Research & Development leader at Leaderonomics. Prior to that, she was an editor at Leaderonomics.com. Today, she is the Product leader of Happily, an engagement app at Leaderonomics Digital. She believes that everyone can be the leader they would like to be, if they are willing to put in the effort and are curious to learn along the way, as well as with some help from the people around them.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.