5 Kiat Mengelola Tim Yang Beragam

Oleh Sandy Clarke|14-12-2020 | 4 Min Read
Source: Andrea Piacquadio dari pexels.com

Terlepas dari kemajuan yang disambut baik di tempat kerja karena semakin banyak pemimpin yang merangkul keragaman, ada beberapa yang masih percaya bahwa tempat kerja yang beragam menciptakan keresahan dalam suatu organisasi.

Ini masalah yang valid. Masih ada yang beranggapan bahwa lebih baik bekerja dengan orang-orang 'seperti kita'. Ada alasan menarik dibalik fakta mengapa manusia menjadi kesukuan: hal itu dengan cepat memperkuat hubungan dan kepercayaan, serta mengembangkan rasa stabilitas dan keamanan.

Namun, saat manusia berevolusi melampaui sistem kesukuan, kita mulai berkembang dengan kecepatan eksponensial, memperoleh manfaat dari pengetahuan, produk, layanan, budaya, dan adat istiadat yang baru dan beragam. Saat kita mengembangkan cara baru dan jaringan yang lebih kuat di sejumlah besar orang, kehidupan meningkat secara keseluruhan, dari harapan hidup hingga perdagangan dan segala sesuatu di antaranya.

Secara historis, merangkul keanekaragaman telah menghasilkan manfaat yang tak terhitung jumlahnya, tetapi masih ada keraguan untuk mempromosikan dan membangun komunitas yang beragam dalam beberapa organisasi. Bagi yang menyambut, akan memperoleh kelimpahan baik dari keuntungan dan kejelasannya.

Baca juga: Membentuk Diri Menjadi Seorang Pemimpin


Tim yang beragam memberikan organisasi kekayaan akan pengetahuan, pandangan dan pengalaman. Ini memberikan keunggulan dalam hal pemecahan masalah dan pengambilan keputusan, belum lagi inovasi dan pemikiran asli di luar kotak, karena pemikiran kelompok yang homogen cenderung lebih sempit.

Pemimpin yang menyambut keragaman ke dalam organisasinya akan berada pada posisi yang lebih baik untuk beradaptasi dengan perubahan dalam industri mereka dan dapat mempertahankan keunggulan dan tetap kuat di atas pesaing yang kurang fleksibel. Ada juga fakta bahwa, karena perusahaan yang lebih muda menjadi lebih beragam secara default, para pemimpin bisnis akan tampak lebih menarik bagi pelanggan mereka dan karenanya organisasi mereka dianggap mencerminkan tingkat keterbukaan pikiran yang serupa.

Satu pertanyaan yang masih ada di bibir beberapa pemimpin mungkin adalah, "Saya memang mendukung keberagaman, tetapi bagaimana cara terbaik untuk memimpin tim yang beragam?".

Ini pertanyaan penting, mengingat keragaman menghadirkan beberapa tantangan sekaligus banyak manfaatnya. Orang memiliki kebutuhan, pandangan, dan perspektif yang berbeda. Sangat penting bagi setiap pemimpin untuk mengetahui cara memahami dan terlibat dengannya secara efektif.

Baca juga: 5 Cara Terbaik Melibatkan Karyawan Anda


Mari kita lihat lima langkah yang dapat diambil para pemimpin untuk memastikan bahwa mereka memimpin tim yang terdiri dari beragam orang yang terdorong dan bermotivasi untuk bekerja sama demi tujuan bersama:

1. Lihat orang-orangnya, bukan stereotipnya.

Pertama-tama, penting bagi para pemimpin untuk menyadari bahwa, meskipun orang dapat dikelompokkan menurut bangsa, budaya, kemampuan, dan sebagainya, tidak ada dua orang dalam suatu kelompok yang persis sama.
Dengan pemikiran tersebut, pemimpin harus pertama-tama dan terutama memperhatikan kebutuhan individu dan itu hanya dapat terjadi melalui komunikasi langsung, daripada mengandalkan stereotip umum tentang apa yang mungkin dipercaya oleh seorang pemimpin sebagai kebutuhan anggota timnya.

2. Bersikaplah fleksibel dalam pendekatan Anda

Karena orang-orang di dalam angkatan kerja akan memiliki kebutuhan yang berbeda, sangat penting bagi para pemimpin untuk memperhatikan penyediaan fleksibilitas yang wajar di tempat kerja. Misalnya, karyawan dengan kebutuhan khusus mungkin perlu datang untuk bekerja lebih lambat dari biasanya, atau pergi lebih awal.
Mereka mungkin perlu menghadiri janji yang berhubungan dengan kesehatan atau mengambil satu atau dua istirahat tambahan selama jam kerja. Dengan memiliki fleksibilitas yang wajar dalam organisasi, pemimpin dapat menunjukkan keinginan proaktif untuk mendukung tenaga kerja yang beragam.

Baca juga: Pemimpin Tidak Perlu Diakui


3. Pertimbangkan untuk memperkenalkan sesi sharing

Meskipun mungkin terdengar menarik perhatian, mengadakan sesi sharing (mungkin saat makan siang) dapat menumbuhkan pemahaman yang lebih dalam dan lebih bermakna di antara karyawan, dan mereka juga dapat memberikan banyak wawasan kepada para pemimpin. 

Bagaimana rasanya menyesuaikan diri dengan budaya atau negara baru? Jenis tantangan apa yang dihadapi seseorang dengan disabilitas tertentu? Bagaimana seorang ibu baru menghadapi tanggung jawab pekerjaan dengan komitmen keluarga? Sesi sharing dapat membuat orang merasa didengar dan dihormati, dan memberikan informasi berharga tentang bagaimana mereka dapat lebih baik didukung oleh organisasi.

4. Kenali dan rayakan perbedaan yang ada

Sering ada kecenderungan yang salah arah untuk berpura-pura bahwa 'kita semua sama' – tetapi ini sesungguhnya tidak lebih dari kata-kata yang jauh dari kebenaran. Setiap orang berbeda. Daripada berusaha untuk menghindari pengakuan akan perbedaan di tempat kerja, mereka harus dirayakan karena nilai yang mereka bawa ke dalam organisasi. Hal ini tidak hanya membantu menormalkan keragaman dalam organisasi, tetapi juga menciptakan tenaga kerja yang harmonis.

5. Memiliki pikiran terbuka dan bersikap inklusif

Merupakan hal yang umum dalam organisasi mana pun bagi para pemimpin untuk mencari masukan dari kolega terdekat atau orang-orang yang disukai. Ini bisa menjadi bumerang, karena kebanyakan orang akan cenderung setuju dengan apa pun yang disarankan, atau memberi tahu pemimpin apa yang ingin pemimpin itu dengar.

Baca juga: Menjadi Pemimpin Bijak, Mendengar dengan Baik


Dengan sengaja mencari perspektif yang berbeda dari berbagai orang, seorang pemimpin dapat mengetahui rahasia perspektif baru dan ide-ide baru yang mungkin tidak pernah mereka temui. Memiliki orang-orang di sekitar Anda yang (tampaknya) berpikir seperti Anda dapat menggoda ego, tetapi permata yang sebenarnya sering ditemukan di benak mereka yang berpikir berbeda dari kita.

Tonton juga video dengan topik serupa "Pengaruh Budaya dalam Lingkungan Kerja!"

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Sandy is a former Leaderonomics editor and is now a freelance writer based in Malaysia, and previously enjoyed 10 years as a journalist and broadcaster in the UK. As editor of www.leaderonomics.com, he has been fortunate to gain valuable insights into what makes us tick, which has deepened his interests in leadership, emotions, mindfulness, and human behaviour.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.