Self-Love di Kantor: Berani Profesional, Bukan Personal

Feb 09, 2026 3 Min Read
pink girl
Sumber:

wayhomestudio, Freepik

Di tempat kerja, tidak semua hal perlu dibawa ke hati. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya sering kali sulit dilakukan. Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa bekerja dengan sepenuh hati berarti juga melibatkan perasaan sepenuhnya. Akibatnya, setiap kritik terasa seperti penilaian diri, setiap koreksi dianggap sebagai kegagalan pribadi.

Padahal, mencintai diri sendiri di dunia kerja tidak selalu berarti melindungi perasaan dari rasa tidak nyaman. Justru, mencintai diri sendiri yang dewasa sering kali muncul dalam bentuk keberanian untuk bersikap profesional tanpa harus mempersonalkan segalanya.

Profesional berarti memahami bahwa pekerjaan adalah ruang kolaborasi, bukan ruang validasi emosional. Feedback, revisi, atau bahkan penolakan ide bukanlah cerminan nilai diri kita sebagai manusia. Ia hanyalah bagian dari proses kerja. Namun, banyak orang, terutama di awal karier, tanpa sadar menyatukan identitas pribadi dengan hasil pekerjaan. Ketika hasilnya tidak sesuai harapan, yang terluka bukan hanya performa, tetapi juga harga diri.

Self-love yang sehat justru mengajarkan jarak. Bukan jarak yang dingin atau tidak peduli, melainkan jarak yang membuat kita bisa bernapas. Kita belajar berkata dalam hati, “Ini tentang pekerjaanku, bukan tentang aku sebagai pribadi.” Dari titik itu, kritik tidak lagi terdengar seperti serangan, melainkan informasi.

Bersikap profesional juga berarti tahu kapan harus merespons dan kapan cukup mendengarkan. Tidak semua komentar perlu dibalas dengan pembelaan panjang. Tidak semua perbedaan pendapat harus dimenangkan. Ada kalanya menjaga ketenangan dan memilih fokus pada solusi adalah bentuk self-respect yang paling nyata. Kita tidak kehilangan apa pun dengan tidak selalu bereaksi; justru kita menjaga energi untuk hal yang lebih penting.

Di sisi lain, profesionalisme bukan berarti mematikan empati atau menjadi kebal. Perasaan tetap ada, dan itu manusiawi. Namun, self-love yang dewasa membantu kita mengelola perasaan tersebut, bukan dikendalikan olehnya. Kita memberi waktu pada diri sendiri untuk memproses, tetapi tidak membiarkannya mengganggu cara kita bekerja atau berinteraksi.

Menariknya, ketika kita berhenti mempersonalkan segala sesuatu, kualitas kerja sering kali meningkat. Kita menjadi lebih terbuka terhadap masukan, lebih objektif dalam menilai hasil, dan lebih ringan saat harus memperbaiki kesalahan. Bukan karena kita tidak peduli, tetapi karena kita cukup peduli pada diri sendiri untuk tidak membebani mental dengan hal-hal yang tidak perlu.

Self-love di kantor juga tercermin dari cara kita berkomunikasi. Kita menyampaikan pendapat dengan jelas tanpa harus defensif. Kita menerima koreksi tanpa merasa direndahkan. Dan ketika perlu, kita bisa berkata, “Saya butuh waktu untuk memikirkan ini,” tanpa rasa bersalah. Semua itu adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri sekaligus pada orang lain.

Baca Juga: Self Improvement vs Self Development: Apa Bedanya?

Pada akhirnya, bekerja secara profesional bukan tentang menjadi dingin atau berjarak. Ia tentang kedewasaan emosional. Tentang memahami bahwa diri kita lebih besar daripada satu presentasi yang gagal, satu email yang dikritik, atau satu ide yang ditolak. Dengan perspektif ini, self-love tidak lagi terasa seperti konsep abstrak, tetapi menjadi praktik sehari-hari yang sederhana dan membumi.

Mencintai diri sendiri di tempat kerja berarti memberi ruang bagi diri untuk bertumbuh tanpa harus terus-menerus terluka oleh prosesnya. Dan mungkin, di situlah bentuk self-love yang paling tenang: tetap hadir, tetap belajar, tanpa menjadikan segalanya personal.

Share artikel ini

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Seseorang Berkemeja Putih Sedang Memegang dan Membaca Buku

Self Improvement vs Self Development: Apa Bedanya?

Bersama Yahya Pramana, kita akan memahami perbedaan self improvement yang berfokus pada peningkatan diri dan self development yang menekankan pengembangan potensi, keduanya sama-sama bertujuan membawa hidup ke arah yang lebih baik.

Sep 07, 2025 2 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Pemimpin dan Waktu

Pemimpin dan Waktu

Douglas Robitaille berbagi wawasan tentang bagaimana pemimpin mengelola waktu dengan bijak untuk mencapai tujuan besar dan membangun tim yang produktif.

Feb 12, 2025 57 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest