Lelah Disalahpahami? Mengapa Orang di Kantor Mudah Tersinggung

Mikhail Nilov, Pexels
Orang-orang di tempat kerja itu…
Sering kali salah memahami maksud dari apa yang kita sampaikan.
- Saat ingin memberi tahu atasan bahwa kamu mengalami burnout, justru dianggap tidak mau bekerja.
- Ketika memberikan masukan kepada rekan tim yang performanya sedang menurun, malah dinilai terlalu ikut campur.
- Saat melakukan review performa anggota tim dengan tujuan membantu, justru diberi label sebagai atasan yang keras.
Rasanya cukup membingungkan.
Niat yang kita bawa satu arah, tetapi yang diterima justru berlawanan.
Pertanyaannya kemudian menjadi seperti ini.
Apakah masalahnya benar hanya pada cara berkomunikasi, atau ada faktor lain yang lebih mendalam?
Saya pernah memikirkan hal ini.
Selama lebih dari 10 tahun bekerja di lingkungan profesional, lintas tim, lintas budaya, dan juga lintas ego, komunikasi memang penting. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa ada satu lapisan yang sering terlewat.
Sesuatu yang lebih manusiawi, dan jujur saja, tidak sepenuhnya bisa kamu kendalikan.
Skenarionya Seperti Ini
Kamu perlu berbicara dengan Budi, rekan satu tim, terkait kesalahan pengiriman email ke vendor pagi tadi. Tidak fatal, tetapi berpotensi memengaruhi kepercayaan vendor.
Kamu mengajaknya berbincang santai di pantry, sambil membuat kopi latte dari mesin.
Niatmu baik, ingin membantu, bukan menyalahkan.
Kamu menyampaikan secara perlahan. Namun ekspresi Budi mulai berubah.
Ia terlihat kaku. Jawabannya singkat. Terlihat defensif.
Percakapan yang seharusnya ringan berubah menjadi tegang. Setelah selesai, Budi langsung pergi dengan ekspresi tidak senang.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Sering Kali Bukan Kamu yang Salah
Mari kita telaah lebih dalam menggunakan teknik 5 WHY(s).
- Mengapa komunikasinya gagal? Karena Budi merasa diserang, bukan diajak berdiskusi.
- Mengapa ia merasa diserang? Karena dalam pikirannya, feedback sering diasosiasikan dengan “saya salah” dan “saya gagal.”
- Mengapa dimaknai seperti itu? Karena Budi belum memahami cara menerima feedback tanpa mengaitkannya dengan ego dan harga diri.
- Mengapa masukan dikaitkan dengan ego dan harga diri? Karena sepanjang hidup dan kariernya, ia tidak terbiasa menerima masukan secara sehat. Jika tidak dipuji, ia didiamkan. Jika melakukan kesalahan, ia langsung dikritik atau dimarahi.
- Mengapa tidak terbiasa? Karena sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan yang cenderung selalu mengiyakan keinginannya. Ia jarang diajak refleksi atau diajak berpikir, “Apa yang bisa diperbaiki?”
Pada titik ini, kita bisa berhenti sejenak.
Apakah masalahnya “hanya” pada komunikasi?
Jawabannya adalah tidak.
Seberapa baik pun cara kamu menyampaikan sesuatu, kemungkinan orang merasa tersinggung tetap ada. Hal ini bukan semata karena pilihan kata, tetapi karena kamu berhadapan dengan pengalaman emosional lama yang bahkan bukan kamu yang menciptakan.
Dan ini adalah bagian yang jarang dibahas dalam dunia kerja.
Lalu, Apa Solusinya?
Bukan dengan memilih diam, atau menjadi people pleaser.
Namun dengan menerima bahwa kamu tidak bisa membuat semua orang merasa nyaman.
Ada hal-hal yang tetap perlu disampaikan. Dan ya, terkadang akan terasa tidak menyenangkan, meskipun niatmu baik.
Menurut saya, di sinilah proses pendewasaan profesional dimulai.
Memahami batas tanggung jawab diri, serta berhenti menyalahkan diri sendiri dengan kalimat seperti:
- “Saya memang tidak pandai berbicara.”
- “Sepertinya tadi terlalu langsung.”
- “Mungkin karena saya introvert.”
Bukan itu poinnya. Kurangi kecenderungan untuk menyalahkan diri sendiri.
Pahami bahwa setiap orang datang ke tempat kerja dengan beban mental masing-masing.
Dan setelah itu?
Lakukan apa yang memang perlu kamu lakukan.
Dengan niat yang tulus. Dan hati yang cukup kuat untuk menerima bahwa tidak semua hal akan diterima dengan baik.
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Rivaldy Varianto S.
Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:
Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026
Sering kali kita merasa disalahpahami di tempat kerja bukan karena niat yang salah, tetapi karena perbedaan cara menyampaikan, menangkap pesan, dan kondisi emosional masing-masing individu—yang membuat hal kecil pun mudah terasa personal. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 (24 Juni – 1 Juli 2026) hadir untuk membantu Anda membangun komunikasi yang lebih sadar, empatik, dan jelas agar mampu mengurangi miskomunikasi serta memimpin dengan hubungan kerja yang lebih sehat dan produktif.
Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Komunitas
Rivaldy adalah Aerodynamics Engineer di Airbus UK yang berfokus pada optimalisasi kinerja pesawat agar efisien dan aman, sekaligus CEO Get Karier, platform yang dibangunnya untuk membantu profesional muda meraih karier global melalui e-book, mentoring, dan lokakarya. Tujuannya mengubah ambisi menjadi peluang nyata danterus mendorong generasi berikutnya untuk meraih kesuksesan di internasional.





