Berhenti Membandingkan, Mulai Menghargai

Büşra Saka, Pexels
Mungkin kita pernah merasa hidup orang lain selalu terlihat lebih baik daripada hidup kita sendiri. Seiring bertambahnya usia, perasaan ini semakin sering muncul tanpa disadari, hingga kita mulai membandingkan diri dengan orang lain. Kita sibuk mengamati apa yang dimiliki orang lain; ada yang baru lulus kuliah langsung mendapatkan pekerjaan, ada yang sudah memiliki rumah, mobil, dan karier yang stabil. Namun, ada pula yang masih berjuang keras mencari peluang, menghadiri wawancara kerja, atau bekerja lembur demi menghidupi keluarga dan menabung untuk masa depan.
Ketika kita terlalu sering membandingkan hidup dengan orang lain, tanpa sadar rasa percaya diri mulai memudar. Perasaan kecewa, sedih, dan tertekan akan muncul saat hidup tidak berjalan seperti yang kita bayangkan atau bandingkan.
Lama-kelamaan, kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan membuat kita sulit menghargai apa yang sudah kita miliki.
Hargai Apa yang Ada
Saya belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang menghargai apa yang sudah dimiliki. Jika hari ini kita masih memiliki tempat berteduh, makanan yang cukup, keluarga yang mendukung, dan pekerjaan untuk menjalani hidup, semua itu adalah nikmat yang patut disyukuri. Kita tidak perlu menunggu hal-hal besar untuk merasa bahagia. Cukup dengan menikmati hal-hal kecil dalam kehidupan dan mengurangi kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial.
Baca Juga: Kenapa Self-Awareness Itu Kunci Buat Tetap Bahagia di Era Digital?
Kurangi kebiasaan melihat kehidupan orang lain di media sosial. Terkadang, terlalu banyak menggulir layar dapat memunculkan perasaan tidak pernah cukup. Cobalah mengalihkan fokus pada hal-hal yang membuat kita merasa tenang dan bahagia, seperti berjalan santai, membaca, atau menekuni hobi yang disukai. Dengan cara ini, waktu luang dapat diisi dengan aktivitas yang lebih berkualitas dan membantu kita bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Cara Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali apa saja pemicu yang sering membuat kita membandingkan diri, lalu berusaha menghindarinya. Kendalikan penggunaan media sosial. Jika ada individu tertentu yang menjadi pemicu perbandingan, Anda bisa memilih untuk unfollow atau menyembunyikan kontennya. Ingat, kekayaan, popularitas, dan kecantikan tidak menjamin kebahagiaan.
Yang paling penting adalah belajar untuk bersyukur atas apa yang dimiliki. Ketika kita benar-benar bersyukur, kita tidak lagi sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Fokuslah pada kekuatan dan kelebihan diri sendiri.
Terakhir, belajarlah merayakan keberhasilan orang lain tanpa merendahkan diri sendiri. Ikut merasa bahagia saat teman atau anggota keluarga mencapai pencapaian atau karier yang lebih baik.
Belajar Tenang dan Mengendalikan Emosi
Menjadi pribadi yang tenang memang terlihat mudah, tetapi sesungguhnya perlu dilatih. Dalam setiap situasi, cobalah untuk menenangkan diri sebelum bertindak. Pikirkan terlebih dahulu dampak dan hikmah di balik setiap kejadian. Belajarlah mengelola emosi agar tidak mudah marah, kecewa, atau terusik oleh pencapaian orang lain.
Baca Juga: FOMO: Ketika Takut Tertinggal Mengganggu Ketenangan Hidup
Ketika kita mampu berdamai dengan diri sendiri dan keadaan, hidup akan terasa lebih ringan, damai, dan bermakna. Saat kita berhenti membandingkan dan mulai menghargai, di situlah kita benar-benar belajar menikmati kehidupan dengan hati yang tenang.
Kepribadian
Berlatarkan pendidikan di bidang Bahasa dan Linguistik Melayu, Amirah Nadiah gemar membaca dan mengikuti perkembangan terkini, sehingga membuatnya tetap peka terhadap berbagai isu. Sebagai Content Editor, ia aktif dalam pekerjaan terjemahan serta pembuatan konten yang menarik dan meyakinkan.





