Mengapa Hidup Terasa Begitu Berat? (Dan Apa yang Bisa Dilakukan)

cottonbro studio, Pexels
Jika Anda mendapati diri bertanya mengapa hidup terasa begitu berat saat ini. Jika Anda merasa cemas tanpa alasan yang jelas, ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Ada sesuatu yang nyata sedang terjadi pada kita semua. Dan kita perlu memahami alasannya.
Ada tiga faktor utama yang mendorong ketidakpuasan yang banyak kita rasakan saat ini:
1. Disrupsi
Disrupsi bukan sekadar perubahan.
Disrupsi adalah perubahan yang berlangsung lebih cepat daripada kemampuan kita untuk beradaptasi. Hal itu membuat kita berjuang mencari pijakan sementara tanah di bawah kaki terus bergerak. Inilah pengalaman yang mendefinisikan masa yang sedang kita jalani saat ini. Yang membuatnya terasa semakin berat adalah kenyataan bahwa kita tidak hanya menghadapi satu disrupsi. Kita sedang menghadapi empat disrupsi sekaligus.
Disrupsi Ekonomi
Kita dihadapkan pada biaya hidup yang terus meningkat, harga rumah yang semakin tidak terjangkau, dan pasar kerja yang membingungkan. Kaum muda khususnya merasa semakin tersisih. Banyak orang sudah melakukan semua hal dengan benar, bekerja keras dan menabung semampunya, namun tetap merasa kehidupan yang mereka impikan semakin menjauh dari jangkauan. Rumah yang mereka inginkan kini terasa seperti fantasi. Pasar kerja memberikan sinyal yang saling bertentangan. Gelar pendidikan tidak lagi membuka peluang seperti dulu. Bagi generasi muda, muncul kesadaran yang menyadarkan bahwa tangga ekonomi yang pernah dinaiki orang tua mereka mungkin sudah berhenti bergerak. Kontrak sosial seolah telah terkoyak.
Baca Juga: Gaji 10 Juta vs Bos yang Baik… Kamu Tim Mana?
Disrupsi Geopolitik
Tatanan global yang dulu terasa stabil kini tidak lagi demikian. Kita menyaksikan perang terjadi secara langsung melalui ponsel kita. Aliansi yang dahulu tampak permanen kini dinegosiasikan ulang atau bahkan dibongkar oleh para pemimpin dunia. Kita menyaksikan kembali persaingan antar kekuatan besar. Dan kita mulai meragukan apakah para pemimpin yang seharusnya mengelola semua ini benar-benar memiliki kendali seperti yang kita harapkan.
Disrupsi Teknologi
Layar menyita begitu banyak waktu kita saat terjaga. Media sosial memberi tekanan pada kesehatan mental kita. Kecerdasan buatan (AI) dengan cepat mengubah berbagai industri. Kita tidak pernah mendaftar untuk menjadi objek percobaan dalam eksperimen panjang tentang perhatian manusia, tetapi pada kenyataannya itulah yang terjadi. Dan hasilnya cukup mengkhawatirkan. Platform yang katanya menghubungkan kita justru membuat banyak orang merasa lebih terisolasi, lebih gelisah, dan semakin sulit membedakan mana yang benar. Para orang tua melihat anak-anak tenggelam dalam perangkat digital dan merasakan kegelisahan antara menyadari masalah serta tidak tahu bagaimana mengatasinya. Di atas semua itu, hadir AI dengan kemampuan yang mencengangkan dan kecepatan yang mengusik. Perkembangannya bergerak lebih cepat daripada kemampuan institusi politik, sistem pendidikan, maupun pemahaman kita sendiri untuk mengikutinya. Dan kecepatannya terus meningkat.
Disrupsi Pandemi
Meski kita ingin berpura-pura semuanya sudah berlalu, sebenarnya kita masih dalam proses pemulihan dari guncangan global akibat virus corona. Dari masa lockdown, penutupan berbagai aktivitas, dan isolasi sosial. Luka-luka itu belum sepenuhnya sembuh. Bagi jutaan orang, pandemi tidak benar-benar berakhir, melainkan larut ke dalam kehidupan sehari-hari dan meninggalkan jejak yang sulit dijelaskan sekaligus sulit dihilangkan. Hubungan yang renggang. Karier yang terputus. Bisnis yang ditinggalkan. Tempat kerja yang berubah. Sistem pendidikan yang terguncang. Tahun-tahun masa kecil yang hilang. Dunia terus berjalan, tetapi ada sesuatu yang bergeser di bawah kaki kita.
