Mengapa Pemimpin Perlu Memiliki Urgensi yang Disiplin

fabrikasimf, Magnific
Kesabaran sering dipuji sebagai salah satu kebajikan kepemimpinan. Kita mengagumi pemimpin yang mendengarkan sebelum bertindak, tetap tenang di bawah tekanan, dan memberi orang lain waktu yang mereka perlukan untuk menyesuaikan diri.
Dalam banyak situasi, kesabaran seperti itu memang tepat dan diperlukan.
Namun, kesabaran juga memiliki sisi gelap.
Di dalam organisasi, kesabaran dapat menjadi nama yang terdengar baik untuk penundaan. Bentuknya bisa berupa menunggu keselarasan yang sempurna, data yang lebih banyak, waktu yang tepat, atau satu putaran konsultasi lagi.
Semuanya terdengar masuk akal, bahkan dewasa. Namun, saat semua orang menunggu, masalah semakin membesar, peluang semakin menyempit, dan anggota tim melihat bahwa diam tanpa bertindak lebih aman daripada mengambil tindakan.
Lalu, apa alternatifnya ketika Anda sedang menghadapi kompleksitas dan berusaha mendorong perubahan yang berarti? Alternatif yang lebih bermanfaat adalah ketidaksabaran yang disiplin.
Apa Itu Ketidaksabaran yang Disiplin (dan Apa yang Bukan)
Ketidaksabaran yang disiplin bukanlah sikap yang mudah marah kepada orang lain, tergesa-gesa mengambil keputusan, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai hambatan.
Sebaliknya, ini adalah penolakan untuk merasa nyaman dengan penundaan yang sebenarnya bisa dihindari. Ini adalah energi yang terus mendorong dan berkata, “Ini penting, dan kita perlu bergerak.” Ini adalah kemampuan untuk memegang urgensi dan kebijaksanaan secara bersamaan. Ini juga merupakan pendekatan yang konstruktif dalam menantang status quo.
Anda tidak perlu melihat terlalu jauh di tempat kerja untuk menemukan banyak alasan untuk menunggu. Tempat kerja Anda dipenuhi sistem, kebiasaan, dan rutinitas yang dirancang untuk mempertahankan apa yang sudah ada.
Penelitian dasar Profesor Michael Hannan dan John Freeman tentang structural inertia menunjukkan bagaimana organisasi dapat menjadi sangat sulit berubah karena keandalan, akuntabilitas, dan rutinitas yang berulang telah tertanam dalam struktur operasionalnya. Kemudian, Profesor Harvard Clark Gilbert membedakan dua bentuk inersia yang berbeda: resource rigidity, ketika organisasi gagal mengalihkan investasinya, dan routine rigidity, ketika organisasi gagal mengubah cara pekerjaan dilakukan.
Dengan kata lain, organisasi tidak berhenti bergerak karena orang-orangnya malas, tetapi karena sistemnya memang dirancang untuk terus bergerak dengan cara-cara yang sudah dikenal.
Itulah sebabnya perubahan membutuhkan pemimpin yang memiliki ketidaksabaran secara disiplin. Mereka melihat biaya dari mempertahankan status quo bahkan sebelum orang lain menyadarinya. Mereka bersedia menantang asumsi yang diwariskan, mendorong keputusan yang lebih jelas, dan mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman:
Apa yang sebenarnya sedang kita lindungi dengan tidak melakukan perubahan?
Baca Juga: Bangun Keberanian untuk Bertindak
Peluang Tidak Menunggu Sampai Kita Sepenuhnya Siap
Hal ini penting karena menyelesaikan masalah dan memanfaatkan peluang jarang menunggu persiapan yang sempurna atau waktu yang sempurna.
Pakar manajemen Profesor Peter Drucker berpendapat bahwa inovasi lahir dari pencarian peluang yang dilakukan secara disiplin. Beberapa peluang muncul dari dalam organisasi, seperti keberhasilan yang tidak terduga, kesenjangan proses, atau ketidakkonsistenan internal. Peluang lainnya muncul dari luar organisasi, melalui perubahan struktur industri, demografi, harapan pelanggan, persepsi, atau pengetahuan baru.
Perbedaan ini penting. Jika Anda hanya melihat ke dalam atau menunggu hingga sinyal dari luar menjadi mustahil untuk diabaikan, Anda akan bergerak terlambat. Akibatnya, keunggulan tersebut sudah lebih dulu berpindah ke pihak lain.
Ketidaksabaran yang disiplin membuat Anda terus mengamati, mempertanyakan, dan bergerak sebelum kepastian benar-benar datang.
Ketidaksabaran yang Disiplin Mengubah Cara Pemimpin Mengambil Keputusan
Kecepatan sering dianggap sebagai musuh dari ketelitian. Terkadang memang demikian. Misalnya, ketika pemimpin bertindak terburu-buru, mengabaikan perbedaan pendapat, atau hanya mengandalkan insting, maka kecepatan berubah menjadi tindakan yang ceroboh.
Namun, kecepatan dan ketelitian bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
Penelitian Profesor Kathleen Eisenhardt tentang pengambilan keputusan strategis menemukan bahwa dalam lingkungan yang bergerak cepat, pemimpin yang efektif mengambil keputusan lebih cepat bukan karena mereka berpikir lebih sedikit, melainkan karena mereka menyusun cara berpikirnya dengan lebih baik. Mereka menggunakan informasi yang tepat waktu, mempertimbangkan berbagai alternatif, memanfaatkan masukan dari orang lain, dan menciptakan proses yang jelas untuk bergerak maju.
Pemimpin yang memiliki ketidaksabaran yang disiplin tidak berkata, “Kita tidak punya waktu untuk berpikir.” Mereka berkata, “Kita tidak punya waktu untuk berpikir dengan buruk.”
Dan bagian dari berpikir dengan baik di bawah tekanan adalah mengetahui kapan jeda yang disengaja justru menghasilkan hasil yang lebih baik.
Mereka menciptakan struktur yang cukup untuk bertindak: kerangka keputusan yang jelas, ambang batas yang disepakati, siklus umpan balik yang cepat, dan kepemilikan tanggung jawab yang tegas. Mereka memahami bahwa diskusi yang tidak berkesudahan dapat terlihat bertanggung jawab, padahal diam-diam telah menjadi bentuk penghindaran yang lebih canggih.
Tanyakan pada diri Anda sendiri: di mana saat ini pertimbangan yang lambat sedang menyamar sebagai ketelitian?
Baca Juga: Psychological Safety atau Sekadar Nyaman? Ini Bedanya
Keberanian untuk Mengambil Sikap
Ketidaksabaran yang disiplin juga mendorong keberanian untuk bertindak.
Dalam penelitian organisasi, istilah “taking charge: menggambarkan upaya sukarela dan konstruktif untuk memulai perubahan di tempat kerja. Ini adalah orang yang melihat sesuatu dapat dilakukan dengan lebih baik lalu memilih untuk melakukan sesuatu untuk mewujudkannya.
Sebagian besar organisasi mengatakan bahwa mereka menginginkan perilaku seperti ini. Namun, menantang cara kerja yang sudah ada dapat mengganggu kekuasaan yang telah mapan, memunculkan ketegangan yang belum terselesaikan, dan memperlihatkan kesenjangan antara nilai yang dikatakan dengan praktik yang benar-benar dijalankan.
Itulah sebabnya ketidaksabaran membutuhkan keberanian. Ketidaksabaran juga membutuhkan disiplin emosional. Tanpa itu, rasa urgensi dapat dengan mudah disalahartikan sebagai ego, frustrasi, atau kepentingan pribadi.
Tiga Batas Pengaman untuk Ketidaksabaran yang Disiplin
Ketika semua gagasan ini digabungkan, ketidaksabaran yang disiplin bekerja dengan tiga batas pengaman yang jelas.
Batas Pengaman Pertama – Tidak Sabar terhadap Kemajuan, Tetapi Sabar terhadap Orang
Para pemimpin perubahan yang paling efektif tidak menyamakan resistensi dengan kemalasan. Mereka memahami bahwa orang mungkin membutuhkan waktu untuk memahami apa yang sedang berubah, apa dampaknya bagi mereka, dan dukungan apa yang akan mereka terima. Mereka mendengarkan dengan saksama, bukan untuk melemahkan perubahan, tetapi untuk membuat jalur perubahan lebih dapat dijalankan. Mereka juga menyediakan ruang bagi kekhawatiran untuk disampaikan tanpa membiarkan setiap kekhawatiran menjadi hak veto atau penghalang kemajuan.
Ini berarti memiliki keyakinan yang kuat terhadap tujuan akhir sambil tetap terbuka terhadap jalur untuk mencapainya. Ini berarti mempercepat keputusan tanpa mengabaikan orang yang terlibat. Dan ini berarti melakukan percakapan yang berani sejak awal daripada membiarkan ambiguitas perlahan mengikis momentum.
Ingat, musuh yang sebenarnya adalah penundaan yang bisa dihindari, kepemilikan tanggung jawab yang tidak jelas, dan konsultasi yang hanya bersifat formalitas. Arahkan kegelisahan Anda ke sana, bukan kepada individu yang sedang berusaha beradaptasi dengan perubahan.
Batas Pengaman Kedua – Berpikirlah Seperti Ilmuwan: Kekuatan Eksperimen Kecil
Kedua, bersikaplah tidak sabar terhadap proses belajar, bukan terhadap kesempurnaan. Bergeraklah melalui eksperimen kecil yang cerdas, bukan taruhan besar yang lambat. Prioritaskan apa yang bisa Anda pelajari dibandingkan apa yang bisa Anda kendalikan.
