Sudahkah Anda Melibatkan Karyawan Anda?

Oleh Roshan Thiran|28-04-2021 | 2 Min Read
Source: Fauxels dari Pexels.com

Suatu hari, seorang guru melihat sehelai kertas coretan anak lelakinya yang membuatnya emosi. Ia pun memperlihatkan kertas itu kepada suaminya. Ketika suaminya membaca, ia berpikir bahwa tulisan itu adalah hasil tulisan dari salah seorang siswa istrinya.

Berikut isinya:

"Ya Tuhan, kabulkanlah permohonanku.Uubahlah aku menjadi televisi, sehingga keluargaku selalu berada di sekitarku dan memperhatikanku dengan serius ketika aku berbicara." 


Aku ingin menjadi pusat perhatian, didengar tanpa diganggu atau dipotong saat aku bicara. Dijaga dengan istimewa walaupun sedang tidak dalam kondisi yang baik. 

Ketika selesai membacanya, sang suami berkata, “Kasihan sekali anak ini. Ibu dan bapaknya sungguhlah lalai!”  Istrinya memandang ke arahnya dan berkata, “Itu adalah tulisan dari anak kita!”

Banyak perusahaan mengalami situasi yang dihadapi keluarga ini. Sering kali bos atau manajer kurang perhatian terhadap karyawan mereka, kemudian terkejut bila talenta yang mereka miliki memutuskan untuk resign
Sebuah survey melaporkan bahwa 55% karyawan tidak senang dengan pekerjaan dan atasan mereka. Studi lain menemukan bahwa dua dari tiga karyawan lebih suka bekerja di tempat lain karena kurang mendapat perhatian dari atasan mereka. Hal tersebut patut menjadi evaluasi sebab karyawan merupakan kekayaan utama dalam suatu perusahaan.

Baca juga: Manajer VS Pemimpin: Apa Perbedaannya?

Jack Welch yang dinobatkan sebagai Manager of the Century memahami arti dari keterlibatan aktif tenaga kerjanya. Welch menghabiskan lebih dari 40% waktunya untuk berdiskusi dengan para karyawannya di sela kesibukannya sebagai CEO General Electric.

Bill George dalam Authentic Leadership berkata,

“Kemampuan untuk membangun hubungan yang berkelanjutan adalah ciri dari seorang pemimpin. Sayangnya, banyak pemimpin perusahaan besar hanya semata-mata memberikan tugas tanpa memperhatikan orang-orang yang melakukan pekerjaan itu.” 


Mengenal karyawan tidak cukup dengan sebatas mengetahui nama mereka saja. Anda juga perlu memahami apa yang menjadi tujuan mereka, titik tekanan mereka, apa yang memotivasi mereka, serta kelebihan dan kekurangan yang karyawan Anda miliki. 

Setiap pemimpin yang baik tahu bahwa karyawannya ingin dihargai. Karena itu, pahami tentang mereka dan berikan apresiasi tanpa bersikap terlalu menggurui. Walmart adalah toko retail terbesar di dunia, namun perusahaan tersebut tetap mempertahankan nilai kekeluargaan. Salah satu upaya Walmart adalah dengan mempertahankan alur komunikasi yang jelas termasuk seringnya para pemimpin senior melakukan kunjungan ke toko cabang.

Baca juga: Pemimpin yang Ideal Harus Banyak Bertanya

Perhatikan Karyawan Anda

Sumber: Van Tay Media dari Pexels.com

Karyawan membutuhkan Anda untuk meluangkan waktu bersama mereka. Memperhatikan bahwa pekerjaan mereka begitu penting. Sebab, terkadang rasa frustrasi di tempat kerja disebabkan oleh arahan dan instruksi yang tidak jelas oleh para atasan.

Faktanya, karyawan terus menerus merasa kewalahan ketika atasan menganggap setiap inisiatif bersifat mendesak dan penting. Pemimpin perlu memperhatikan karyawan mereka dengan menjaga hal-hal sederhana. 

Anda bisa mencontoh kebiasaan baik para pemimpin di Google. Setiap Jumat Eric Scmidt, Larry Page, dan Sergey Brin menghabiskan waktu dengan para karyawannya untuk berdiskusi terkait fokus dan prioritas Google ke depannya. 

Ketika karyawan mengetahui prioritas mereka dan apa yang harus mereka selesaikan, mereka dapat mencapai hasil yang diinginkan dan terlibat dengan setiap kesuksesan mereka.

