Bagaimana Kepuasan Tertunda Bisa Menjadi Kunci Kesuksesan

Oleh Roshan Thiran|24-05-2021 | 1 Min Read
Source: Alexas Fotos dari Pexels.com

Warren Buffett mengklaim rahasia kesuksesannya adalah bahwa ia hanya “duduk di kantor dan membaca sepanjang hari”. Faktanya, Buffett memperkirakan bahwa sekitar 80% dari jam kerjanya dihabiskan untuk membaca.

Saat saya memberikan tips Buffett ini kepada beberapa teman saya, mereka bertanya kepada saya berapa banyak buku yang saya baca seminggu. Saya mulai memikirkannya dan menjawab sekitar dua hingga tiga buku dalam seminggu.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan adalah,

"Bagaimana Anda menemukan waktu untuk membaca?"


Saya dengan cepat menjawab "disiplin". Anda hanya perlu meluangkan waktu dan mendisiplinkan diri Anda untuk melakukannya. 

Baca juga: Tetap Sejalur dengan Resolusi Tahun Baru Anda

Tetapi ketika saya renungkan lebih lanjut, saya menyadari bahwa disiplin menuntut banyak hal. Sebelum kita mulai melakukan sesuatu, kita perlu berhenti melakukan sesuatu lainnya. Jika Anda ingin sehat, maka berhentilah makan makanan berlemak sebelum mulai berolahraga.

Disiplin adalah tentang sama banyaknya antara berhenti melakukan sesuatu dengan melakukan sesuatu. Bagi saya, untuk memastikan saya membaca beberapa buku dalam seminggu, saya harus berhenti menonton TV, berhenti main game dan membuang-buang waktu untuk kegiatan yang tidak produktif. 

Disiplin adalah konsep yang disadari setiap orang, tetapi hanya sedikit yang benar-benar mengerti. Padahal, orang-orang yang paling sukses dalam hidup adalah mereka yang menerapkan kedisiplinan setiap hari.

Sukses dengan Menerapkan Kepuasan Tertunda

Sumber: Tirachard Kumtanom dari Pexels.com

Tepat setelah Olimpiade 2012, saya bertemu dengan Lee Chong Wei dan Pandelela Rinong, pemenang medali dari Malaysia di Olimpiade London. Ketika mereka berbicara tentang perjalanan mereka menuju kejayaan mereka selalu kembali mengaitkannya dengan pengorbanan, kerja keras, dan disiplin.

Sesungguhnya, “disiplin” yang mereka gambarkan adalah ketangguhan mental. Ketangguhan mental adalah kunci untuk mendorong diri Anda untuk menjalani sesi pelatihan yang penuh dengan tantangan.

Komponen utama dari ketangguhan mental adalah kepuasan tertunda. Kepuasan tertunda adalah kemampuan untuk menangguhkan keuntungan sekarang untuk mendapatkan hadiah yang lebih besar dan lebih baik di masa depan. Ini membutuhkan tekad yang kuat. 
Pernah kah Anda bertanya-tanya mengapa tekad Anda luntur di saat Anda paling membutuhkannya?

Hasil Tes Marshmallow yang dilakukan oleh anak-anak PAUD memberi kita beberapa wawasan tentang kekuatan gratifikasi tertunda. Pada akhir 1960-an, peneliti Walter Mischel menguji kemauan ratusan anak berusia empat tahun dengan menempatkan mereka di ruang kosong bersama marshmallow yang lezat.

Baca juga: 8 Komponen Utama dalam Kesuksesan

Mereka diberi pilihan untuk memakan camilan segera atau menunggu 15 menit dan mereka akan mendapatkan tambahan dua camilan khusus. Kebanyakan anak mengatakan mereka akan menunggu, tetapi banyak yang gagal dalam beberapa menit. Saat peneliti meninggalkan ruangan, mereka segera melahap marshmallow mereka.

Anak-anak berusia empat tahun yang berhasil bertahan selama 15 menit dan mendapatkan dua camilan mengalihkan perhatian mereka dari marshmallow dengan berfokus pada sesuatu yang lain. Yang paling menarik tentang tes ini adalah studi tindak lanjut yang dilakukan bertahun-tahun kemudian. Mereka menemukan bahwa anak-anak yang berhasil menerapkan kepuasan tertunda jauh lebih sukses dalam hidup, termasuk memiliki hasil akademik yang lebih baik dengan banyak manfaat pada kesehatan dan perilaku.

Disiplin mengharuskan kita untuk menukar kegembiraan hari ini (bermain game, bersenang-senang dengan teman, menonton TV) dengan imbalan kemenangan besok (menjadi pemimpin hebat atau ahli dalam bidang tertentu). 

Tentu dibutuhkan kemauan yang besar untuk menunda kepuasan, dan ini bukan hanya tentang menjadi sukses dalam olahraga. Dalam bisnis, Anda perlu berlatih untuk menjadi pemimpin yang hebat. Anda perlu mempelajari keterampilan baru yang membutuhkan waktu dan energi yang signifikan. Bisa saja dengan mengorbankan beberapa "kesenangan" Anda hari ini untuk hari esok yang lebih baik. 

Tetapi, bagaimana Anda bisa meningkatkan tekad untuk melakukannya?

Perkuat Tekad dengan To Do List


Breakingpic dari Pexels.com

Peneliti Roy Baumeister meyakini bahwa tekad adalah sumber daya terbatas. Menurutnya, tekad bukanlah keterampilan yang harus dipelajari, namun lebih sebagai otot yang perlu dilatih. Semakin banyak Anda menggerakkan "otot" tekad Anda, semakin kuat pula kekuatannya. 

Pada tahun 1992, seorang psikolog Inggris melakukan percobaan pada kemauan beberapa pasien yang pulih dari operasi penggantian pinggul atau lutut. Studi ini menemukan bahwa satu elemen sederhana membedakan pasien yang pulih dengan cepat dengan pasien lain yang butuh waktu lama untuk berdiri.

Perbedaannya: Sehelai kertas.

Semua pasien diberi buku kecil untuk menuliskan rencana pemulihan harian mereka. Pasien yang giat menuliskan rencana harian tersebut berhasil berjalan dua kali lebih cepat daripada mereka yang tidak menulis.

Nah, terbukti bahwa memiliki daftar tugas harian dapat menjaga kedisiplinan dan fokus kita. Apakah Anda memiliki target tertentu yang ingin Anda capai setiap hari? Ini adalah titik awal dari tekad. Disiplin adalah jembatan antara tujuan dan pencapaian, dan kepuasan instan menggagalkan jembatan ini.

Rayakan Keberhasilan Anda

Fauxels dari Pexels.com

Menariknya, salah satu kekuatan paling kuat untuk memungkinkan disiplin dan kemauan jangka panjang adalah untuk menghargai diri sendiri.

Penelitian terhadap orang-orang yang sukses diet menunjukkan bahwa banyak dari mereka terdorong karena membayangkan imbalan yang akan mereka peroleh ketika berhasil, entah itu  mengenakan pakaian lama mereka dan juga merasakan suatu pencapaian.

Jadi, tidak ada salahnya bila Anda menghargai keberhasilan Anda dengan sesuatu yang bisa membuat Anda tetap termotivasi. Namun, tetaplah disiplin untuk melakukan yang terbaik dan pada akhirnya berhasil mencapai tujuan Anda.

Tonton juga:

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Konsultasi

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.