Masing-masing disrupsi ini saja sudah cukup berat untuk dihadapi. Jika digabungkan, disrupsi ekonomi, geopolitik, teknologi, dan pandemi menciptakan dengungan kecemasan yang kini menjadi latar belakang tak kasat mata dalam kehidupan sehari-hari kita—sebuah dengungan yang akhirnya tidak lagi kita sadari karena tidak pernah benar-benar hilang.
2. Ketidakpastian
Kita hidup di era yang dipenuhi ketidakpastian mendalam. Pertanyaan muncul di mana-mana: Apakah harga-harga akan turun? Apakah pasar kerja akan kembali stabil? Dunia seperti apa yang akan kita wariskan kepada anak dan cucu kita? Bagaimana perubahan iklim akan membentuk dunia di masa depan? Apa yang akan terjadi pada ketimpangan pendapatan dan demokrasi? Bagaimana AI akan mengubah hidup kita?
Pikiran manusia mendambakan kepastian karena hal itu membuat kita merasa aman, mampu merencanakan sesuatu, dan melangkah maju dengan percaya diri. Ketika masa depan terasa kabur, pikiran kita bekerja lebih keras, mencari ancaman dan membayangkan berbagai kemungkinan terburuk. Semua ketidakpastian ini menyeret kita ke dalam lingkaran kekhawatiran mental yang melelahkan.
3. Keterputusan
Di balik disrupsi dan ketidakpastian, ada sesuatu yang lebih sunyi namun mungkin lebih merusak: keterputusan. Dalam banyak hal, kita kini kurang terhubung satu sama lain dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Layar telah menggantikan banyak momen manusiawi yang sebenarnya memberi kita energi dan makna. Lingkungan media yang semakin terpolarisasi membuat kita sulit menemukan titik temu, bahkan sulit berbagi pemahaman yang sama tentang realitas, dengan tetangga maupun teman-teman kita. Tahun-tahun pandemi mempercepat proses yang sebenarnya sudah berlangsung lama, menjadikan isolasi sebagai sesuatu yang dianggap normal dengan cara yang baru mulai kita sadari dampaknya.
Bagi banyak dari kita, hidup terasa sibuk... tetapi tidak semakna yang kita inginkan. Hari-hari kita produktif... tetapi tidak sebahagia yang kita harapkan. Hidup kita terlalu penuh... tetapi tidak sepuas yang kita dambakan.
Kita juga semakin terputus dari diri sendiri. Ketika konten clickbait dan berita terkini berebut setiap detik perhatian kita, kehidupan batin kita, suara bijak dalam diri yang membimbing kita, perlahan tersingkir. Kita terus sibuk. Kita terus terdistraksi dan sering kali mati rasa. Pada titik tertentu, jalan menuju diri sendiri tertutup begitu saja.
Mengapa Hidup Terasa Begitu Berat dan Apa yang Bisa Anda Lakukan?
Apa yang bisa dilakukan menghadapi semua disrupsi, ketidakpastian, dan keterputusan yang membebani serta memecah kita? Tentu saja tidak ada aplikasi yang bisa menyelesaikan semuanya. Tidak ada solusi instan.
Baca Juga: Bukan Dunia yang Berat, Kita yang Salah Bertarung
Namun ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan agar tetap berpijak dengan kuat.
Pertama, ketika menghadapi disrupsi, turunkan jangkar Anda.
Sandarkan diri pada hal-hal yang bertahan lama: kemanusiaan Anda, tujuan hidup Anda, nilai-nilai Anda, keluarga Anda, komunitas Anda, dan keyakinan Anda. Anda akan lebih mampu menghadapi badai jika memiliki sesuatu yang kokoh untuk dipegang.
Kedua, ketika menghadapi ketidakpastian, carilah kejelasan.
Anda tidak dapat mengendalikan masa depan, tetapi Anda dapat mengenal diri sendiri. Pahami dengan jelas siapa diri Anda dan apa yang paling penting bagi Anda. Kejelasan itulah yang akan menjadi kompas saat segala sesuatu di sekitar terus berubah.
Dan ketiga, ketika menghadapi keterputusan, bangun kembali koneksi.
Kekuatan yang menjauhkan Anda dari diri sendiri dan orang lain sangat kuat dan terus bekerja tanpa henti. Sebaliknya, kekuatan yang menjaga Anda tetap terhubung membutuhkan pilihan sadar dan perhatian yang disiplin. Jadi, letakkan layar Anda. Hubungi teman Anda. Duduklah dalam keheningan cukup lama hingga Anda bisa mendengar suara pikiran sendiri. Kembalilah pada keyakinan Anda, komunitas Anda, dan ruang batin Anda yang luas serta penuh misteri. Koneksi tidak datang begitu saja. Anda harus memilih untuk meraihnya.
Ketika Anda berada di tengah gejolak yang datang bertubi-tubi, sangat wajar jika bertanya, mengapa hidup terasa begitu berat? Pertanyaan itu bukan tanda kelemahan. Itu adalah respons yang sepenuhnya normal terhadap beratnya dunia yang kita hadapi saat ini. Dan rasa berat tidak harus berakhir menjadi kekalahan atau keterpurukan.
Menurunkan jangkar, mencari kejelasan, dan membangun kembali koneksi bukanlah cita-cita jauh yang menunggu hidup menjadi tenang. Ketiganya adalah praktik yang dapat membantu Anda menemukan kembali keseimbangan sekarang juga, di tengah kekacauan dan kebisingan.
Badai ini mungkin tidak akan segera reda. Namun Anda tetap bisa menenangkan diri di dalamnya.
Turunkan jangkar. Temukan kejelasan. Bangun kembali koneksi.

Belle Co, Pexels
Catatan Tambahan: Inspirasi Saat Hidup Terasa Begitu Berat
- "Dia berdiri di tengah badai, dan ketika angin tidak bertiup ke arah yang diinginkannya, dia menyesuaikan layarnya." — Elizabeth Edwards, penulis, pengacara, dan aktivis
- "Kita bahkan tidak tahu seberapa kuat diri kita sampai kita dipaksa mengeluarkan kekuatan yang tersembunyi itu." — Isabel Allende, penulis
- "Kedamaian tetap ada, bahkan di tengah badai." — Vincent van Gogh, pelukis Belanda
- "Ketangguhan adalah kesadaran bahwa hanya Anda yang memiliki kekuatan dan tanggung jawab untuk bangkit kembali." — Mary Holloway, dokter dan filantropis
- "Yang paling penting adalah seberapa baik Anda berjalan melewati api." — Charles Bukowski, penyair Jerman-Amerika
- "Seorang jenius adalah orang yang mampu melakukan hal biasa ketika semua orang di sekitarnya kehilangan kendali." — Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis
- "Orang yang baik memberi warna pada setiap peristiwa dengan warnanya sendiri... dan menjadikan apa pun yang terjadi sebagai manfaat bagi dirinya." — Seneca, filsuf Stoik Romawi Kuno
- "Pisahkan api, maka Anda akan lebih cepat memadamkannya." — Publilius Syrus, penulis Latin
- "Satu-satunya cara memahami perubahan adalah dengan terjun ke dalamnya, bergerak bersamanya, dan ikut menari." — Alan Watts, penulis Inggris-Amerika
- "Bukan dalam ketenangan hidup atau situasi yang damai karakter besar dibentuk. Kebiasaan pikiran yang kuat terbentuk melalui perjuangan menghadapi kesulitan. Kebutuhan yang besar akan melahirkan kebajikan yang besar." — Abigail Adams, surat kepada putranya, John Quincy Adams, tahun 1780
Semoga Anda selalu diberikan kekuatan untuk menjalaninya. – Gregg
Artikel ini pertama kali diterbitkan di LinkedIn Gregg Vanourek.
Kepribadian
Tags: Konsultasi, Pertumbuhan
Gregg Vanourek adalah seorang penulis buku Triple Crown Leadership dan LIFE Entrepreneurs, pembicara TEDx Talk, founder coaching center Gregg Vanourek LLC, dan kontributor Harvard Business blogs, New York Times, Fast Company, BusinessWeek, U.S. News & World Report, dan masih banyak lagi.





