Kita Tidak Bertumbuh dengan Menghindari Panas

Feb 25, 2026 7 Min Read
volcano erupting hot lava
Sumber:

Freepik

Proses menjadi jarang berlangsung dengan lembut.

Saya selalu terpesona dengan bagaimana baja dibuat. Bayangkan sejenak: material yang cukup kuat untuk menopang stadion dan kapal perang, tetapi cukup fleksibel untuk mengikuti gerakan gedung pencakar langit saat tertiup angin. Itu tidak terjadi begitu saja.

Karena penasaran, saya mempelajari prosesnya lebih dalam. Semakin banyak yang saya pelajari, semakin saya menyadari bahwa proses ini adalah metafora yang sangat kuat tentang bagaimana kita bertumbuh sebagai manusia.

Baja melalui tiga tahap proses: dipanaskan hingga berpijar, didinginkan secara mendadak, dan terakhir tempering (proses pemanasan ulang baja pada suhu lebih rendah agar tetap kuat tanpa menjadi rapuh.)

Coba pikirkan proses itu sebagai analogi bagi kehidupan kita sendiri.

Sebagian besar dari kita tidak menyukai “panas”: perubahan tak terduga, kekecewaan, kehilangan, tekanan, dan ekspektasi tinggi dengan sedikit ruang untuk kesalahan. Panas membuat kita tidak nyaman. Namun panas juga membentuk kita. 

close up strong male hands forging molten metal

Serhii_bobyk, Freepik

Pertumbuhan pribadi hampir selalu dimulai di dalam “tungku”. Kita tidak belajar kesabaran, keberanian, atau kerendahan hati di masa hidup yang mudah. Kita mempelajarinya ketika sesuatu mendorong kita melampaui batas aman dan nyaman.

Kemudian datang tahap pendinginan mendadak, yaitu momen yang “mengunci” pembelajaran itu. Ini seperti celupan metaforis ke dalam air es. Bisa berupa kegagalan yang merendahkan hati, atau umpan balik yang tidak ingin kita dengar tetapi sebenarnya kita butuhkan. Bisa juga keputusan yang tidak berjalan sesuai harapan, kehilangan pekerjaan, atau tidak mendapatkan promosi. Momen-momen ini dapat membuat kita lebih teguh dan mendorong kita menjadi lebih baik.

Di sinilah tempering berperan. Bagian ini benar-benar menarik perhatian saya. Tanpa tempering, baja mudah retak di bawah tekanan. Apakah Anda mengenal seseorang seperti itu? Atau pernah merasa seperti itu sendiri?

Tempering adalah bagian proses yang lebih tenang dan lambat. Ini adalah jeda setelah tekanan. Wujudnya adalah refleksi alih-alih reaksi, percakapan alih-alih isolasi, dan rasa syukur alih-alih kekhawatiran. Tempering tidak menghapus hal-hal sulit, tetapi memberi makna pada ujian jika kita bersedia belajar darinya.

Saya mengalami hal ini di awal karier saya. Saya menerima pekerjaan yang saya yakini akan membawa saya ke level berikutnya. Itu berarti meninggalkan rumah pertama kami di Brooklyn, New York, tempat yang kami cintai, bersama teman-teman yang kami sayangi. Namun itulah harga yang harus dibayar untuk membangun karier.

Baca Juga: Di Antara Dua Negara, Saya Belajar Mengerti Perbedaan

Kami tiba di kota baru, dan kenyataan menghantam. Kami membeli rumah baru yang bagus dan terjebak dengan dua cicilan hipotek yang hampir membuat kami bangkrut. Di tempat kerja, saya benar-benar kewalahan. Saya bekerja dengan orang-orang baik, tetapi segera jelas bahwa saya tidak membuat pilihan yang tepat dalam peran baru ini. Posisi itu menuntut tingkat pengalaman, dukungan internal, dan momentum pasar yang ternyata tidak tersedia.

Istri saya luar biasa melalui semua itu, bahkan ketika kami menyambut kelahiran anak kedua kami. Seperti yang bisa Anda bayangkan, banyak hal terjadi sekaligus.

Seberapa keras pun saya bekerja, saya tidak mampu mengejar ketertinggalan. Beberapa malam saya berada di kantor hingga fajar dan terbangun di meja kerja saya. Saya merasa terjebak dalam lingkaran mengecewakan perusahaan dan diri sendiri. Umpan balik dari atasan terasa menyakitkan. Saya bekerja lebih keras dari sebelumnya, namun tetap gagal memenuhi harapan. Saya lelah, defensif, dan patah semangat.

Setelah beberapa tahun yang menyedihkan, saudara laki-laki dan istri saya, dua mentor terbaik saya, mengajukan satu pertanyaan sederhana tetapi mengubah hidup: “Apa yang kamu pelajari dari semua ini?”

Pertanyaan itu membuat saya terdiam, dan refleksi yang menyusul mengubah segalanya. Alih-alih hanya merasa frustrasi dan lelah, saya mulai belajar.

Satu jawaban menjadi jelas: saya berada di pekerjaan yang salah.

Tidak ada jumlah usaha yang dapat memperbaiki itu. Sudah waktunya untuk menata ulang. Jadi kami kembali ke Brooklyn dan memulai dari awal. Itu adalah keputusan paling sulit sekaligus terbaik yang pernah kami buat. Kami terhubung kembali dengan komunitas kami, dan saya membangun ulang karier saya.

Sekali lagi, pekerjaan dan rumah terasa selaras.

house

David Kanigan, Pexels

Itulah momen tempering bagi saya, salah satu dari banyak momen serupa yang akan datang sepanjang hidup. Ketika saya melihat kembali tekanan pekerjaan yang salah, pertanyaan dari istri dan saudara saya, serta refleksi yang saya lakukan, pengalaman itu bukan hanya membuat saya lebih tangguh, tetapi juga lebih baik.

Saya telah melihat orang-orang melalui tekanan yang serupa dan keluar dengan hasil yang sangat berbeda. Ada yang menjadi tertutup, kaku, dan penuh kecurigaan. Ada pula yang menjadi lebih stabil, lebih berempati, lebih tangguh, bahkan lebih baik hati. Perbedaannya bukan pada tantangan yang mereka hadapi, melainkan apakah mereka meluangkan waktu untuk memproses pelajaran yang didapat.

Baja yang ditemper dengan baik memiliki kekuatan sekaligus fleksibilitas. Manusia yang ditemper dengan baik juga demikian. Mereka dapat berdiri teguh tanpa menjadi rapuh. Mereka dapat memimpin dengan keyakinan tanpa kehilangan empati. Mereka mampu menghadapi tekanan berikutnya karena telah belajar cara bangkit kembali.

Rasa syukur memainkan peran besar di sini. Bukan karena semua hal terasa baik selama masa sulit, tetapi karena sesuatu yang bermakna lahir darinya. Rasa syukur membantu kita melihat siapa yang mendukung kita selama ujian, apa yang kita pelajari, dan bagaimana kita menjadi lebih kuat dibanding sebelumnya. Ia mengubah sekadar bertahan hidup menjadi kebijaksanaan, dan kesulitan menjadi pembelajaran.

Baca Juga: Menemukan Rasa Syukur di Tengah Krisis

Dalam hidup ini, ketika kita berlari dari satu tantangan ke tantangan berikutnya, kita mungkin menjadi lebih kuat, tetapi berisiko menjadi mampu namun dingin. Tempering memperlambat kita cukup lama untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik:

  • Apa yang pengalaman ini ajarkan kepada saya?
  • Siapa yang membantu saya melewatinya?
  • Bagaimana saya ingin hadir secara berbeda di kesempatan berikutnya?

Pertumbuhan adalah tentang memilih menjadi siapa kita karena tantangan. Tekanan akan datang kepada kita semua. Kita semua akan menghadapi perubahan, kekecewaan, dan ketidakpastian. Kita tidak bisa menghindarinya. Setiap orang memiliki masa sulitnya sendiri.

Yang bisa kita pilih adalah apakah kita akan melewati momen-momen itu begitu saja, atau berhenti cukup lama untuk belajar darinya.

Ketika kita melakukannya, kita tidak hanya menjadi lebih kuat, tetapi juga lebih bijaksana. Dan di dunia yang terasa semakin cepat dan penuh tekanan setiap hari, orang-orang yang kuat sekaligus fleksibel adalah mereka yang paling dibutuhkan oleh keluarga, teman, dan tim mereka.

Jadi, berikut pertanyaan refleksi untuk Anda: tekanan apa yang pernah datang dalam hidup Anda dan justru membuat Anda menjadi lebih baik? Dan bagaimana Anda memproses pengalaman itu sehingga membantu Anda bertumbuh, bukan menjadi pahit atau rapuh?

Terima kasih telah mendukung buletin kami. Itu sangat berarti bagi kami. Jika tulisan ini terasa relevan, silakan bagikan kepada seseorang yang mungkin membutuhkannya. Semoga minggu Anda menyenangkan.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Chester Elton.


Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:

Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026

Pertumbuhan tidak terjadi saat kita menghindari tekanan, tetapi ketika kita berani menghadapinya, merefleksikannya, dan mengubah tantangan menjadi pembelajaran yang mendorong kita maju. Prinsip ini menegaskan bahwa ketidaknyamanan sering menjadi sinyal penting untuk berkembang, bukan sesuatu yang harus dihindari. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 dirancang untuk membantu Anda menghadapi tantangan tersebut dengan pola pikir yang tepat, memperkuat ketahanan diri, dan memimpin dengan dampak yang lebih kuat dan bermakna.

Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Share artikel ini

Alt
Chester Elton adalah seorang penulis buku “Anxiety at Work” & “Leading with Gratitude”, Executive Coach, Pembicara, dan Founder dari Komunitas #findyourgratitude. Buku-bukunya telah diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dan telah terjual lebih dari 1,5 juta eksemplar.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

overthinking

Terlalu Sering Berpikir Berlebihan? Coba 5 Cara Ini

Oleh Amirah Nadiah. Overthinking bisa dialami siapa saja dan sering muncul tanpa disadari. Kenali penyebabnya dan pelajari lima cara sederhana untuk mengelola pikiran agar hidup terasa lebih tenang dan terarah.

Feb 13, 2026 3 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Kepemimpinan Yang Melayani

Kepemimpinan Yang Melayani

Theo Litaay, SH, LLM, Ph.D, membahas penerapan kepemimpinan yang melayani dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja tim dan kesejahteraan.

Feb 19, 2025 56:41 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest