Topeng yang Kita Kenakan

Jan 28, 2026 4 Min Read
young business woman in an online call
Sumber:

Mego-studio, Freepik

Apa yang kita tampilkan ke luar, dan apa yang harus kita hadapi ke dalam

Saya tidak bisa membayangkan cara yang lebih tepat untuk mengawali tahun baru selain membicarakan realitas ketidaksempurnaan. Dengan membahas ribuan cara kita sering merasa orang lain tampak menjalani hidup dengan jauh lebih baik daripada kenyataannya.

Beberapa waktu lalu, dalam sebuah panggilan Zoom, saya mendapati diri saya melakukan sesuatu yang cukup lucu. Manikur saya sedang dalam kondisi buruk. Kuteks terkelupas, ujung kuku patah, semuanya lengkap. Jadi saya sengaja menjaga tangan saya tetap di luar bingkai kamera atau menghadap ke belakang, dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Itulah salah satu hal yang Zoom berikan kepada kita, kemampuan untuk mengkurasi realitas. Anda bisa tampil dengan ekspresi tenang, latar belakang rapi, komentar cerdas. Padahal, hanya beberapa sentimeter di luar layar, hidup bisa berantakan. Kuku rusak. Tumpukan cucian. Stres yang tak akan pernah terlihat dari kotak kecil yang dilihat orang lain.

Namun, inilah hal yang terus saya pikirkan. Cara kita menampilkan diri dengan sangat terkontrol di Zoom mengingatkan saya pada cara organisasi menampilkan diri mereka kepada dunia.

Di luar, pesan yang disampaikan terlihat rapi dan terkendali.
“Kami kuat.”
“Kami berkembang.”
“Semuanya berjalan sesuai rencana.”

Lalu bagaimana dengan di dalam?

Di dalam, bisa jadi ada kebingungan, kelelahan, dan ketegangan. Tumpukan pekerjaan yang tak pernah selesai. Keputusan yang tidak berjalan baik. Para pemimpin yang terjaga di malam hari, bertanya-tanya bagaimana memperbaiki sesuatu yang rusak sebelum ada yang menyadarinya.

Dalam sebuah panggilan baru-baru ini, seorang eksekutif membagikan kisah yang sangat kuat. Perusahaannya tumbuh dengan sangat cepat, jauh lebih cepat daripada sistem dan infrastrukturnya mampu mengimbangi. Pada akhirnya, dampaknya pun terasa. Mitra-mitra penting pergi. Di dalam perusahaan, semua orang tahu betapa seriusnya situasi tersebut.

Dan tahu apa yang mereka lakukan? Mereka mengatakan kebenaran, setidaknya secara internal. Mereka bercermin. Mereka bertanya, bagaimana kita bisa sampai di titik ini? Apa yang kita lewatkan? Apa yang harus berubah?

Mereka membangun ulang, berinvestasi, dan mengubah apa yang memang perlu diubah secara operasional. Sepuluh bulan kemudian, sang eksekutif dengan bangga mengatakan bahwa perusahaannya telah menjadi salah satu brokerage underwriting terkuat di negara itu.

Namun ada satu detail yang sangat membekas bagi saya. Secara eksternal, pesan yang disampaikan tetap terukur dan disaring. Karena memang begitulah dunia bisnis berjalan. Kita jarang mengeluarkan siaran pers yang berbunyi, “Kami benar-benar mengacaukan ini.”

Di situlah saya tersadar. Para pemimpin di mana-mana sedang membandingkan realitas internal mereka yang berantakan dan jujur dengan narasi permukaan organisasi lain yang tampak rapi dan terkurasi. Dalam istilah komunitas 12 langkah, ini disebut membandingkan bagian dalam diri kita dengan bagian luar orang lain.

Baca Juga: Apakah Budaya Kerja Anda Terlalu "Baik" untuk Berinovasi?

Ini adalah versi bisnis dari menyembunyikan manikur yang terkelupas.

Ketika kita melakukan itu, beberapa hal terjadi. Kita mengira semua orang lain menjalani perubahan dengan lebih mulus daripada kita. Kita percaya kekacauan internal kita adalah sesuatu yang tidak normal, padahal sebenarnya itu hal yang wajar. Kita menjadi lebih kesepian. Dan kita merasa sedikit tidak autentik.

Ironisnya, jika Anda berbicara secara pribadi dengan hampir semua eksekutif, mereka akan mengatakan versi kalimat yang sama. “Tempat ini berantakan.” Bukan karena mereka gagal, tetapi karena menjalankan perusahaan memang pada dasarnya penuh kekacauan. Terutama saat menghadapi pertumbuhan, perubahan, penurunan, restrukturisasi, atau pergeseran strategi.

Namun, kita jarang mengatakannya secara terbuka. Kita mengenakan topeng. Kita menyembunyikan manikur yang rusak dari bingkai Zoom. Padahal, di sinilah peluang kepemimpinan itu muncul.

Ada kekuatan budaya yang sangat besar dalam sekadar mengatakan kebenaran, dengan tenang, bertanggung jawab, dan tanpa drama. Bukan dengan membuka semuanya secara berlebihan atau kehilangan kendali, melainkan dengan menamai realitas apa adanya.

“Kami kuat dalam hal-hal ini.”

“Dan kami sedang kesulitan dalam hal-hal ini.”

Ketika pemimpin melakukan itu, orang-orang menarik napas lega dan kepercayaan pun meningkat. Energi bergeser dari menjaga citra menjadi menyelesaikan masalah.

Dan seperti kisah pemimpin brokerage tadi, ketika kebenaran diakui, perbaikan menjadi mungkin. Tim mulai bergerak, sistem berkembang, dan organisasi naik satu tingkat kedewasaan.

Saya tidak naif. Ada alasan hukum, kompetitif, dan reputasi yang membuat pemimpin tidak selalu bisa membuka segalanya ke publik. Namun di dalam dinding organisasi Anda sendiri? Orang-orang Anda sudah tahu ketika sesuatu tidak berjalan sesuai arah. Faktanya, kejujuran tidak merusak reputasi. Berpura-pura lah yang melakukannya. Tidak ada perasaan yang lebih indah daripada mendengar kebenaran yang sebenarnya sudah kita ketahui.

Jadi, lain kali Anda tergoda untuk membandingkan diri dengan permukaan organisasi lain yang tampak sempurna, ingatlah ini. Mereka juga punya bagian yang terkelupas. Anda hanya tidak melihatnya.

Dan semakin besar keberanian kita untuk perlahan melepas topeng itu, menyelaraskan apa yang benar dengan apa yang diucapkan, semakin besar pula potensi yang bisa kita lepaskan dari diri kita dan dari orang-orang yang kita pimpin.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Juliet Funt.

Share artikel ini

Juliet Funt

Juliet Funt adalah Founder dan CEO dari Juliet Funt Group & penulis buku best seller ‘A Minute to Think’.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

tim kantor

5 Kunci Membentuk Tim yang Sukses dan Berhasil

Oleh William Budihardjo. Bagaimana caranya pemimpin mengembangkan tim yang sukses?

Apr 24, 2024 3 Min Read

Alt

Belajar Hal Baru Setiap Hari

Gitaris yang bukan sembarang gitaris, Lucky Barus, mengalokasikan waktu 4 jam setiap harinya untuk terus berlatih dan mengasah kemampuannya.

Jan 25, 2021 4 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest