FOMO: Ketika Takut Tertinggal Mengganggu Ketenangan Hidup

Jan 16, 2026 3 Min Read
social media
Sumber:

Freepik

Ketahui apa itu FOMO dan cara sederhana mengatasinya agar hidup lebih tenang.

Apa Itu FOMO?

Pernahkah Anda merasa takut tertinggal sesuatu? Atau sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial? Hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami FOMO (Fear of Missing Out).

FOMO juga didefinisikan oleh para akademisi dalam jurnal ilmiah Computers in Human Behavior sebagai “perasaan takut ketika tertinggal dari perkembangan terkini.” Bagi sebagian individu, rasa tidak nyaman ini muncul ketika mereka melihat kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan di media sosial.

Istilah ini diperkenalkan pada awal tahun 2000-an oleh Patrick J. McGinnis, lulusan Harvard Business School. FOMO merupakan fenomena psikologi sosial yang menyebabkan seseorang merasa cemas dan gelisah ketika tidak dapat mengikuti atau ikut serta dalam aktivitas yang dianggap menyenangkan oleh orang lain.

Salah satu contoh FOMO adalah ketika banyak pengguna media sosial ikut “hype” membeli makanan viral seperti kue tapak kuda, chicken tenders, kue tiramisu, dan minuman boba, hingga rela mengantre panjang demi mendapatkannya. Dengan beragam informasi di ujung jari, banyak orang mudah terpengaruh oleh apa pun yang sedang viral, seolah tidak ingin tertinggal dari arus tren. Hal ini mencerminkan budaya konsumen yang sangat responsif, penuh rasa ingin tahu, dan mudah terpengaruh oleh tren.

Baca Juga: Apakah Social Media Menolongmu Atau Membunuhmu?

Bagaimana FOMO Terjadi?

Alt

Rawpixel, Freepik

Salah satu penyebab FOMO di kalangan masyarakat adalah kecenderungan untuk berbagi, mencoba, dan membandingkan pengalaman, sehingga mereka lebih mudah terpengaruh oleh fenomena viral. Selain itu, budaya senang mencoba hal baru juga membuat masyarakat lebih terbuka terhadap inovasi dan pengalaman baru.

Media sosial memang membuka peluang untuk terhubung, tetapi pada saat yang sama juga memicu tekanan sosial. Melihat orang lain membagikan pencapaian, liburan, atau gaya hidup mewah dapat membuat kita merasa tertinggal. Pada akhirnya, kita menjadi terlalu bergantung pada media sosial untuk mendapatkan rasa puas dan pengakuan.

Dampak FOMO terhadap Kesehatan Mental

FOMO bukan sekadar rasa ingin tahu, tetapi juga dapat memengaruhi kesejahteraan emosional dan keseimbangan hidup. Beberapa dampak utamanya antara lain:

  • Kecemasan dan tekanan, karena takut kehilangan peluang atau pengalaman menarik.
  • Ketidakpuasan diri, akibat terlalu fokus pada kehidupan orang lain sehingga menurunkan penghargaan terhadap diri sendiri.
  • Gangguan sosial, yang membuat seseorang sulit berinteraksi secara sehat dengan lingkungan sekitar.
  • Pemborosan waktu, karena terlalu banyak waktu dihabiskan di media sosial hingga mengalihkan fokus dari tujuan hidup yang sebenarnya.

Individu yang mengalami FOMO juga cenderung mengabaikan tugas sehari-hari, mengalami gangguan pola tidur, serta mengalami penurunan kualitas interaksi sosial di kehidupan nyata.

Cara Mengatasi FOMO

Kabar baiknya, FOMO dapat dikendalikan dengan beberapa langkah sederhana berikut.

1. Berpikir secara rasional

Ingatlah bahwa apa yang Anda lihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Tidak semua yang ditampilkan mencerminkan kenyataan. Fokuslah pada diri sendiri dan jalani hidup dengan baik tanpa perlu membandingkan diri dengan siapa pun.

2. Menetapkan batasan digital

Batasi waktu penggunaan media sosial seperti Twitter, Threads, TikTok, dan Instagram setiap hari. Manfaatkan fitur Screen Time atau Digital Wellbeing untuk membantu mengontrol kebiasaan tersebut. Langkah ini membantu Anda menyelesaikan hal-hal lain yang lebih penting.

Baca Juga: The High School Catfish: Belajar Mengenal Diri Lewat Luka Digital

3. Fokus pada masa kini

Nikmati apa yang ada di depan mata. Berikan perhatian penuh pada pengalaman nyata seperti berbincang, berjalan, atau menikmati alam sekitar tanpa gangguan layar. Belajarlah untuk hadir dengan kesadaran penuh atau mindfulness.

4. Membangun kepercayaan diri

Percayalah bahwa hidup Anda juga bernilai. Dengan kesadaran diri yang positif, Anda akan lebih tenang dalam menghadapi tekanan sosial.

Hidup di dunia nyata

Kembali pada hubungan nyata dan alam membantu kita menghargai hidup secara lebih mendalam. Hidup di masa kini berarti tidak membiarkan penyesalan masa lalu atau kekhawatiran akan masa depan merusak kebahagiaan saat ini.

Ketika kita benar-benar hadir di dunia nyata, kita akan lebih mampu menilai informasi di media sosial secara rasional dan tidak mudah terpengaruh oleh tampilan sempurna kehidupan orang lain. Sebaliknya, kita menjadi lebih memahami kebutuhan diri sendiri.

Kesimpulan

Di dunia yang terus berubah ini, keaslian dan kesadaran terhadap masa kini merupakan kunci keseimbangan dan kebahagiaan. Dengan memahami serta mengelola FOMO, kita dapat menjalani hidup yang lebih tenang, bermakna, dan autentik di dunia nyata, bukan hanya di layar.

Share artikel ini

Komunitas

Tags: Pertumbuhan

Alt

Berlatarkan pendidikan di bidang Bahasa dan Linguistik Melayu, Amirah Nadiah gemar membaca dan mengikuti perkembangan terkini, sehingga membuatnya tetap peka terhadap berbagai isu. Sebagai Content Editor, ia aktif dalam pekerjaan terjemahan serta pembuatan konten yang menarik dan meyakinkan.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

menunggu waktu boarding

Catat! 5 Metode Dapat Kerja di Luar Negeri

Oleh Rivaldy Varianto. Mau kerja di luar negeri? Simak tipsnya dari penulis yang saat ini berkarier di Bristol, Inggris sebagai insinyur Airbus!

Oct 19, 2023 5 Min Read

interview kerja, tes wawancara, wawancara user

Tips Mudah Lolos Rekrutmen Perusahaan Incaran

Lolos perusahaan bonafide bukan lagi sekadar impian. Berikut tipsnya.

Jan 31, 2025 56 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest