Jangan Bangga Bertahan di Tempat yang Salah

Feb 15, 2026 6 Min Read
Man Sitting on Rock
Sumber:

Roussety Gregory, Pexels

Pernah merasa begini?

Kita sudah berusaha keras. Sudah konsisten. Sudah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harga diri.

Tapi hasilnya seperti jalan di tempat.

Lalu muncul dua suara yang saling bertabrakan di kepala:

  • “Jangan menyerah, dikit lagi kok.”
  • “Ngapain sih dilanjutin? Kayaknya bukan jalan gue.”

Kalau kamu pernah berada di titik itu, tulisan ini bukan untuk menggurui. Ini untuk menemani.

Karena saya juga pernah dan masih sering berada di sana.

Dan di satu fase hidup, sebuah buku tipis justru memberi saya tamparan paling jujur: The Dip: A Little Book That Teaches You When to Quit (and When to Stick) karya Seth Godin.

the dip

Mendaki Gunung, Bukan Jalan Tol

Bayangkan hidup, karier, dan bisnis seperti mendaki gunung.

Di awal, semuanya terasa menyenangkan:

  • pemandangan masih segar,
  • energi masih penuh,
  • semangat masih tinggi.

Lalu kita masuk ke satu fase yang jarang dibicarakan orang: tanjakan paling curam, sepi, dan melelahkan.

Inilah yang oleh Seth Godin disebut sebagai The Dip.

Masalahnya, banyak orang:

  • menyerah tepat di tengah tanjakan,
  • atau bertahan di gunung yang salah.

Dan dua-duanya sama-sama mahal biayanya.

Inti Buku: Masalah Kita Bukan Kurang Tahan Banting

Pelajaran paling penting dari The Dip adalah ini:

Masalah terbesar manusia modern bukan kurang gigih, tapi salah memilih di mana harus gigih.

Kita sering diajari satu mantra:

Jangan menyerah.

Padahal Seth Godin justru bilang:

Menyerah itu skill.

Bukan semua hal layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.

Memahami Tiga Konsep Penting dalam The Dip

Seth Godin membedakan tiga kondisi yang sering kita campuradukkan:

1. The Dip – Lembah yang Harus Dilewati

Ini fase sulit sementara, tapi akan naik kalau kita bertahan.

Ciri-cirinya:

  • Awalnya menjanjikan
  • Tengahnya menyakitkan
  • Ujungnya memberi keunggulan

2. The Cliff – Jurang yang Harus Dihindari

Ini bukan fase sulit sementara, tapi arah yang salah.

Ciri-cirinya:

  • Tidak ada tanda perbaikan
  • Tidak ada keunggulan jangka panjang
  • Semakin lama, semakin habis

3. The Cul-de-Sac – Jalan Buntu yang Nyaman

Ini yang paling berbahaya.

Tidak terlalu sakit. Tidak terlalu berkembang. Tapi tidak ke mana-mana.

Banyak orang terjebak di sini bertahun-tahun karena merasa “aman”.

Baca Juga: 12.12 Karier: Ketika Banyak Karyawan Memilih “Batalkan Pesanan”

Penerapan dalam Kehidupan Pribadi

Dalam hidup pribadi, The Dip sering muncul dalam bentuk:

  • kebiasaan baru,
  • proses penyembuhan,
  • perubahan identitas diri.

Contoh sederhana: Orang yang ingin hidup lebih sehat.

Di awal, semangat. Masuk minggu ke-3, berat. Badan pegal, hasil belum terlihat.

Itu The Dip. Kalau bertahan, tubuh beradaptasi.

Tapi kalau sejak awal tujuannya hanya ikut tren, tanpa alasan personal, maka begitu masuk tanjakan, menyerah terasa logis.

Pelajarannya:

Bertahanlah kalau kamu tahu kenapa kamu memulai.

Kalau tidak tahu alasannya, itu bukan dip. Itu cliff.

Penerapan dalam Karier: Jangan Bangga Tahan Lama di Tempat yang Salah

Banyak profesional bangga berkata:

Saya tahan banting.

Pertanyaannya: tahan banting di mana?

Di karier, The Dip sering muncul ketika:

  • kita baru naik tanggung jawab,
  • masuk industri baru,
  • atau mulai membangun reputasi.

Fase ini biasanya ditandai:

  • tidak terlihat hasil,
  • dibanding-bandingkan dengan yang lebih cepat,
  • merasa “kok orang lain kayaknya lebih jago”.

Kalau ini bagian dari jalur yang punya potensi keunggulan, bertahan itu masuk akal.

Tapi kalau kita:

  • tidak belajar apa-apa,
  • tidak berkembang,
  • hanya bertahan karena takut mulai lagi,

Itu bukan dip. Itu cul-de-sac.

Dan karier yang aman tapi stagnan seringkali lebih menguras jiwa dibanding karier yang menantang tapi bertumbuh.

Penerapan dalam Bisnis: Kenapa Banyak Bisnis Mati di Tengah Jalan

Dalam bisnis, The Dip adalah hukum alam.

Semua bisnis terlihat bagus di pitch deck. Tapi realitanya:

  • pelanggan tidak langsung datang,
  • cashflow tersendat,
  • validasi pasar menyakitkan.

Di sinilah dua tipe orang terpisah:

1. Mereka yang menyerah terlalu cepat—padahal sedikit lagi menemukan product-market fit.

2. Mereka yang bertahan terlalu lama—di bisnis yang sejak awal tidak punya diferensiasi.

Seth Godin sangat tegas:

Pasar hanya memberi hadiah besar pada yang terbaik. Bukan pada yang sekadar bertahan.

Itu sebabnya strategi penting dalam bisnis bukan hanya growth, tapi positioning.

Apakah ini dip menuju keunggulan? Atau cliff yang seharusnya ditinggalkan?

Pelajaran Paling Menampar: Quit Is Not the Opposite of Commit

Banyak orang takut berhenti karena takut dicap:

  • gagal,
  • tidak konsisten,
  • tidak tahan banting.

Padahal berhenti dari satu hal bisa jadi komitmen pada hal yang lebih tepat.

Berhenti dari:

  • pekerjaan yang mematikan potensi,
  • bisnis yang tidak punya arah,
  • pola hidup yang tidak sehat,

bukan kelemahan. Itu kejernihan.

Seth Godin mengingatkan:

Orang sukses bukan yang tidak pernah berhenti. Tapi yang berhenti dengan sengaja, lalu fokus total pada hal yang tepat.

Bagaimana Cara Menentukan: Bertahan atau Berhenti?

Beberapa pertanyaan reflektif yang saya pelajari dari The Dip:

  1. Apakah kesulitan ini sementara atau struktural?
  2. Apakah ada keunggulan yang bisa dicapai di ujungnya?
  3. Apakah saya masih belajar, atau hanya bertahan?
  4. Kalau saya mulai hari ini dari nol, apakah saya tetap memilih jalan ini?

Kalau jawabannya jujur dan tenang, biasanya keputusan terasa lebih ringan.

Baca Juga: Lembur: Seni Bertahan di Bawah Lampu Kantor

Hidup Terlalu Pendek untuk Salah Bertahan

Setelah membaca The Dip, satu keyakinan saya berubah:

Ketekunan tanpa arah bukan kebajikan. Keberanian memilih adalah kedewasaan.

Hidup, karier, dan bisnis tidak butuh kita keras kepala. Ia butuh kita jernih.

Ada hal yang memang harus diperjuangkan sampai tuntas. Dan ada hal yang justru harus ditinggalkan agar kita bisa naik level.

Dan membedakan keduanya— itulah seni hidup yang tidak pernah diajarkan di sekolah.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Agung Setiyo Wibowo.

 


Masterclass Mendatang untuk Senior Leaders:

Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026

Seperti diingatkan dalam refleksi tentang tidak bangga bertahan di tempat yang salah, bertahan terlalu lama di lingkungan yang tidak lagi menumbuhkan kita bukanlah tanda kekuatan, tetapi penundaan untuk berkembang. Leaderonomics Malaysia Leadership IMMERSION WEEK 2026 hadir untuk membantu Anda memperluas perspektif, berani mengevaluasi arah, dan membentuk kepemimpinan yang lebih sadar, relevan, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

Daftar Sekarang di events.leaderonomics.com

Alt

Share artikel ini

Alt

Agung merupakan seorang konsultan, self-discovery coach, dan trainer yang telah menulis lebih dari 50 buku best seller.

 

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

job interview

Level Up Karier: Tips Job Hunting Menjelang 2026

Bersama Amirah Nadiah menyadari bahwa menjelang 2026, pencarian kerja membutuhkan strategi yang lebih matang dan membantu Anda tampil lebih siap dan kompetitif di pasar kerja yang terus berubah.

Dec 26, 2025 2 Min Read

Alt

Belajar Hal Baru Setiap Hari

Gitaris yang bukan sembarang gitaris, Lucky Barus, mengalokasikan waktu 4 jam setiap harinya untuk terus berlatih dan mengasah kemampuannya.

Jan 25, 2021 4 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest