Rahasia di Balik Orang yang “Kebetulan” Selalu Mendapat Peluang

Ron Lach, Pexels
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Saya selalu geli setiap kali mendengar orang berkata, “Ya, namanya juga rezeki, sudah ada yang mengatur.”
Kalimat itu memang benar. Namun, sering kali digunakan sebagai alasan untuk tidak melakukan apa-apa.
Padahal, kalau ditanya lebih jauh, orang yang sama biasanya juga percaya bahwa Mercury retrograde membuat proyeknya gagal, weton menyebabkan bisnisnya seret, dan posisi meja kerja yang tidak sesuai fengsui membuat keuntungan justru mengalir ke tetangga sebelah.
Lucu, bukan?
Kita lebih mudah menyalahkan hal-hal di luar kendali daripada jujur melihat ke dalam diri sendiri. Padahal, rezeki itu berkaitan dengan frekuensi yang bisa dijelaskan.
Coba bayangkan hidup Anda seperti sebuah radio. Radio tidak menciptakan sinyal. Radio hanya menangkap frekuensi yang dipancarkan di udara, lalu mengubahnya menjadi suara yang bisa kita dengar.
Kalau Anda menyetel saluran ke 101.0 FM, Anda tidak akan mendengar siaran dari 88.4 FM, meskipun kedua sinyal tersebut sebenarnya sama-sama ada di udara dan bisa ditangkap. Paham maksudnya?
Rezeki bekerja dengan cara yang hampir serupa. Peluang, koneksi, ide, bahkan keberuntungan sebenarnya terus hadir di sekitar kita setiap hari.
Namun, jika frekuensi dalam diri kita tidak disetel ke saluran yang tepat, kita akan terus merasa tidak mendapatkan sinyal. Kita pun menyalahkan radio yang dianggap rusak, padahal masalahnya terletak pada saluran yang kita pilih.
Di sinilah konsep yang sering disebut magnet rezeki mulai masuk akal. Mari kita bahas.
Tingkatkan keterampilan kepemimpinan Anda, mulai dari sini →
Kesadaran Diri: Anda Tidak Bisa Menyetel Saluran Jika Tidak Mengenali Frekuensinya
Masalah pertama kebanyakan orang yang merasa rezekinya seret adalah mereka tidak benar-benar mengenali "saluran" diri sendiri.
Mereka sibuk mengejar apa yang terlihat sukses di linimasa orang lain, tanpa pernah berhenti untuk bertanya, apakah ini benar-benar yang saya inginkan, atau hanya sesuatu yang terlihat keren jika saya memilikinya?
Psikolog Carol Dweck dalam bukunya Mindset menjelaskan bahwa terdapat dua jenis pola pikir, yaitu fixed mindset (pola pikir tetap), yang meyakini bahwa kemampuan dan nasib seseorang sudah ditentukan dan tidak dapat berubah, serta growth mindset (pola pikir bertumbuh), yang percaya bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha dan proses belajar.
Orang dengan fixed mindset biasanya berhenti mencoba setelah mengalami satu kegagalan karena menganggap kegagalan tersebut sebagai bukti bahwa mereka memang tidak berbakat. Sementara itu, orang dengan growth mindset melihat kegagalan sebagai informasi, bukan vonis.
Contoh paling sederhana, ada dua pedagang gorengan di pinggir jalan yang sama-sama mengalami penurunan pembeli pada awal bulan.
Pedagang pertama berkata, “Ya, memang rezeki saya hanya segini. Mau bagaimana lagi?” Ia pun berhenti berinovasi.
Sementara itu, pedagang kedua mulai mengamati kapan orang paling ramai melintas, jenis gorengan apa yang paling cepat habis, lalu mencoba berjualan melalui aplikasi ojek online.
Bukan karena pedagang kedua lebih beruntung, melainkan karena ia mau jujur melihat pola yang ada dan berani menyesuaikan diri.
Itulah self-awareness atau kesadaran diri dalam bentuk paling sederhana. Bukan tentang bermeditasi di gunung, melainkan keberanian untuk jujur melihat hal-hal yang selama ini kita hindari.
Tujuan yang Jelas Itu Seperti Alamat GPS
“Banyak orang berdoa agar rezekinya lancar, tetapi tidak pernah benar-benar menuliskan rezeki seperti apa yang mereka maksud.”
Ini seperti memesan ojek online, tetapi pada kolom alamat tujuan Anda hanya menulis "ke tempat yang enak". Pengemudinya bingung, Anda pun bingung, dan akhirnya tidak pergi ke mana-mana.
Ini bukan sekadar teori motivasi tanpa dasar.
Psikolog Edwin Locke dan Gary Latham, melalui penelitian mereka yang dikenal sebagai goal-setting theory (teori penetapan tujuan), menemukan bahwa tujuan yang spesifik dan menantang menghasilkan kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan tujuan yang samar, seperti "yang penting berusaha".
Itulah mengapa konsep tujuan yang sering kita dengar, seperti SMART (specific, measurable, achievable, relevant, time-bound), bukan sekadar materi pelatihan motivasi di kantor, melainkan didasarkan pada penelitian selama puluhan tahun.