Ketika masa depan penuh ketidakpastian, Anda tidak bisa menunggu sampai semua hal yang belum diketahui menjadi jelas. Di sinilah eksperimen menjadi sangat penting, bersama dengan kemampuan untuk gagal secara cerdas.
Seperti yang direkomendasikan Profesor Mark Cannon dan Amy Edmondson, organisasi perlu belajar untuk gagal dengan cerdas, menggunakan eksperimen yang disengaja guna menghasilkan wawasan sambil meminimalkan biaya.
Ini bisa dimulai dengan berpikir seperti ilmuwan. Mulailah dengan sebuah hipotesis yang diuji dalam lingkup terbatas. Kemudian perhatikan dengan saksama apa yang terjadi. Pelajari hasilnya, dan jika perlu, lakukan penyesuaian lalu ulangi proses tersebut.
Tidak semua eksperimen akan berhasil, tetapi setiap eksperimen seharusnya mengajarkan sesuatu yang berguna sehingga Anda dapat mengurangi ketidakpastian melalui tindakan yang terarah.
Pemimpin yang membingkai perubahan dengan cara ini akan mengubah narasi budaya dari “Kita tidak boleh gagal” menjadi “Kita tidak boleh berhenti belajar.”
Batas Pengaman Ketiga – Bersikap Tidak Sabar Demi Tujuan yang Lebih Besar
Ketiga, anggota tim Anda lebih mungkin mengikuti urgensi jika mereka memahami apa yang sedang dilindungi, diperbaiki, atau diwujudkan oleh urgensi tersebut. Karena itu, hubungkan kecepatan dengan tujuannya.
Penelitian menunjukkan bahwa perilaku proaktif lebih mungkin dihargai ketika dianggap bersifat prososial, yaitu melayani kepentingan tim, pekerjaan, pelanggan, atau tujuan organisasi. Ketidaksabaran Anda akan mendapatkan kepercayaan ketika orang memahami untuk apa hal itu dilakukan.
Di sinilah wawasan, integritas, dan pengaruh bertemu. Pemimpin perubahan yang paling efektif bersikap transparan mengenai alasan mereka mendorong perubahan, bukan hanya tentang fakta bahwa mereka sedang mendorong perubahan. Mereka menjelaskan tujuan di balik urgensi, mengakui dampaknya terhadap orang lain, dan mengajak orang untuk ikut bergerak maju.
Ketika orang memahami alasan di balik kecepatan tersebut, mereka jauh lebih mungkin untuk bergerak bersama Anda.
Baca Juga: 3 Cara Menguasai Disiplin Diri
Tantangan Kepemimpinan Anda
Kesabaran tetap memiliki tempatnya. Pemimpin membutuhkan kesabaran untuk mendengarkan, membangun kepercayaan, dan tetap tenang ketika perubahan terasa rumit.
Namun ketika kesabaran menjadi alasan untuk menunda percakapan yang sulit, menghindari keputusan, atau menunggu kepastian yang tidak akan pernah datang, kesabaran berhenti menjadi sebuah kebajikan.
Jadi, tantangan Anda minggu ini adalah: di mana Anda membiarkan kesabaran melindungi status quo? Dan apa yang akan Anda lakukan secara berbeda jika Anda percaya bahwa ketidaksabaran yang disiplin adalah kualitas kepemimpinan yang paling dibutuhkan saat ini?
Dipublikasikan ulang atas izin dari michellegibbings.com.
Kepemimpinan
References:
- Hannan, M. T., & Freeman, J. (1984). Structural inertia and organizational change. American Sociological Review, 49(2), 149–164. https://doi.org/10.2307/2095567
- Gilbert, C. G. (2005). Unbundling the structure of inertia: Resource versus routine rigidity. Academy of Management Journal, 48(5), 741–763. https://doi.org/10.5465/amj.2005.18803920
- Drucker, P. F. (1985). Innovation and entrepreneurship: Practice and principles. Harper & Row.
- Eisenhardt, K. M. (1989). Making fast strategic decisions in high-velocity environments. Academy of Management Journal, 32(3), 543–576. https://doi.org/10.5465/256434
- Morrison, E. W., & Phelps, C. C. (1999). Taking charge at work: Extrarole efforts to initiate workplace change. Academy of Management Journal, 42(4), 403–419. https://doi.org/10.5465/257011
- Grant, A. M., Parker, S. K., & Collins, C. G. (2009). Getting credit for proactive behavior: Supervisor reactions depend on what you value and how you feel. Personnel Psychology, 62(1), 31–55. https://doi.org/10.1111/j.1744-6570.2008.01128.x
- Cannon, M. D., & Edmondson, A. C. (2005). Failing to learn and learning to fail (intelligently): How great organizations put failure to work to innovate and improve. Long Range Planning, 38(3), 299–319. https://doi.org/10.1016/j.lrp.2005.04.005