Baca juga: 3 Cara Membangun Organisasi yang Agile

Pedulilah pada Karyawan Anda

Sumber: Fauxels dari Pexels.com

Sebagai CEO Pepsi dan gitaris sebuah rock band, rahasia kesuksesan Indra Nooyi ternyata adalah kepeduliannya terhadap orang lain. Dalam wawancaranya dengan BBC, Nooyi berkata bahwa ia menelpon ibunya di India dua kali sehari. “Pada akhirnya, jangan lupa bahwa kamu adalah manusia, seorang ibu, seorang istri, dan juga seorang putri.” ujar Nooyi.

Nooyi memastikan semua orang di perusahaannya menerima rasa kepedulian yang sama. Begitu juga dengan Peter Drucker, konsultan manajemen asal Amerika yang senang mempelajari organisasi relawan. Drucker mengamati bahwa kunci mereka untuk menarik relawan adalah dengan menunjukkan kepedulian dan apresiasi. 

Seorang sukarelawan akan dipuji ketika mencapai suatu target sehingga ia termotivasi untuk berusaha lebih ke depannya. Karena itu, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama pada karyawan kita? Sayangnya, ketika seorang karyawan berkinerja baik, komentar yang biasanya keluar adalah “bukankah itu yang membuatnya dibayar?”

Kepedulian dapat juga Anda tunjukan melalui kejujuran Anda pada karyawan Anda. Pakar negosiasi Jim Haudan mengklaim bahwa para pemimpin harus mengatakan yang sebenarnya. Ini memungkinkan lahirnya kepercayaan. Haudan menambahkan, “kebenaran menunjukan bahwa para pemimpin memahami kesulitan yang dihadapi orang-orang, dengan cara empati itulah tercipta hubungan antara mereka semua untuk maju.” 

Kunci untuk membimbing karyawan Anda adalah dengan menjalin kerja sama yang baik. Mereka harus merasakan ikatan emosional dengan Anda dan perusahaan sehingga kinerja bersama dapat menjadi optimal dan terkoordinasi.

Baca juga: 5 Cara Terbaik Melibatkan Karyawan Anda

Bimbinglah Karyawan Anda


Sumber: Picha Stock dari Pexels.com

Menariknya, membimbing karyawan juga termasuk ke dalam upaya pengembangan bisnis. Buckingham dan Coffman melalui buku First Break All The Rules berkata,

“Apa yang harus Anda lakukan untuk mendorong kemajuan seseorang? Manajer yang hebat akan menawarkan saran ini kepada Anda: fokus pada kekuatan setiap individu dan kelola kelemahannya. Bantu karyawan Anda untuk memperoleh kompetensi baru dengan waktu dan perhatian Anda."


Doronglah karyawan Anda untuk keluar dari zona nyaman mereka. Riset membuktikan bahwa perusahaan terbaik adalah perusahaan yang mampu mendorong karyawannya untuk maju. P&G, HSBC, Shell, dan GE adalah contoh dari perusahaan yang mempraktekkan rotasi kerja untuk memastikan karyawannya selalu tertantang untuk mempelajari hal baru.

Cara Mempererat Hubungan dengan Karyawan Anda

  1. Pahamilah kontribusi setiap karyawan Anda dan berikan apresiasi kepada mereka yang berhasil. Jangan abaikan karyawan yang berkinerja maksimal meskipun mereka tidak membutuhkan banyak bantuan.
  2. Jalin komunikasi yang terbuka dan jujur antar sesama. 
  3. Ciptakan lingkungan kerja yang kondusif. Belajar dari Google, atau lihatlah ide untuk lingkungan kerja yang menyenangkan di Life at Leaderonomics.
  4. Perlakukan karyawan Anda sebagai halnya Anda ingin diperlakukan. 
  5. Tantanglah karyawan Anda untuk keluar dari zona nyaman.
  6. Terapkan program pendampingan dan pelatihan untuk mengembangkan bakat dan keterampilan karyawan Anda.


Baca juga: Sudahkah Anda Mendengarkan Nasehat yang Benar?

Kesimpulan

Tingkat keterlibatan karyawan secara langsung berkaitan dengan hubungan yang dimiliki karyawan dengan atasan mereka. Jadi, mulailah perjalanan Anda untuk menjadi sosok pemimpin yang peduli. Jika Jack Welch bisa meluangkan waktu untuk mengenal dan membimbing para karyawannya, maka Anda juga mampu menyediakan waktu untuk tenaga kerja yang Anda miliki.


Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.