Cara Sederhana Membuat Pulang Kerja Terasa Lebih Bahagia

Erik Mclean, Pexels
Ada satu kebiasaan yang sering kita lakukan tanpa sadar: membawa kantor pulang ke rumah.
Bukan secara fisik, tentu saja.
Tapi dalam bentuk pikiran dan suasana hati. Kadang kita pulang dengan kepala yang masih penuh dengan rapat, deadline, atau percakapan yang kurang menyenangkan di kantor. Sampai di rumah, badan sudah di ruang tamu, tapi pikiran masih di meja kerja.
Kalau dipikir-pikir, ini cukup wajar. Kita menghabiskan sebagian besar waktu di tempat kerja, jadi tidak aneh kalau hal-hal dari kantor masih terbawa sampai pulang.
Tapi ada satu hal yang kadang perlu kita ingatkan ke diri sendiri: rumah seharusnya menjadi tempat kita berhenti sebentar dari semua itu. Apalagi jika di rumah ada keluarga yang menunggu. Entah itu pasangan, orang tua, anak, atau bahkan seseorang yang hanya ingin mengobrol sebentar tentang hari mereka.
Bukan berarti kita harus selalu pulang dengan suasana hati yang sempurna. Tidak realistis juga. Ada hari-hari yang memang melelahkan. Ada juga hari di mana kita hanya ingin diam.
Tapi mungkin kita bisa mencoba satu hal sederhana.
Mencoba untuk tidak membawa semua beban kantor masuk ke ruang tamu.
Baca Juga: Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
Kebiasaan Kecil Agar Pulang Terasa Lebih Ringan
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah membuat semacam “transisi kecil” sebelum masuk rumah.
Misalnya, berhenti sebentar di depan rumah sebelum membuka pintu. Duduk sebentar di motor atau mobil, tarik napas, dan biarkan pikiran sedikit tenang setelah perjalanan pulang.
Tidak perlu lama. Satu atau dua menit saja kadang sudah cukup untuk memberi sinyal ke diri sendiri bahwa hari kerja sudah selesai.
Ada juga kebiasaan kecil lain yang bisa membantu. Beberapa orang suka mendengarkan musik di perjalanan pulang. Bukan untuk melupakan pekerjaan, tapi sekadar memberi waktu bagi pikiran untuk pelan-pelan berpindah dari mode kerja ke mode istirahat.
Ada juga yang punya kebiasaan mengirim pesan singkat ke rumah sebelum sampai. Sesederhana, “Aku lagi di jalan pulang.” Hal kecil seperti ini membuat pulang terasa lebih personal, bukan sekadar rutinitas.
Baca Juga: Self-Love di Kantor: Berani Profesional, Bukan Personal
Cara lain yang cukup membantu adalah memikirkan satu hal yang ingin kamu ceritakan ketika sampai di rumah. Tidak harus cerita besar. Bisa hal kecil yang terjadi di kantor, sesuatu yang lucu, atau bahkan sekadar mengatakan, “Hari ini lumayan capek.”
Tujuannya bukan untuk curhat panjang lebar, tapi sekedar untuk membuka percakapan. Karena kadang masalahnya bukan karena kita pulang dengan pikiran yang penuh, tapi karena kita tetap menutup diri setelah sampai di rumah.
Ada juga satu pengingat sederhana yang mungkin terdengar sepele: tidak semua masalah kantor harus dipikirkan malam ini.
Sebagian besar pekerjaan masih akan menunggu kita besok pagi. Email yang belum sempat dibalas, laporan yang belum selesai, atau rencana yang masih belum jelas–semuanya masih ada esok hari!
Jadi tidak apa-apa kalau malam ini kita memberi sedikit ruang untuk hal lain.
Mungkin untuk memberikan waktu untuk makan bersama tanpa terburu-buru, mengobrol sebentar dengan keluarga, atau sekadar duduk santai tanpa membuka laptop lagi.
Karena pada akhirnya, orang-orang di rumah tidak sedang menunggu versi kita yang paling produktif.
Mereka hanya menunggu kita benar-benar pulang.
Kepribadian
Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif
Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.





