Apakah Saya Mengalami Burnout, atau Hanya Tidak Bisa Berkata Tidak?

Alghozy, Unsplash
Jika Anda melewatkan Bagian 6, baca di sini.
Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan.
Sebagai pengantar, artikel-artikel ini bukanlah artikel tentang nasihat karier…
Ini adalah seri artikel tentang bagaimana rasanya berada di garis awal.
Bukan untuk memberikan jawaban, tetapi untuk membantu memahami pengalaman tersebut, yaitu proses belajar dan berkembang.
Semua orang ingin sukses dalam kariernya. Semakin cepat, semakin baik.
Tetapi kenyataannya, tidak apa-apa jika Anda belum memiliki semua jawabannya.
Sadari bahwa Anda tidak sendirian dan pengalaman yang Anda alami tetap valid.
Ini bukan permainan tentang kecepatan atau perbandingan, melainkan tentang ketahanan dan kesabaran.
Apakah Anda kesulitan mengatakan tidak? Jika iya, Anda tentu tidak sendirian. Saya sendiri sudah berkali-kali mengalaminya. Terkadang, seseorang memang benar-benar membutuhkan bantuan. Namun, di lain waktu, ada orang yang sekadar melimpahkan tanggung jawab mereka kepada Anda. Apa pun situasinya, secara teknis kita selalu punya pilihan. Kita bisa mengatakan tidak. Lalu, mengapa terkadang hal itu begitu sulit dilakukan?
——— ✦ ———
Bagi sebagian orang, mengatakan tidak terasa mudah. Mereka dapat menetapkan batasan dengan cepat dan menjaga waktu mereka dengan baik. Namun, bagi orang lain, terutama mereka yang masih berada di tahap awal karier, hal ini terasa jauh lebih sulit. Dan sejujurnya, saya rasa sebagian dari kesulitan itu berasal dari rasa takut.
Takut dianggap tidak mampu. Takut mengecewakan orang lain. Takut terlihat tidak dapat diandalkan. Ketika memasuki peran atau lingkungan baru, kesan pertama terasa penting. Kita ingin dikenal sebagai seseorang yang dapat diandalkan, mampu menghadapi tekanan, dan menyelesaikan pekerjaan tanpa banyak mengeluh. Pada awalnya, pola pikir seperti ini terasa produktif. Sampai perlahan-lahan, semuanya mulai menguras diri kita.
——— ✦ ———
Burnout adalah sesuatu yang semakin sering saya lihat pada orang-orang di sekitar saya. Banyak di antaranya terjadi ketika seseorang mendorong dirinya melewati batas, baik secara sukarela maupun karena keadaan. Mereka terus mengatakan, “Saya baik-baik saja,” sambil diam-diam memikul kelelahan yang belum sepenuhnya mereka sadari atau proses.
Hal yang menakutkan adalah terkadang mereka sendiri tidak menyadari apa yang sedang terjadi sampai kondisi tersebut mulai memengaruhi mereka secara mental dan emosional. Kita jarang benar-benar tahu apa yang sedang dihadapi seseorang di dalam dirinya. Ketakutan, ekspektasi, tanggung jawab, atau tekanan yang mereka berikan kepada diri sendiri. Terkadang kita lupa bahwa manusia adalah manusia. Bukan mesin. Bukan sistem. Bukan AI.
——— ✦ ———
Saya ingat pernah hampir mengalami burnout selama beberapa bulan pertama di pekerjaan pertama saya. Pada awalnya, semuanya terasa menyenangkan. Proyek demi proyek, mempelajari hal-hal baru, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan sesuatu. Saya terus bergerak, terus menghasilkan sesuatu, dan sejujurnya, saya menyukainya. Saya bergerak dengan mengandalkan momentum.
Dan karena saya merasa mampu melakukannya dengan baik, saya terus mengatakan ya. Ya untuk lebih banyak pekerjaan. Ya untuk lebih banyak tanggung jawab. Ya untuk terus membuktikan diri berulang kali.
——— ✦ ———
Kemudian, tiba-tiba semuanya melambat. Selama beberapa waktu, proyek yang saya kerjakan lebih sedikit dan bukannya merasa lega, saya justru merasa tidak nyaman. Bahkan hampir cemas. Karena jika saya tidak terus menghasilkan atau berkontribusi, lalu apa tujuan saya berada di sana?
Kedengarannya aneh, tetapi saya menyadari bahwa saya telah mengaitkan nilai diri saya dengan menjadi produktif setiap saat.
——— ✦ ———
Ketika pekerjaan akhirnya kembali meningkat, ada sesuatu yang sudah berubah. Motivasi saya tidak lagi sama. Semangat yang sebelumnya mendorong saya begitu keras hampir sepenuhnya padam. Rasanya seperti pikiran saya tidak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk melambat. Saya sudah terlalu lama beroperasi dengan kecepatan penuh sehingga ketika semuanya tiba-tiba berhenti, segala sesuatu yang selama ini saya abaikan datang mengejar saya sekaligus.
Saya rasa jenis burnout seperti ini jarang dibicarakan. Bukan hanya kelelahan karena terlalu banyak bekerja, tetapi kelelahan karena terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa diri kita berharga.
——— ✦ ———
Kita memang tidak dirancang untuk selalu berfungsi dengan sempurna. Kita akan melakukan kesalahan. Terkadang kita akan mengecewakan orang lain. Kita akan merasa kewalahan, tidak dipahami, dan lelah secara emosional.
Itu tidak membuat kita lemah. Itu membuat kita menjadi manusia.
——— ✦ ———
Jadi, apakah tidak apa-apa jika kita menetapkan batasan? Apakah tidak apa-apa untuk mengatakan tidak? Menurut saya, jawabannya adalah ya.
Pertumbuhan memang membutuhkan ketidaknyamanan. Pemimpin yang baik akan mendorong Anda untuk keluar dari zona nyaman, dan saya setuju dengan hal itu. Sering kali, begitulah cara kita berkembang. Namun, bahkan kemampuan kita untuk terus berkembang pun memiliki batas. Dan mempelajari batas tersebut adalah hal yang penting. Karena jika sesuatu terus diregangkan terlalu jauh dalam waktu yang terlalu lama, pada akhirnya sesuatu itu akan patah.
——— ✦ ———
Pada saat yang sama, saya rasa para pemimpin dan manajer juga memiliki peran yang sangat besar dalam hal ini. Ingat bagaimana rasanya ketika Anda berada di posisi tersebut. Ingat bagaimana rasanya ketika ingin membuktikan diri, ingin memberikan kesan yang baik, dan ingin merasa diterima.
Orang-orang yang berada di tahap awal karier masih belajar. Mereka sedang berusaha melakukan yang terbaik. Mereka akan membuat kesalahan. Namun, jika dibimbing dengan baik, mereka bisa menjadi salah satu orang terkuat dalam tim Anda.
Masalah mulai muncul ketika kita berhenti melihat seseorang sebagai manusia dan mulai melihat mereka hanya melalui output, KPI, tenggat waktu, dan metrik kinerja. Karena ketika seseorang merasa bahwa dirinya hanya berharga saat produktif, burnout menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.
——— ✦ ———
Sebenarnya, ada alasan mengapa hal ini terjadi.
Job Demands-Resources Model menjelaskan bahwa burnout sering terjadi ketika tuntutan yang diberikan kepada seseorang secara konsisten lebih besar daripada sumber daya yang mereka miliki untuk menghadapinya.
Tuntutan tersebut dapat berupa beban kerja, tekanan, stres emosional, atau ekspektasi. Sementara itu, sumber daya yang dimaksud dapat berupa sistem dukungan, waktu untuk memulihkan diri, bimbingan, otonomi, dan rasa aman secara psikologis.
——— ✦ ———
Dan ketika salah satunya terus meningkat sementara yang lainnya semakin berkurang, seseorang perlahan-lahan akan terkuras. Tidak selalu langsung terasa. Namun, seiring waktu. Perlahan dan diam-diam.
Mungkin itulah alasan burnout bisa begitu sulit dikenali. Karena terkadang, burnout tidak terasa seperti sedang benar-benar runtuh. Terkadang, rasanya hanya seperti perlahan kehilangan energi untuk terus berpura-pura bahwa kita baik-baik saja.
Jangan lupa Subscribe newsletter kami untuk mendapatkan rekomendasi artikel dan konten pilihan setiap bulan.
Kepribadian
Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif
Arric memiliki pengalaman bertahun-tahun di dunia korporat, dengan spesialisasi di bidang pemasaran dan manajemen proyek. Berbekal latar belakang Biomedical Science, perjalanan kariernya dimulai dengan berbagai ketidakpastian sebagai lulusan baru yang menapaki jalur yang awalnya tidak ia rencanakan. Melalui tulisannya, ia berharap dapat menggambarkan realitas dunia kerja sehingga pembaca merasa dipahami dan tervalidasi, bahwa tidak apa-apa jika belum memiliki semua jawaban, dan tidak apa-apa untuk mengakui ketika sedang berjuang.





