CEO yang Hebat Harus Mempelajari Ilmu Seni Menjual

Oleh Roshan Thiran|26-05-2021 | 2 Min Read
Source: RODNAE Production dari Pexels.com

Seni menjual adalah bagian terpenting dari bisnis apapun. 

Di Amerika Serikat (AS), ada tradisi yang dilalui kebanyakan anak. Pada usia delapan atau sembilan tahun, sebagian besar anak-anak di AS memulai bisnis pertama mereka dengan membuat kios jus lemon. Mereka menghadapi bentuk penolakan pertama mereka, ketika seorang calon pelanggan menolak untuk membeli minuman dari mereka. Tradisi inilah yang mengajarkan anak-anak di AS fungsi terpenting dari semua bisnis – yaitu bagaimana cara menjual.

Terlepas dari betapa menakjubkannya produk atau layanan yang kita tawarkan, jika kita tidak dapat menjualnya, maka bisnis itu akan segera runtuh.

Sosok di Balik Kesuksesan Sony

Sumber: Prota dari Pexels.com

Akio Morita lahir dari keluarga pengusaha bir sake selama 14 generasi. Ia sangat menyukai elektronik dan karena itu memutuskan untuk meninggalkan bisnis keluarganya. Morita bersama dengan rekan kerjanya Masaru Ibuka, membentuk Tokyo Tsushin Kabushiki Kaisha (Tokyo Telecommunications Engineering Corp) dengan modal awal 190.000 yen atau sekitar US $500.

Jepang pada tahun 1950-an berada dalam keadaan yang menyedihkan. Morita tahu ia harus memasarkan tidak hanya perusahaannya saja, tetapi juga negaranya. Karena itu, Morita dan Ibuka datang dengan visi untuk perusahaannya dan Jepang. Morita menetapkan bahwa tujuan utamanya adalah menjadi perintis, yakni melakukan hal yang mustahil.

Selain itu, mereka mendambakan untuk menjadi perusahaan yang mengubah citra produk Jepang di seluruh dunia yang kala itu kualitasnya buruk. 

Mereka ingin orang-orang mengenal 'Buatan Jepang' sebagai produk yang berkualitas dan tersebar luas di seluruh dunia.  Karena itu, terwujudlah sebuah perusahaan Jepang pertama yang masuk ke pasar Amerika.

Baca juga: Komponen Penting dalam Membangun Bisnis Berkelanjutan

Pada tahun 1952, Morita memutuskan untuk melakukan perjalanan ke AS dan Eropa untuk mencoba menjelajahi pasar dan melihat apakah ia bisa menjual ke luar negeri. Selama perjalanan, ia mengetahui bahwa tidak ada yang bisa mengucapkan "Tokyo Tsushin Kabushiki Kaisha". Jika tidak ada yang bisa menyebutkan nama perusahaannya, bagaimana ia bisa menjual produknya? 

Setelah banyak penelitian, Morita dan Ibuka memutuskan untuk menggunakan nama Sony, yang berasal dari dua kata Sonus (Latin untuk suara) dan Sonny (bahasa gaul Inggris untuk anak laki-laki yang cerdas, muda dan lucu). 

Pemimpin hebat memahami pentingnya seni menjual. Mereka memaksimalkan tenaga penjualan untuk cepat mendapatkan input konstruktif dari pelanggan, tren, dan kemudian menggunakan pemahaman ini untuk berubah dan tumbuh. 

Mereka juga secara pribadi belajar cara menjual sehingga dapat memberikan fokus terarah dan dukungan yang tepat kepada tim penjualan mereka. Penjualan adalah proses yang rumit. Tentunya dibutuhkan kerja keras yang konsisten untuk menarik minat pelanggan. 

Seni Menjual Adalah Ilmu yang Perlu Dilatih


Sumber: Joshua Miranda dari Pexels.com

Banyak orang gagal memahami bahwa penjualan adalah seni sekaligus ilmu yang perlu dikembangkan, dipelajari, dan dipraktekkan.

Saya memahami bahwa cara terbaik untuk belajar adalah melakukan sesuatu. Jadi, saya melamar pekerjaan sebagai sales pisau door to door. Berdasarkan anggapan pribadi dan feedback dari orang lain yang telah berhasil dalam usaha ini, saya berasumsi bahwa pekerjaan itu sangat mudah. 

Namun, saya gagal total di bulan pertama. Saya bahkan tidak bisa menjual satu pun pisau atau peralatan dapur.

Sampailah saya pada titik di mana saya mengatakan pada diri sendiri bahwa saya tidak cocok dalam bidang penjualan. Saya menghibur diri sendiri dengan berkata bahwa menjual bukanlah bagian dari DNA saya. Namun, saya tergerak untuk berusaha lagi. Jadi, saya membuat kesepakatan pada diri sendiri untuk hanya boleh berhenti setelah saya dinobatkan sebagai penjual terbaik bulan ini.

Baca juga: 5 Metode Ekspansi Bisnis dan Cara Mempersiapkannya

Bulan kedua sama menyakitkan, tetapi saya berkata pada diri sendiri bahwa saya akan mengabadikan bulan ini untuk mendapatkan nasihat dari sebanyak mungkin sales yang berhasil. Saya berhasil menjual beberapa buah di bulan kedua. Lalu, tibalah bulan ketiga – saya mengakhiri bulan tersebut sebagai sales terbaik kedua! 

Belajar seni menjual mungkin adalah pelajaran bisnis terpenting yang saya pelajari. Dari suka dan duka saya berjualan, saya belajar bahwa menjual adalah tentang mendengarkan dan memungkinkan pembeli mewujudkan impian mereka. Ya, menjalin hubungan yang bermakna dan otentik dengan pembeli.

Namun, memiliki produk yang hebat juga penting untuk mempertahankan penjualan yang berkelanjutan. Jadi, bagaimana?

Kesimpulan

Jika Anda menganggap berjualan hanya bisa dilakukan oleh tipe orang tertentu, Anda mungkin tidak akan pernah menjadi CEO yang hebat.

Seni menjual adalah bagian terpenting dari bisnis apa pun. Tidak hanya produk, Anda juga bisa menjual mimpi. Pasarkan visi Anda untuk hari esok yang lebih baik. Jika tidak ada yang "membeli" impian atau visi Anda, teruslah kerjakan. Semakin banyak Anda berlatih, semakin besar kemungkinan Anda akan berhasil. 

Bagaimanapun juga, para pemimpin adalah penjual terhebat – mereka menjual visi dan memberikan motivasi dengan impian dan rencana yang mereka bangun. Belajarlah seni menjual, jadilah pemimpin yang hebat!

Tonton juga:


Share artikel ini

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2023 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.