3 Cara Mengenali Batas Etis dalam Pengambilan Keputusan

Sep 22, 2026 8 Min Read
important
Sumber:

Azerbaijan_stockers, Magnific

Mengetahui kapan sebuah kompromi telah melewati batas

Suka membaca artikel seperti ini? Subscribe newsletter kami dan dapatkan insight terbaru setiap bulan. 

Sepanjang karier saya, ada banyak momen ketika saya tidak setuju dengan sebuah keputusan. Sebagian besar merupakan situasi yang cukup jelas. Saya menyampaikan pandangan saya, orang lain mengambil keputusan, dan meskipun saya tidak menyukai keputusan tersebut, saya tetap menjalankannya.

Momen yang lebih sulit adalah ketika saya tidak yakin apakah terus menjalankan keputusan tersebut merupakan sikap profesional atau justru berarti mengorbankan sesuatu yang penting bagi saya.

Di situlah tantangannya.

Sebagian besar dari kita senang berpikir bahwa kita tahu apa yang kita perjuangkan. Kita dapat menjelaskan nilai-nilai yang penting bagi kita dan mungkin dapat memprediksi dengan cukup yakin bagaimana kita akan bertindak jika nilai-nilai tersebut diuji.

Masalahnya, prediksi tersebut tidak selalu dapat diandalkan. Sesuatu yang terasa jelas secara prinsip dapat menjadi jauh lebih samar ketika tekanan meningkat dan konsekuensinya menjadi penting.

Kesenjangan antara Niat dan Tindakan

Kesenjangan antara apa yang kita pikir akan kita lakukan dan apa yang sebenarnya kita lakukan adalah hal yang berusaha dipahami oleh Profesor Ann Tenbrunsel dan rekan-rekannya.

Penelitian mereka menunjukkan bahwa seseorang dapat melebih-lebihkan seberapa etis dirinya akan bertindak, berperilaku berbeda ketika situasi menjadi nyata dan mendesak, lalu mengingat kembali perilakunya dengan cara yang lebih menguntungkan dirinya.

Mereka menyebutnya sebagai ethical mirage, atau ilusi etis, dan menjelaskannya melalui apa yang mereka sebut sebagai konflik antara want dan should.

Diri Anda yang berorientasi pada should mengetahui nilai-nilai yang Anda pegang dan dapat menyebutkannya ketika ditanya. Sisi ini lebih dominan ketika Anda membayangkan keputusan yang akan diambil di masa depan atau melihat kembali keputusan yang telah dibuat di masa lalu.

Sementara itu, diri Anda yang berorientasi pada want adalah bagian dari proses pengambilan keputusan yang tertarik pada tekanan dan dorongan langsung, seperti menjaga atasan tetap senang, mempertahankan klien, mencapai target, atau menghindari percakapan yang sulit. Motif-motif tersebut pada dasarnya tidak selalu tidak etis, tetapi dapat membuat pertimbangan etis menjadi tersisih.

Dalam praktiknya, kondisi pikiran ketika Anda menyatakan dan menjanjikan sesuatu tentang nilai-nilai yang Anda pegang tidak selalu sama dengan kondisi pikiran ketika Anda harus bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut.

Pikirkan kapan terakhir kali Anda memikirkan nilai-nilai yang Anda pegang. Kemungkinan besar, Anda berada dalam kondisi yang relatif tenang, misalnya saat mengikuti kegiatan offsite, menjalani sesi coaching, melakukan refleksi pribadi, atau berbincang dengan teman sambil minum kopi. Dalam situasi seperti itu, diri Anda yang berorientasi pada should berada pada posisi paling kuat dan tekanannya paling rendah.

Ujian yang lebih sulit adalah mengenali apa yang sedang terjadi ketika tekanan datang.

Baca Juga: Mengapa Pemimpin Perlu Memiliki Urgensi yang Disiplin

Ketahui Kapan Komitmen Berubah Menjadi Kedok

Di tempat kerja, akan selalu ada keputusan yang tidak Anda setujui.

Misalnya, Anda mungkin akan menyusun urutan proyek secara berbeda, memilih pemasok lain, struktur lain, pasar lain, atau melibatkan para pemangku kepentingan lebih awal.

Orang-orang yang rasional dan kompeten dapat melihat informasi yang sama lalu mencapai kesimpulan yang berbeda. Jadi, Anda mungkin tidak menyukai sebuah keputusan, tetapi selama keputusan tersebut sah dan dapat dipertanggungjawabkan, Anda tetap dapat mendukungnya.

Situasinya berubah ketika persoalannya bukan lagi sekadar apakah Anda setuju dengan keputusan tersebut, tetapi apa yang diminta untuk Anda lakukan sebagai akibat dari keputusan itu.

Jika menjalankan keputusan tersebut mengharuskan Anda dengan sengaja menyesatkan seseorang, menyembunyikan informasi penting, melanggar kewajiban, atau membiarkan orang lain menanggung dampak besar yang hanya sedikit mereka ketahui atau tidak dapat mereka pengaruhi, maka mendukung keputusan tersebut tidak lagi sesederhana itu.

Pada titik tersebut, “mendukung keputusan” dapat menjadi cara untuk menghindari pertanyaan yang lebih sulit, yaitu apakah menjalankannya akan membuat Anda terlibat dalam tindakan yang menurut Anda salah.

Ketika Garis Etis Semakin Sulit Dilihat

Profesor Ann Tenbrunsel dan David Messick menjelaskan proses yang mereka sebut ethical fading. Ini adalah proses ketika aspek moral dari sebuah keputusan menjadi semakin tidak terlihat atau tidak menonjol, sehingga keputusan tersebut terutama dipandang sebagai persoalan komersial, operasional, atau praktis, bukan sebagai persoalan etis.

Bahasa dapat berkontribusi terhadap proses ini. Misalnya, sebuah situasi dapat dibingkai ulang menjadi:

  • Ini bukan masalah keadilan, melainkan realitas komersial.
  • Ini bukan menyesatkan, melainkan menentukan posisi.
  • Ini bukan menyembunyikan informasi, melainkan mengatur pesan.
  • Ini bukan menahan informasi, melainkan menjaga agar pesan tetap fokus.
  • Ini bukan mengambil jalan pintas, melainkan bersikap pragmatis.

Tidak satu pun dari kalimat tersebut secara otomatis membuat sebuah keputusan menjadi tidak etis. Persoalannya adalah apa yang membuat bahasa tersebut tidak lagi kita periksa dan rasakan.

Selain itu, ketika semua orang di sekitar Anda menggunakan bahasa yang sama-sama diperhalus, Anda akan semakin sulit menyadari bahwa Anda pun mulai melakukan hal yang sama.

Penelitian Profesor Albert Bandura mengenai moral disengagement menyoroti cara-cara lain yang kita gunakan untuk membuat perilaku yang meragukan menjadi lebih mudah dibenarkan. Kita mengalihkan tanggung jawab kepada atasan, membaginya kepada sebuah komite, atau meyakinkan diri bahwa orang lain melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk. Pembenaran-pembenaran tersebut membuat kita semakin sulit melihat dimensi etis dari apa yang sedang terjadi.

Seiring waktu, dengan bahasa yang diperhalus dan berbagai pembenaran, keputusan yang tidak etis dapat mulai terasa lebih nyaman.

Lalu, bagaimana cara membuat area abu-abu itu sedikit lebih mudah terlihat?

Singkirkan Bahasa yang Mengaburkan

Mulailah dengan menjelaskan apa yang sebenarnya diminta dari Anda dalam satu kalimat. Gunakan bahasa yang sederhana dan hindari jargon atau istilah yang biasanya digunakan oleh organisasi, profesi, atau industri Anda.

Misalnya:

  • Alih-alih mengatakan “menyesuaikan pembingkaian dalam materi untuk rapat dewan”, jelaskan informasi apa yang diubah dan kesimpulan apa yang kemungkinan akan diambil oleh dewan sebagai akibatnya.
  • Alih-alih mengatakan “mengelola ekspektasi pelanggan”, tanyakan apa yang akan dipercaya pelanggan setelah percakapan tersebut dan apakah keyakinan itu sesuai dengan kenyataan.
  • Alih-alih mengatakan “mengeluarkan seseorang dari organisasi”, jelaskan tindakan apa yang sedang dilakukan dan apakah orang tersebut memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Tujuannya bukan menghilangkan seluruh nuansa dari bahasa, melainkan melihat apakah bahasa tersebut benar-benar menggambarkan kenyataan yang sedang terjadi.

Jika versi dengan bahasa sederhana membuat Anda lebih tidak nyaman dibandingkan versi korporatnya, perhatikan hal tersebut.

Baca Juga: Menutup Kesenjangan: Cara Sebenarnya Memprioritaskan Karyawan

Tanyakan Siapa yang Menanggung Dampaknya

Selanjutnya, perhatikan di mana konsekuensi dari keputusan tersebut jatuh dan siapa yang menanggung dampaknya.

Rasa tidak nyaman yang Anda rasakan dan kerugian yang dialami orang lain merupakan dua persoalan yang berbeda. Mencampurkan keduanya dapat membuat Anda salah mengambil kesimpulan dalam dua arah.

