Bagaimana Anda Bisa Menjadi Seorang Pemimpin Yang Berempati?

Oleh Roshan Thiran|14-12-2020 | 5 Min Read

Beberapa minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang teman lama. Saya bertanya kepadanya mengenai bagaimana pekerjaan barunya. Dia telah meninggalkan organisasi multinasional yang besar untuk bergabung dengan organisasi pemerintah yang progresif dan dia berharap hal itu dapat membuat perbedaan besar untuk bangsa.

Dia menghela napas dan mengangkat bahunya. Dia kemudian meratapi bagaimana semuanya, termasuk semua keputusan yang sudah dibuat, berputar mengitari pemimpin "besar" dan semua orang harus serta-merta menurut begitu saja sesuai dengan instruksi yang diberikan dari atas. Dia berandai untuk tetap berada di organisasi lamanya dan tidak terpengaruh oleh sindrom "rumput lebih hijau di halaman tetangga ".

Untungnya, dalam beberapa entitas perusahaan, evolusi kepemimpinan telah bergeser dari gaya memimpin 'Orang Besar’, di mana satu orang yang bertanggung jawab dan mengerti untuk memanggil semua tembakan, ke hubungan yang lebih berkolaboratif antara seorang pemimpin dan tim.  Mereka datang dengan pesan, “Mari kita cari tahu bersama.”

Kolaborasi adalah sebuah cara yang bagus untuk melakukan pendekatan dalam bidang pasar yang penuh dengan kompetisi. Dari perspektif bisnis, berbagai ide atau solusi yang diberikan dari satu atau dua orang, sering kali memberikan lebih banyak hasil yang positif, karena hal ini dapat memakan waktu lebih lama jika dipikirkan hanya oleh satu orang. 

Namun, ketika kita berusaha untuk berkolaborasi dengan orang lain, ada satu sumber daya utama dari kotak alat kecerdasan emosional yang sering terlewatkan: Empati. Tampaknya sangat jelas - bagaimana kita bisa bekerja sama dengan baik bersama orang lain jika kita mengabaikan proses untuk membangun hubungan dengan mereka dan berusaha untuk melihat sesuatu dari sudut pandang mereka, dan beranggapan bahwa setiap orang secara otomatis berada pada gelombang yang sama?

“Menurut survei yang tidak dipublikasikan dari lulusan kami selama 10 tahun terakhir yang kini menempati posisi profesional, katanya empati merupakan hal yang paling kurang di antara manajer menengah dan eksekutif senior, padahal orang-orang itulah yang paling membutuhkannya karena tindakan mereka dapat mempengaruhi begitu banyak orang."


Apakah empati itu?

Menurut Paul Ekman - seorang pakar dunia ahli mengenai emosi - ada tiga jenis empati, yaitu:

1. Empati kognitif

Hanya mengetahui bagaimana perasaan seseorang dan apa yang sedang dipikirkan dibenak mereka. Pada intinya, ini adalah pengambilan perspektif, di mana kita mungkin belum tentu memiliki simpati tetapi kita sadar akan emosi orang lain.

2. Empati emosional

Ketika kita benar-benar mengerti dan merasakan apa yang orang lain rasakan: ini adalah keterampilan yang digunakan para dokter dan perawat, sebagai contoh, mereka akan memanfaatkan waktu yang dihabiskan dengan pasien mereka yang sedang berada di bawah perawatan mereka.

3. Empati yang penuh dengan kasih

Bentuk empati yang paling holistik. Tidak hanya kita menyadari bagaimana perasaan seseorang dan selaras dengan emosi mereka, tetapi kita juga didorong untuk membantu orang tersebut jika diperlukan.

Ini adalah bentuk empati yang paling holistik.

Tidak hanya kita menyadari bagaimana perasaan seseorang dan selaras dengan emosi mereka, tetapi kita juga didorong untuk membantu orang tersebut jika mereka membutuhkannya.

Saya sendiri telah mengalami ketiga bentuk empati tersebut dalam situasi yang berbeda-beda, namun tidak ada satupun bentuk empati tersebut yang mampu mengalahkan satu sama lain

Ada situasi tertentu di mana empati bersifat kognitif - dimana kita mengerti bagaimana perasaan orang lain namun tidak terikat dengan situasi tersebut - ini sangat penting ketika kita harus membuat keputusan yang sulit 

Meskipun demikian, orang yang memiliki empati yang tinggi akan menjadi teman yang luar biasa untuk dimiliki. Dan ini membuat kita bertanya, apakah empati penting dalam kepemimpinan di dunia bisnis?

Mengapa empati penting dalam kepemimpinan?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sangat penting untuk kita membuat perbedaan antara empati otentik karna kita mungkin cenderung untuk melihatnya secara umum. Empati yang bersifat otentik, menurut saya adalah ketika sang pemimpin berusaha untuk mendengarkan, memahami dan peduli, sambil memperhatikan konteks dan perspektif.

Empati bukanlah mengenai "bersikap baik" - ini tentang mengenali pendekatan yang sesuai untuk diambil ketika dihadapkan dengan perjuangan seseorang yang sedang membutuhkan.

Contohnya, karyawan yang sedang berjuang dalam pekerjaan baru mereka,
Meskipun mereka telah memberikan segala upaya untuk menyesuaikan diri dan melakukan yang terbaik, mereka mungkin membutuhkan lebih banyak jenis dukungan dan bimbingan dari pemimpin mereka yang dapat mendorong mereka dengan empati penuh kasih.

Pada sisi lain, seorang karyawan yang gagal menarik beban mereka tanpa alasan yang jelas dan selalu datang terlambat ke kantor, mereka akan membutuhkan pendekatan yang sangat berbeda, jika pemimpin berharap untuk menanganinya secara efektif dengan situasi tersebut.

Dalam bukunya, Leaders Eat Last, Simon Sinek menunjukkan bahwa organisasi yang luar biasa “Memprioritaskan kesejahteraan rakyat mereka dan, sebagai imbalannya, mereka harus memberikan segala apa yang mereka punya untuk melindungi dan memajukan kesejahteraan satu sama lain dan organisasi." Ketika berbicara tentang para pemimpin - apakah bisnis kecil rumahan atau MNC (perusahaan multinasional) - ia menambahkan bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjadi pemimpin yang kita impikan saat kita menjalani perjalanan menuju tempat kita saat ini.

Apapun tingkat kepemimpinan kita, hubungan kita harus dibangun di sekitar orang-orang dan kita semua ingin bekerja sama dengan mereka yang berusaha memahami kebutuhan, harapan, dan keinginan kita. Seperti yang selalu terjadi, itulah peran dari mereka yang ada dalam posisi kepemimpinan dimana perlu menetapkan standar dengan memimpin melalui teladan.

Bersikap empati terhadap orang lain tidak hanya memperkuat hubungan dan meningkatkan tingkat kepercayaan dan keyakinan, itu juga berguna sebagai perekat yang menyatukan seluruh organisasi. Tanpa empati, semuanya berpotensi untuk berantakan.

Pemimpin tidak hanya harus membuka telinga dan mata mereka terhadap aktivitas di sekitar mereka; mereka juga harus belajar untuk mendengarkan ke hati orang lain. Demikian juga, kecuali karyawan yang benar-benar berempati dengan para pemimpin mereka (yaitu memahami alasan emosional dan logis untuk keputusan yang dibuat), organisasi mungkin tidak akan pernah mencapai kepada potensi penuh mereka.

Tapi bagaimana caranya?

Saya baru-baru ini menyaksikan sebuah dialog antara tim kepemimpinan dari suatu organisasi dimana para pemimpin berbicara kepada satu sama lain, tetapi hampir tidak ada dari mereka yang berusaha untuk mendengarkan atau mecoba untuk menemukan peluang kolaboratif.

Bagi saya, titik awal dari sebuah organisasi empatik adalah ketika kedua pemimpin dan karyawan berhenti berbicara dan mulai mendengarkan untuk memahami.

Empati yang tulus dapat mengubah bisnis. Pada tahun 1999, saya ditugaskan untuk mengubah bisnis penerbangan dan datang sebagai direktur eksekutif dan kepala keuangan dari bisnis tersebut.

Kami hanya perusahaan kecil dengan pelanggan terbatas dan akhirnya kami mendapatkan pelanggan besar dari China. Tapi begitu kami mendapat pesanan, kami melakukan kesalahan dalam pekerjaan dan pelanggan menjadi marah. Kami berharap bahwa dengan melakukan pekerjaan yang baik kami dapat menghasilkan lebih banyak pekerjaan dari mereka tetapi sebaliknya, itu tampak seperti akhir dari sebuah hubungan.  Chief executive officer kami, Peter Jerin merasakan sakit yang signifikan, bukan atas kami, tapi atas pelanggan. Dia tahu bahwa kepala bagian teknik di maskapai itu mempercayai kami dengan mesin mereka tetapi mendapat pekerjaan yang buruk karena kepercayaannya.

Kami terbang dan turun untuk meminta maaf. Tapi pelanggan kami menolak untuk berjumpa dengan kami. Kami tinggal di luar kantornya hampir sepanjang hari sampai dia akhirnya keluar. Dan kami membungkuk padanya dan meminta maaf sebesar-besarnya, benar-benar berempati dengan rasa sakitnya.

Dia pergi tanpa menjawab kami atau mengucapkan sepatah kata pun. Namun, beberapa minggu kemudian, dia mengirim beberapa mesin lagi untuk kita kerjakan dengan peringatan bahwa jika kita melakukan kesalahan lagi, permintaan maaf kita tidak akan berarti apa-apa. Sejak saat itu kami tidak pernah melakukan kesalahan lagi.

Memiliki kemampuan untuk tidak hanya berempati kepada satu sama lain secara internal tetapi juga secara eksternal dengan pelanggan kita, itu benar-benar dapat menjadi transformatif untuk bisnis kita. Jika setiap pemimpin dan karyawan di organisasi kita memiliki hati empati, banyak masalah yang akan kita hadapi mungkin sudah berlalu.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.