Secara biologis, hal ini juga memiliki penjelasannya.
Di dalam otak kita terdapat bagian yang disebut reticular activating system (RAS), semacam penyaring informasi yang membantu menentukan hal-hal apa saja yang dianggap penting oleh otak untuk diperhatikan.
Begitu Anda memiliki tujuan yang spesifik, otak mulai menandai informasi yang relevan dengan tujuan tersebut.
Mirip seperti ketika Anda baru membeli sepeda motor berwarna merah, lalu tiba-tiba merasa bahwa sepeda motor merah ada di mana-mana. Bukan karena jumlahnya mendadak bertambah, melainkan karena otak Anda baru mulai memperhatikannya.
“Peluang rezeki sering kali bekerja dengan cara yang sama. Sebenarnya, peluang itu sudah ada di sekitar Anda, tetapi otak baru mulai menyalakan radarnya setelah tujuan Anda menjadi jelas.”
Law of Attraction: Pola Pikir yang Berubah Menjadi Tindakan
Buku The Secret karya Rhonda Byrne pernah menjadi fenomena dunia karena memopulerkan istilah law of attraction (hukum tarik-menarik), yaitu gagasan bahwa pikiran kita dapat menarik kejadian yang selaras dengannya.
Sayangnya, banyak orang menafsirkan konsep ini secara harfiah. Mereka menganggap bahwa cukup dengan berpikir positif, alam semesta akan mengirimkan apa pun yang mereka inginkan.
Namun, jika dilihat melalui penjelasan yang lebih masuk akal, fenomena ini lebih dekat dengan konsep yang diteliti oleh psikolog Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson, yaitu self-fulfilling prophecy atau ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya.
Konsep ini menjelaskan bagaimana keyakinan kita terhadap sesuatu secara tidak sadar dapat mengubah cara kita bersikap, hingga akhirnya keyakinan tersebut benar-benar terwujud melalui tindakan kita sendiri.
Contohnya begini.
Seorang ibu rumah tangga yang berjualan secara online terus berpikir, “Produk saya tidak akan laku. Orang-orang sudah punya banyak pilihan lain.”
Karena keyakinan tersebut, ia menjadi malas mengunggah konten secara rutin, lambat membalas pesan calon pembeli, dan enggan mengikuti promosi bersama.
Hasilnya? Benar saja, penjualannya sepi.
Namun, hal itu terjadi karena keyakinannya sendiri secara diam-diam menghambat tindakan yang seharusnya ia lakukan. Pikirannya justru membatasi dirinya untuk berusaha secara maksimal.
Baca Juga: Bangun Keberanian untuk Bertindak
Visualisasi: Latihan untuk Meningkatkan Fokus
Konsep visualisasi sering dikaitkan dengan energi mistis, padahal praktik ini sudah lama digunakan dalam dunia olahraga profesional.
Psikiater Maxwell Maltz, dalam bukunya Psycho-Cybernetics, menjelaskan bahwa otak kita tidak sepenuhnya dapat membedakan antara pengalaman nyata dan pengalaman yang dibayangkan secara mendetail serta berulang.
Karena itu, latihan mental melalui visualisasi dapat membantu membentuk citra diri baru yang kemudian memengaruhi perilaku nyata kita.
Hal ini juga menjadi salah satu alasan banyak atlet Olimpiade rutin melakukan mental rehearsal atau latihan mental sebelum bertanding.
Mereka membayangkan diri melakukan gerakan dengan sempurna secara berulang agar tubuh dan pikiran menjadi lebih terbiasa dengan pengalaman seolah-olah sudah pernah mencapai kondisi tersebut.
Begitu pula dengan pengemudi ojek online yang setiap pagi membayangkan dirinya tetap tenang ketika menghadapi pesanan yang sulit.
Ketika situasi tersebut benar-benar terjadi, ia cenderung lebih siap menghadapinya karena sebelumnya sudah berlatih secara mental.
Jadi, Mengapa Rezeki Anda Masih Seret?
Mungkin karena selama ini Anda belum benar-benar menyetel saluran yang tepat.
Anda belum sepenuhnya jujur dalam mengenali diri sendiri (self-awareness), belum memiliki tujuan yang jelas seperti alamat GPS (goal-setting), masih menyimpan keyakinan yang diam-diam menghambat tindakan sendiri (self-fulfilling prophecy), dan belum pernah melatih pikiran untuk terbiasa dengan versi diri yang ingin Anda capai (visualisasi).
Magnet rezeki adalah tentang menyelaraskan pikiran, tujuan, dan tindakan nyata.
Hingga akhirnya, Anda berhenti merasa tidak mendapatkan sinyal dan mulai mampu menangkap frekuensi peluang yang sebenarnya sudah lama hadir di sekitar Anda.
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Agung Setiyo Wibowo.
Komunitas
Agung merupakan seorang konsultan, self-discovery coach, dan trainer yang telah menulis lebih dari 50 buku best seller.





