Berbicara Tentang Pemberdayaan

Oleh Roshan Thiran|01-12-2020 | 4 Min Read
Tergantung pada Kepatuhan

Manusia adalah makhluk yang terikat oleh kebiasaan. Kita merasa nyaman dengan kehidupan yang rutin. Kita berpegang pada pendekatan yang telah teruji dan telah berhasil dalam menemukan kemajuan.

Menyimpang dari norma tidak hanya akan menambah ketidaknyamanan, tetapi seringkali, dirasakan sebagai sesuatu yang salah.  Terlepas dari bukti yang menunjukkan bahwa perubahan perspektif dapat memberikan beberapa manfaat, bagaimanapun juga, kebanyakan dari kita pintar berbicara tentang perlunya suatu perubahan, berinovasi, dan menjadi kreatif. Kita memuji hasil positif yang datang dari pemberdayaan orang lain. Kita senang memuji setiap inisiatif perubahan permainan yang bertentangan dengan tren dalam upaya untuk menginspirasi kemungkinan yang sebelumnya tak terbayangkan.

Ketika saya memikirkan pemimpin bisnis yang pernah saya temui di seluruh dunia, tidak ada yang menyangkal bahwa mereka ingin membuat perubahan atau membiarkan karyawan mereka berkembang dengan mengijinkan mereka mengeksplorasi ide dan peluang baru untuk menguntungkan organisasi mereka.

Dilihat dari percakapan, sebagian besar (jika tidak semua) perusahaan harus menjadi pusat inovasi yang berkembang pesat, menciptakan solusi terbaru untuk masalah yang berulangkali dihadapi oleh setiap pemimpin di semua departemen pada industri masing-masing. Sayangnya, ini sebenarnya bukanlah realitas, karena gaya pemimpin bisnis masih lebih mengutamakan kepatuhan daripada pemberdayaan.

Berdasarkan studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pekerja di berbagai industri, profesor Harvard Business School Francesca Gino menemukan bahwa hampir setengah dari responden bekerja di organisasi di mana mereka 'sering merasa perlu untuk mematuhinya, dan lebih dari setengah mengatakan bahwa karyawan di organisasi mereka tidak mempertanyakan status quo '.

Tekanan untuk mematuhi berarti karyawan tetap waspada, mengekang kreativitas dan imajinasi mereka dalam prosesnya. Menurut Gino, hal ini mempengaruhi karyawan dan organisasi mereka yang menyebabkan penurunan keterlibatan, produktivitas, dan inovasi.

Jangan berlebihan

Seperti yang ditunjukkan Gino, kepatuhan tidak selalu menghalangi kemajuan. Organisasi harus menyediakan struktur dan proses tertentu, dan mereka yang bekerja di dalam organisasi harus mengikuti standar yang ditetapkan.

Tetapi kepatuhan yang ekstrem juga dapat berdampak buruk bagi perusahaan. Ketika tidak ada ruang untuk pertanyaan, kreativitas, atau eksplorasi, di sanalah kita bertemu dengan organisasi yang menganut mantra mematikan, ‘sudah sejak dulu, inilah caranya,’ disertai sikap yang benar-benar ketinggalan zaman.

Dalam studi serupa yang melibatkan lebih dari 1.000 karyawan, Gino menemukan bahwa kurang dari 10 persen orang bekerja di organisasi yang mempromosikan sikap non-konformis konstruktif - istilah yang didefinisikan oleh profesor Harvard sebagai 'perilaku yang menyimpang dari norma organisasi, tindakan orang lain, atau harapan yang sama, namun tujuannya adalah untuk kebaikan organisasi '.

Di zaman di mana kemajuan hadir lebih cepat dan lebih akurat, pada saat yang sama para pemimpin bisnis terus berjuang untuk mempertahankan kekuasaan, agak tidak masuk akal bagi para pemimpin bisnis saat ini untuk mengandalkan mentalitas kepemimpinan yang biasa digunakan di tahun 1980-an.

Namun, tekanan untuk menjadi penurut tetap ada. Tapi mengap? Ini sebenarnya disebabkan oleh tiga faktor: Pertama kebutuhan sosial untuk rukun; menjadi terlalu nyaman dengan situasi yang ada; dan keengganan untuk menantang pandangan kita sendiri dan pandangan orang lain karena takut menerima perubahan.

Singkatnya, kita bersandar pada naluri untuk bertahan hidup yang mungkin sering menguntungkan kita. Tapi, dalam hal bekerja menuju tujuan dan sasaran serta menemukan inovasi baru, kita tidak berdaya sebagai pemimpin jika kita tidak melakukan apa pun untuk mendorong orang keluar dari kepompong mereka dan mengeksplorasi potensi mereka.

Waktunya untuk berubah

Bagaimana kita mendorong sikap non-konformis yang konstruktif?

Memberi dorongan

Kita bisa mulai dengan mendorong karyawan untuk menjadi yang terbaik yang mereka bisa. Dengan mengidentifikasi kekuatan mereka, kita mendukung mereka untuk menciptakan ide-ide baru dan menantang cara-cara konvensional dalam melakukan tugas.

Biasanya, sebagai pemimpin kita mengira kita mendapatkan jawaban untuk setiap pertanyaan - meskipun belum tentu demikian. Itulah mengapa kita mempekerjakan tim yang terdiri dari anggota cerdas untuk membantu untuk mencapai visi kita.

Kita sadar kebutuhan akan bakat kreatif, dan cara kita memberikan apresiasi adalah dengan memberikan ruang bagi bakat-bakat tersebut untuk menciptakan inovasi dan memberikan ide yang lebih baik dan efektif.

Merangsang keterlibatan

Kedua, pemimpin dapat merangsang keterlibatan dengan mengidentifikasi dan memahami individu unik yang bekerja dengan mereka. Keterbatasan waktu dan stres terkadang membuat kita lupa bahwa tim kita dibangun oleh kepribadian berbeda yang memiliki kekuatan dan bakat yang berbeda.

Dengan terlibat bersama orang-orang di level mereka dan memperhatikan setiap ide mereka, kita dapat memberdayakan mereka untuk melihat sendiri nilai satu sama lain dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang sama.

Jangan mengurus yang mikro

Terakhir, dalam meniru kata-kata Steve Jobs, para pemimpin suka mempekerjakan orang-orang terpintar - tetapi berapa banyak dari mereka yang dikelola secara mikro?

Bukankah lebih baik jika seorang karyawan diberi masalah, dan kemudian membiarkan mereka menemukan solusi sendiri? Mereka pasti membutuhkan bantuan di sepanjang jalan, tetapi, seperti yang dikatakan Jobs, alasan mengapa orang pintar dipekerjakan adalah agar mereka dapat memberi tahu para pemimpin apa yang harus dilakukan, dan bukan sebaliknya.

 
Akhir kata

Tidak dapat disangkal bahwa para pemimpin bisnis harus memiliki pendapat mereka sendiri tentang bagaimana hal-hal harus dilakukan; tetapi bukti menunjukkan bahwa menuntut kepatuhan sebenarnya merugikan semua yang terlibat.
Di sisi lain, pemimpin yang benar-benar terlibat, yang menginspirasi, dan memberdayakan adalah mereka yang memiliki karyawan yang akan memberikan komitmen dan tekad tinggi untuk membantu organisasinya berkembang sebaik mungkin, dan yang memastikan bahwa organisasi itu memiliki keunggulan dibanding pesaing baru dan pesaing yang sudah ada, juga yang akan menciptakan kesuksesan baru (terkadang melewati masa-masa seru) di sepanjang jalan.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.