Terkadang, sebuah keputusan membuat pekerjaan Anda bertambah, bertentangan dengan pendekatan yang Anda sukai, atau membuat Anda menanggung konsekuensi yang sebenarnya ingin Anda hindari. Hal tersebut mungkin membuat frustrasi, tetapi tidak berarti keputusan tersebut tidak etis.

Persoalan utamanya adalah apakah dampaknya secara tidak proporsional ditanggung oleh seseorang yang memiliki kekuasaan lebih kecil, informasi lebih sedikit, atau hampir tidak memiliki kemampuan untuk memengaruhi apa yang terjadi selanjutnya.

Untuk membantu Anda memikirkannya, identifikasi siapa saja yang terdampak, kemudian pertimbangkan:

  • Apa yang akan mereka alami akibat keputusan tersebut?
  • Apa yang mereka ketahui?
  • Kesempatan apa yang mereka miliki untuk memengaruhi hasilnya?
  • Apakah hasilnya adil?

Kemudian tanyakan apakah Anda akan menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan cara yang sama jika mereka duduk di ruangan yang sama dengan Anda.

Selanjutnya, pikirkan apakah Anda ingin hal yang sama terjadi kepada diri Anda.

Tentukan Sikap Sebelum Tekanan Datang

Masalah waktu yang saya sebutkan sebelumnya penting untuk diperhatikan.

Jika diri Anda yang membayangkan sebuah keputusan etis belum tentu sama dengan diri Anda yang mengambil keputusan tersebut ketika berada di bawah tekanan, maka mengetahui secara umum apa yang Anda anggap penting belumlah cukup.

Ada perbedaan antara mengatakan, “Saya menghargai kejujuran” dan “Saya tidak akan dengan sengaja membiarkan pelanggan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang menyesatkan.” Pernyataan pertama masih memberikan banyak ruang untuk bernegosiasi ketika tekanan datang, sedangkan pernyataan kedua memberi pedoman yang lebih tegas untuk dijadikan pegangan.

Demikian pula, “Saya percaya setiap orang harus diperlakukan secara adil” merupakan prinsip yang penting, tetapi masih abstrak. Sementara itu, “Saya tidak akan membiarkan seseorang dimintai pertanggungjawaban atas keputusan yang saya buat tanpa memperbaiki catatan yang ada” jauh lebih jelas dan tegas.

Luangkan waktu untuk memikirkan situasi yang cukup mungkin Anda hadapi dalam pekerjaan dan tentukan hal-hal yang tidak akan dengan sengaja Anda lakukan atau setujui.

Latihan ini bukan tentang membuat buku aturan etis yang lengkap, melainkan melakukan sebagian proses berpikir sebelum tekanan datang.

Klasifikasikan Ketidaksetujuan Anda

Anda juga dapat mencoba mengelompokkan persoalan yang sedang dihadapi ke dalam salah satu dari tiga kategori berikut:

  • Preferensi: Anda akan melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, tetapi dampak dari perbedaan tersebut tidak signifikan. Jika demikian, berkomitmenlah sepenuhnya, berhentilah memikirkannya terus-menerus, dan lepaskan. Jika tidak, terus menunjukkan keberatan Anda bukanlah bentuk integritas, melainkan beban bagi orang-orang yang kini harus menjalankan keputusan tersebut.
  • Prinsip: Keputusan tersebut bertentangan dengan sesuatu yang Anda anggap penting, tetapi Anda masih dapat berpartisipasi tanpa menyesatkan, menyembunyikan informasi, atau bertindak bertentangan dengan kewajiban yang signifikan. Jika demikian, sampaikan posisi Anda dengan jelas dan pastikan orang-orang yang perlu memahami kekhawatiran Anda benar-benar mengetahuinya. Kemudian, jika keputusan tersebut sah dan Anda dapat mendukungnya secara etis, berkomitmenlah dan jalankan peran Anda.
  • Batas: Anda telah mencapai batas ketika berpartisipasi mengharuskan Anda dengan sengaja menyesatkan, menyembunyikan sesuatu yang penting, melanggar kewajiban yang signifikan, atau berkontribusi pada dampak buruk yang tidak dapat Anda benarkan secara wajar. Jika demikian, Anda perlu mempertimbangkan tindakan terbaik yang dapat diambil. Kita akan membahas lebih lanjut mengenai hal ini nanti.

Dalam dunia kerja, ketiga batas tersebut tidak selalu terlihat dengan jelas, dan itu tidak masalah.

Latihan ini memaksa Anda membedakan antara sesuatu yang akan Anda lakukan secara berbeda, sesuatu yang sangat penting bagi Anda, dan sesuatu yang menurut Anda tidak seharusnya Anda ikuti atau lakukan.

Nyatakan Posisi Anda dengan Jelas

Terakhir, jika sesuatu cukup penting hingga menjadi prinsip atau batas bagi Anda, katakanlah.

Jangan berasumsi bahwa orang lain dapat memahami kekhawatiran Anda hanya dari ekspresi wajah, diamnya Anda, atau karena Anda mengajukan pertanyaan sulit dalam rapat. Anda perlu menjelaskan apa yang membuat Anda khawatir dan mengapa.

Untuk sebuah prinsip, membagikan sudut pandang tersebut mungkin sudah cukup. Anda telah menyampaikan pandangan, keputusan telah dibuat secara sah, dan Anda masih dapat mendukungnya meskipun keputusan tersebut bukan keputusan yang akan Anda ambil sendiri.

Namun, ketika berhadapan dengan batas etis yang sebenarnya, menyampaikannya satu kali mungkin baru merupakan awal. Jika terdapat dampak buruk yang signifikan, penipuan, atau kewajiban profesional maupun hukum yang penting, pertanyaan berikutnya adalah tindakan lebih lanjut apa yang diperlukan dalam situasi tersebut.

Itu merupakan keputusan yang berbeda, dan akan menjadi pembahasan dalam artikel berikutnya di seri ini.

Untuk saat ini, yang penting adalah jangan membiarkan diam Anda ditafsirkan sebagai persetujuan. Diam sangat mudah ditafsirkan ulang di kemudian hari. Anda mungkin akan mengingat bahwa sejak awal Anda memiliki keberatan, tetapi orang lain mungkin hanya mengingat bahwa Anda tampak menyetujui keputusan tersebut.

Ke Mana Semua Ini Membawa Anda?

Secara umum, kompromi etis terjadi secara bertahap ketika bahasa semakin diperhalus, tanggung jawab dialihkan, dan sesuatu yang sebelumnya terasa tidak nyaman mulai terasa wajar, bahkan normal.

Karena itu, ujian pentingnya bukan hanya apakah Anda mampu mengenali pelanggaran etis yang jelas, tetapi apakah Anda menyadari momen-momen kecil ketika sebuah kompromi mulai membawa Anda ke arah yang sebenarnya tidak pernah Anda maksudkan.

Diterbitkan ulang dengan izin dari michellegibbings.com.

Share artikel ini

References:

  1. Tenbrunsel, A. E., Diekmann, K. A., Wade-Benzoni, K. A., & Bazerman, M. H. (2010). The ethical mirage: A temporal explanation as to why we are not as ethical as we think we are. Research in Organizational Behavior, 30, 153–173. https://doi.org/10.1016/j.riob.2010.08.004
  2. Tenbrunsel, A. E., & Messick, D. M. (2004). Ethical fading: The role of self-deception in unethical behavior. Social Justice Research, 17(2), 223–236. https://doi.org/10.1023/B:SORE.0000027411.35832.53
  3. Bandura, A. (1999). Moral disengagement in the perpetration of inhumanities. Personality and Social Psychology Review, 3(3), 193–209. https://doi.org/10.1207/s15327957pspr0303_3
Alt
Selain ahli di bidang kepemimpinan dan perubahan, Michelle Gibbings juga merupakan seorang founder perusahaan konsultan bisnis bernama Change Meridian. Pada tahun 2016, Gibbings menerbitkan bukunya berjudul ‘Step Up: How to Build Your Influence at Work’.
Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Man Sitting on Rock

Jangan Bangga Bertahan di Tempat yang Salah

Oleh Agung Setiyo Wibowo. Terinspirasi dari The Dip karya Seth Godin, mengajak kita membedakan antara kesulitan yang memang harus dilewati dan jalan buntu yang sebaiknya ditinggalkan.

Feb 15, 2026 6 Min Read

leaders

Apakah Anda Mengenali 10 Tipe Pemimpin Ini?

Bersama Tom MC Ifle, memahami berbagai tipe pemimpin yang dapat menghambat tim dan mengapa tidak semua orang yang memiliki posisi pemimpin mampu memimpin dengan baik.

Aug 15, 2026 13 Min Podcast

people in a meeting

Mengapa CEO yang Sukses Tetap Membutuhkan Mentor?

Bersama Tom MC Ifle, memahami mengapa mentorship tetap penting bagi para pemimpin, bahkan ketika mereka telah mencapai kesuksesan.

Aug 13, 2026 51 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest