Kekuatan dari Kecerdasan Kolektif

Oleh Nathan Furr|07-02-2022 | 2 Min Read
Source: Sumber: Pixabay
Kecerdasan kolektif, sebuah norma baru di dunia kerja

Pelajaran dari koloni semut

Ketika kita memikirkan tentang organisasi–suatu kelompok yang bergerak mencapai tujuan yang sama–kita teringat akan hierarki. Hierarki sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dari lingkup keluarga yang dipimpin oleh sepasang orangtua, sekolah dengan guru di setiap kelasnya, begitu juga di tempat kerja yang mana kita diatur oleh seorang manajer. Namun akhir-akhir ini, dunia mengalami perubahan secara signifikan di mana muncul alternatif lain selain hierarki seperti konsep agile dan holakrasi pada organisasi.

Rekan saya, Phanish Puranam dan Henning Piezunka telah melakukan penelitian terhadap organisasi dengan struktur datar tersebut. Sebagai contoh, GitHub beralih dari struktur organisasi konvensional ke tim yang bersifat swakelola (self-organizing), yaitu tim yang memiliki otoritas untuk menentukan sendiri bagaimana mereka bekerja. Contoh lainnya adalah perusahaan seperti Valve yang tengah merampingkan hierarki perusahaan dengan menghapus posisi jabatan atau menerapkan struktur organisasi datar.

Di sini kami tidak melihat hierarki sebagai suatu hal yang buruk dan alternatifnya sebagai solusi yang tepat untuk semua organisasi. Namun, kami ingin mengetahui apa yang bisa dipelajari dari hal tersebut. Salah satu kasus menariknya adalah koloni semut. Meskipun mereka tidak seberapa cerdas, semut hidup secara bergerombol untuk mencapai tujuan bersama tanpa dipimpin oleh sosok pengambil keputusan. Rekan saya, Kathleen M. Eisenhardt dan saya pun bertanya-tanya apakah manusia dapat belajar dari kehidupan semut.

Baca juga: Apa Masa Depan Lulusan Pasca Covid-19?

Solusi sederhana untuk pemecahan masalah

Sumber: Pixabay

Koloni semut menginspirasi manusia dalam merancang struktur yang tidak hierarkis. Cara kerja mereka meliputi: kesederhanaan, modularitas, dan skala.

1. Kesederhanaan: apakah peraturan yang sederhana merupakan solusi tepat untuk mengelola kelompok besar–meskipun pada waktu sulit?


Peraturan yang sederhana merupakan solusi praktis dan fleksibel. Seiring berjalannya waktu, peraturan tersebut berkembang sesuai kondisi yang menuntut adanya ruang untuk adaptasi (ketika pandemi, misalnya). Idealnya peraturan tersebut seimbang dalam aspek improvisasi dan birokrasi. Dalam penelitian kami, peraturan yang sederhana tampak lebih efektif dibandingkan tata kelola konvensional di tengah ketidakpastian dan perubahan. Contoh perusahaan yang berhasil menerapkan peraturan tersebut antara lain adalah Pixar dan Netflix.

2. Modularitas: Seberapa efektif struktur organisasi yang tidak hierarkis dalam pemecahan masalah?


Bagi koloni semut, dengan membagi tugas mereka mampu untuk membangun sarang yang jauh lebih besar. Di sisi lain, manusia cenderung mengandalkan modularitas ketika sedang menghadapi masa sulit. Modularitas memberikan kebebasan lebih dan terbukti efektif pada perusahaan seperti iTunes dan Airbnb. Namun, modularitas bisa saja efektif untuk perusahaan yang lebih tradisional. 

3. Skala: Apakah manusia mampu mengelola organisasi dengan modularitas yang ekstrim?


Ketika satu semut tidak mampu menyelesaikan suatu tugas, terdapat semut lain yang siap menggantikannya. Hal ini serupa dengan Jeff Bezos yang menginstruksikan mandat API kepada karyawannya pada tahun 2002 silam. Bezos berhasil mengimplementasikan bentuk radikal dari modularitas organisasi yang telah membantu Amazon untuk berkembang layaknya sebuah koloni semut bekerja.

Lantas, terdapat perbedaan signifikan antara kita dengan semut. Semut belajar melalui penggunaan feromon dan tidak secerdas manusia yang memiliki pola pikir yang jauh lebih kompleks. Koloni semut ahli dalam pemecahan masalah modular, namun tidak mampu mengatasi masalah yang membutuhkan proses kognitif dan metakognitif seperti manusia. 

Pada penelitian yang akan datang, Robert Bremner dan Eisenhardt akan membandingkan dua inovasi drone karya warga sipil. Salah satunya berinovasi dalam aspek komunitas pengguna dan yang lain pada bentuk hierarkis. Model komunitas awalnya berhasil karena kesuksesannya dalam mengeksplorasi serta didukung oleh anggaran yang rendah. Namun, kinerjanya menurun ketika diintegrasikan dengan teknologi yang lebih canggih. Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa struktur tradisional lebih kompeten dalam menghadapi pasar yang lebih kompleks. Berbeda dengan koloni semut, organisasi manusia perlu memiliki ruang untuk berbagai jenis pertumbuhan.

Koloni semut tidak pernah berubah menjadi sesuatu yang lain. Jika dan ketika ada aturan yang berubah dalam koloni, hal tersebut diperbarui secara lambat. Tentu saja, seseorang dapat mempelajari aturan baru dengan cepat dan mengubah organisasi mereka. Seperti Netflix yang beralih dari mengandalkan DVD hingga memproduksi tayangan sendiri seperti Bridgerton.

Baca juga: Otomasi Pemasaran: Utopia atau Distopia?

Kecerdasan Kolektif

Sumber: Fauxels dari Pexels.com

Bagi pakar strategi, mungkin yang paling menarik dari koloni semut adalah bahwa mereka memfasilitasi munculnya kecerdasan kolektif dari tindakan banyak orang yang mengarahkan diri sendiri. Lalu, bagaimana manusia dapat memetik manfaat dari kemampuan pengarahan diri tersebut dengan individualitas dan kreativitasnya yang lebih dalam?

Valve, perusahaan game tanpa manajer atau jabatan dalam struktur organisasinya, menggunakan ini sebagai prinsip yang memotivasi. Saat menulis buku saya, The Innovator's Method, saya belajar banyak dari prinsip Valve: 

“Jika sebuah perusahaan menghabiskan waktu untuk merekrut orang-orang paling cerdas, inovatif, dan berbakat di Bumi dan hanya menyuruh mereka untuk duduk di meja dan melakukan apa yang diperintahkan, hal tersebut malah melenyapkan 99% dari nilai mereka.”


Mungkin fitur paling berharga dari eksperimen non-hierarkis seperti komunitas pengguna, marketplace, dan holakrasi adalah kecerdasan kolektif. Bagaimana jika tujuan organisasi adalah untuk memanfaatkan kecerdasan kolektif dari banyak aktor yang mampu mengarahkan diri sendiri, daripada para karyawan yang sekedar melakukan apapun yang diperintahkan atasan?

Melalui kecerdasan kolektif, kita memahami bahwa organisasi ada untuk menciptakan sesuatu yang lebih hebat dari jumlah keseluruhan organisasi tersebut. Lantas, masa depan organisasi bisa saja bertumpu pada kecerdasan kolektif.

Yuk, kembangkan diri Anda bersama Necole! Necole adalah aplikasi pembelajaran yang memanfaatkan teknologi artificial intelligence untuk mengkurasi konten mendidik sesuai dengan minat Anda. Pelajari lebih lanjut tentang Necole di sini atau email info@leaderonomics.com

**SPECIAL OFFER - Gunakan kode ABETTERME dan dapatkan diskon 5% berlangganan Necole.

Artikel ini diterbitkan ulang atas izin INSEAD Knowledge (http://knowledge.insead.edu). Hak Cipta INSEAD 2022.

Share artikel ini

Bisnis

Tags: Konsultasi

Nathan Furr adalah seorang Associate Professor of Strategy di INSEAD dan penulis tiga buku terlaris yang diterbitkan oleh Harvard Press: The Innovator's Method, Leading Transformation, dan Innovation Capital.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.