Masa Depan yang Semakin Ceroboh

Aug 22, 2026 4 Min Read
ai fail
Kecepatan terasa produktif. Kualitas jarang terasa demikian.

Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.

Kemarin, saya berbincang dengan seorang teman yang merupakan eksekutif dan baru saja memasuki masa semi-pensiun set elah menjalani karier yang panjang. Ia memutuskan untuk memulai praktik konsultasi kecil dan dengan bangga menunjukkan logo baru yang dibuatnya menggunakan GenAI kepada anaknya yang berusia 14 tahun. Anaknya melihat logo tersebut selama sekitar dua detik. “Ayah,” katanya, “itu AI slop.”

Teman saya benar-benar terkejut. Menurutnya, logo itu terlihat sangat bagus. Namun, anaknya langsung mengenali sesuatu yang tidak lagi bisa ia lihat dengan jelas, seolah-olah setelah menjalani karier panjang di bidang layanan profesional yang mengutamakan kualitas, standarnya terhadap apa yang disebut “bagus” menjadi semakin kabur. Dan perubahan itu terjadi dengan CEPAT.

Percakapan tersebut terus terngiang di benak saya karena menurut saya, hal itu menunjukkan pertanyaan yang jauh lebih besar. Bukan tentang apakah hasil dari AI itu baik atau buruk, melainkan apakah AI sedang mengubah definisi kita tentang “baik” secara keseluruhan. AI memang merupakan tool yang dapat mengubah kehidupan, tetapi jika tidak digunakan dengan bijak, AI juga dapat mengancam standar kualitas dalam seluruh pekerjaan korporat. Dan dampaknya bisa sangat nyata.

Baca Juga: Skill Terpenting di Era AI Bukan Teknologi, Melainkan…

Daya Tarik Kecepatan

Selama bertahun-tahun, organisasi memberikan penghargaan terhadap kecepatan. Kini, AI membuat kecepatan tersebut seolah tidak terbatas. Membutuhkan rincian anggaran yang mendalam? Selesai. Membutuhkan draf pertama? Selesai. Membutuhkan 50 ide? Selesai.

Kecepatan dan volume memang terasa memabukkan. Keduanya mengaktifkan bagian otak yang menyukai kemajuan, hal-hal baru, dan kepuasan instan.

Sebaliknya, kualitas sama sekali tidak glamor. Kualitas membutuhkan waktu, beberapa putaran penyuntingan, dan pertanyaan lanjutan. Kualitas adalah sesuatu yang kita bangun diam-diam pada dini hari dan larut malam sambil ditemani espresso. Kualitas membuat kita rela membuang pekerjaan yang sebenarnya sudah cukup baik demi mencari hasil yang luar biasa. Kecepatan memberi kita dopamin, sementara kualitas menuntut kesabaran. Menurut Anda, mana yang lebih sering menang dalam dunia korporat?

Namun, bahaya sebenarnya bukan karena AI mampu menghasilkan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Bahayanya adalah kita perlahan mulai melupakan seperti apa pekerjaan yang luar biasa itu. Para ahli ekologi bahkan memiliki istilah untuk fenomena ini: Shifting Baseline Syndrome.

Ahli biologi kelautan Daniel Pauly menciptakan istilah tersebut ketika mempelajari perikanan. Setiap generasi mewarisi lautan yang sudah lebih sedikit sumber dayanya dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, karena tidak ada yang mengingat seperti apa kondisi laut pada masa sebelumnya, setiap versi yang semakin berkurang tersebut akhirnya menjadi definisi baru dari sesuatu yang dianggap “normal”.

Tidak ada yang merasa sedang menurunkan standar karena standarnya terus bergeser, dan sayangnya bukan ke arah yang benar. Pekerjaan korporat mungkin menghadapi risiko yang sama. Seorang karyawan baru bergabung dengan perusahaan ketika setiap draf pertama dibuat menggunakan AI. Ia tidak pernah mengalami seperti apa tulisan yang dibuat dengan penuh pemikiran sebelumnya. Akibatnya, definisinya tentang “luar biasa” sejak awal sudah sedikit lebih datar. Kemudian, ia melatih generasi berikutnya. Pada akhirnya, seluruh organisasi perlahan menjauh dari craftsmanship, dan tidak ada lagi yang tersisa untuk mengingat standar awal dengan cukup baik hingga menyadari bahwa sesuatu telah berubah.

Gunakan atau Kehilangan

Sebagian besar pekerja sudah kelebihan beban dan kelelahan. Karena itu, sangat menggoda untuk terus menekan tombol yang paling mudah.

Namun, ada penelitian lain yang semakin memperkuat kekhawatiran ini, yaitu tentang Skill Decay. Para peneliti telah mempelajari fenomena ini selama puluhan tahun di bidang penerbangan, kedokteran, dan militer, yaitu bidang-bidang yang konsekuensinya bisa sangat besar ketika seseorang melupakan cara melakukan keterampilan penting.

Salah satu penelitian yang paling banyak dikutip, yang dilakukan oleh Arthur, Bennett, Stanush, dan McNelly, menemukan sesuatu yang penting: penurunan keterampilan tidak terjadi secara perlahan, tetapi justru semakin cepat. Semakin lama sebuah keterampilan tidak digunakan, semakin cepat keterampilan tersebut mengalami kemunduran.

Hal ini penting karena banyak keterampilan yang kini dilakukan AI untuk kita justru merupakan keterampilan yang berkembang melalui pengulangan, seperti menulis, menyunting, berpikir kritis, menganalisis, dan membuat penilaian. Jika kita berhenti melatih kemampuan tersebut karena AI dapat menghasilkan sesuatu yang “cukup baik”, kita tidak seharusnya terkejut ketika kemampuan kita sendiri untuk mengenali kualitas mulai melemah.

Menjaga Standar Kualitas

Lalu, apa solusi untuk standar kualitas kita yang semakin menurun? Tantangan kepemimpinan yang sebenarnya bukanlah memutuskan apakah kita harus menggunakan AI, melainkan menentukan di mana kualitas harus tetap menjadi tanggung jawab manusia, bahkan jika itu berarti mengorbankan kecepatan. AI dapat menghasilkan draf pertama, tetapi manusia tetap harus memegang kendali dan memberikan sentuhan akhir pada hasil tersebut.

Diperlukan disiplin yang nyata agar kita tidak terjebak dalam arus pekerjaan dan terus menghasilkan output dengan lebih cepat hanya karena kita bisa melakukannya. Para pemimpin tetap harus melindungi merek dan masa depan organisasi dari penurunan kualitas secara keseluruhan, ketika hasil yang dianggap dapat diterima menjadi semakin ceroboh dari waktu ke waktu.

Dan bukan hanya ceroboh, tetapi juga hambar. Kata ini seharusnya menimbulkan rasa waspada yang sehat dalam diri para pemilik bisnis.

Pemimpin Menciptakan Standar

Saya punya sebuah prediksi. Dalam beberapa tahun ke depan, “Human Made” akan menjadi penanda kualitas yang bermakna. Sama seperti konsumen mencari label “Made in America”, “Organic”, atau “Fair Trade”, pekerjaan kreatif dan konsultasi pada akhirnya mungkin memiliki penanda tersendiri: Ada manusia yang benar-benar mengerjakan dan membentuk ini.

Sebagian besar pekerjaan nantinya akan menjadi kombinasi antara pemikiran manusia dan percepatan yang diberikan mesin. Namun, karena AI akan semakin mudah ditemukan di mana-mana, craftsmanship yang benar-benar autentik dalam berbagai bentuk akan menjadi semakin bernilai. Kelangkaan selalu menciptakan nilai, dan kualitas mungkin saja menjadi komoditas yang paling dicari berikutnya.

Sebagai pemimpin, Anda tidak hanya membentuk hasil kerja hari ini. Anda juga membentuk standar baru untuk hari esok. Dan ketika sebuah organisasi sudah melupakan seperti apa kualitas yang luar biasa itu, akan sangat sulit untuk mengingatnya kembali.

Artikel ini juga dipublikasikan di LinkedIn Juliet Funt.

Share artikel ini

Juliet Funt

Juliet Funt adalah Founder dan CEO dari Juliet Funt Group & penulis buku best seller ‘A Minute to Think’.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

A Woman in Beige Blazer Holding a Notebook

Refleksi Satu Tahun di Dunia HR

Oleh Fathiyatus Syafigah. Satu tahun menjadi HR mengajarkan pentingnya fondasi, senior supportive, koneksi, skill, dan menjadi wajah perusahaan.

Jan 08, 2026 5 Min Read

leaders

Apakah Anda Mengenali 10 Tipe Pemimpin Ini?

Bersama Tom MC Ifle, memahami berbagai tipe pemimpin yang dapat menghambat tim dan mengapa tidak semua orang yang memiliki posisi pemimpin mampu memimpin dengan baik.

Aug 15, 2026 13 Min Podcast

disiplin waktu

3 Cara Membangun Kedisiplinan Diri

Jangan biarkan rasa malas menghambat potensimu—tonton sekarang dan mulai perubahanmu!

Jan 30, 2025 34 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest