Haruskah Kerja 4 Hari Seminggu Menjadi Norma Baru?

Oleh Roshan Thiran|08-04-2022 | 2 Min Read
Source: Canva Studio dari Pexels.com
Kerja 4 hari seminggu, apakah efektif?

Sejak dimulai pada bulan Agustus lalu, eksperimen kerja 4 hari seminggu oleh Microsoft Jepang menuai pujian. Segala metode efisiensi waktu pun diterapkan, dari rapat dibatasi selama 30 menit hingga pertemuan jarak jauh yang tetap menjadi prioritas. Alhasil, 2.300 karyawan mereka dapat menikmati libur yang lebih lama.

Menariknya, produktivitas mereka meningkat 40% dan biaya listrik (23,1%) serta percetakan kertas (58.7%) mereka mengalami penurunan yang signifikan. Ketika dimintai tanggapan, 92% karyawan menyukai ide pengurangan hari kerja tersebut. Sangat wajar tentunya, siapa pula yang tidak suka perpanjangan hari libur?

Namun, apakah kerja 4 hari seminggu seefektif itu? Dapatkah kita mengatakan bahwa setelah satu bulan, manfaat yang dinikmati oleh perusahaan dan karyawannya akan berkelanjutan dalam jangka panjang?

Dinamika jam kerja

Sumber: Pixabay

Pada tahun 1930, ekonom asal Inggris John Maynard Keynes memprediksikan bahwa di masa depan akan berlaku sistem kerja 15 jam seminggu karena perkembangan teknologi yang mendukung. Sekilas, mungkin Keynes keliru. Di Jepang, Indonesia, Malaysia dan bahkan di seluruh dunia saat ini masih banyak orang yang bekerja 40 jam seminggu. Belum lagi adanya fenomena overwork.

Tapi, Keynes ternyata benar. Mungkin-mungkin saja untuk kerja 15 jam seminggu dan menghasilkan pemasukan yang cukup, nyatanya internet membuktikan hal itu. Namun, Keynes adalah seorang ekonom, bukan psikolog. Dia tidak mempertimbangkan faktor seperti norma budaya atau preferensi individu untuk dibimbing daripada mengambil alih sendiri. 

Meskipun adanya kemajuan bisnis dan Industri 4.0, dunia korporat cenderung beroperasi seperti biasa: waspada terhadap perubahan dan lebih memilih untuk meneruskan apa yang sudah biasa dilakukan. 

Ketika Revolusi Industri dimulai pada pertengahan abad ke-18, pemilik pabrik fokus untuk memaksimalkan output dengan mengenalkan sistem kerja 16 jam sehari, 6 hari dalam seminggu. Output dari produksi pun bergantung pada jumlah jam kerja suatu pabrik beroperasi. Oleh karena itu, kebiasaan untuk memeras tenaga kerja semaksimal mungkin berlanjut hingga sekarang ini. 

Kini, meskipun kita memiliki 40 jam kerja dalam seminggu (dalam kontrak), para pemimpin bisnis masih berpegang pada gagasan kuno bahwa produktivitas bergantung pada waktu yang dihabiskan di kantor.

Baca juga: Masa Depan Dunia Kerja, Seberapa Siapkah Anda?

Meskipun begitu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa rata-rata seorang karyawan ‘menghabiskan waktu’ adalah antara 94 menit hingga 3 jam (memeriksa email saja dapat menghabiskan waktu antara 1-2 jam). Di sisi lain, rapat juga dapat menghabiskan hingga dua hari dalam seminggu. Semakin tinggi jabatan Anda, semakin banyak pula waktu yang Anda habiskan untuk rapat.

Salah satu argumen pendukung kerja 4 hari seminggu adalah bahwa hal tersebut dapat membantu mengurangi pengeluaran dan meningkatkan produktivitas, seiring dengan semakin fokusnya pekerja selama 4 hari itu dan mereka dapat beristirahat lebih lama di akhir pekan.

Namun, sulit untuk mengukur manfaat dari eksperimen Microsoft Jepang karena mereka melaksanakannya hanya dalam waktu satu bulan. Setidaknya, kelebihan dari kerja 4 hari seminggu meliputi: 

  1. Waktu digunakan lebih efisien untuk ‘bekerja sesungguhnya’, 
  2. Meningkatnya kesejahteraan karyawan, 
  3. Penghematan biaya perusahaan dan karyawan, 
  4. Mendorong inovasi serta kreativitas di tempat kerja.


Sebaliknya, ada pun kelemahan dari pengurangan hari kerja:

  1. Tuntutan pasar (karyawan diharuskan bekerja saat waktu luang),
  2. Potensi pemotongan gaji bagi karyawan,
  3. Kemungkinan menurunnya produktivitas (karyawan tidak terjamin lebih fokus),
  4. Kesulitan beradaptasi untuk bekerja lebih singkat karena sudah terbiasa bekerja selama 5 hingga 6 hari dalam seminggu.


Tiap organisasi berbeda-beda

Sumber: Fauxels dari Pexels.com

Meskipun kerja 4 hari seminggu tampak seperti prospek yang menjanjikan, ada baiknya kita tidak melihat dari kelebihannya saja. Tantangan dan keterbatasan yang menyertainya pun perlu dipertimbangkan dengan matang agar kita bisa memastikan bahwa sistem ini aplikatif untuk suatu organisasi.

Banyak pemimpin telah susah payah dalam meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan karyawan yang sejalan dengan kinerja perusahaan. Bisa dibilang, kerja 4 hari seminggu adalah solusi sederhana untuk masalah kompleks.

Pendekatan yang lebih konstruktif adalah dengan menerapkan kebiasaan yang dapat meningkatkan efisiensi waktu dan produktivitas kerja. Contohnya, di Leaderonomics saya pribadi mulai membatasi jumlah rapat yang saya hadiri dan memastikan bahwa semua orang benar-benar fokus selama kita rapat. Dengan tidak mengizinkan gadget dan laptop selama rapat, kami menyadari bahwa durasi rapat semakin singkat. Dengan lebih sedikit rapat, kita pun memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan lain.

Cara lainnya adalah dengan mengadakan rapat sambil berdiri. Sering kali ketika seseorang datang ke ruangan saya, kita terlalu lama mengobrol. Percakapan kita menjadi berlarut-larut karena kita duduk di kursi yang nyaman.

Baca juga: Haruskah Karyawan Memilih Apa yang Ingin Mereka Kerjakan?

Selama beberapa tahun terakhir, saya telah menerapkan rapat sambil berdiri dan terbukti rapat tersebut terlaksana lebih singkat dan efisien. Anda juga bisa menentukan durasi rapat yang sekiranya paling efektif, baik itu 15 menit, 30 menit, atau satu jam. Tidak hanya itu, banyak segudang cara lain yang dapat membuat karyawan Anda kerja lebih rileks tanpa harus merasa ‘aktif’ dan ‘siap sedia’ setiap saat.

Teknologi juga bisa meningkatkan produktivitas kita, jika digunakan dengan bijak. Pasalnya, hanya dengan membuka Facebook atau Instagram selama 5 menit saja dapat membuat kita kehilangan fokus. Begitu juga dengan WhatsApp dan email kita yang berbunyi tiap ada pesan baru masuk. Tentukan cara bagaimana Anda mengatasi masalah ini, entah dengan bekerja jauh dari gadget atau mematikan notifikasinya.

Semua kembali lagi ke diri kita masing-masing, sama seperti bagaimana di awal kita memandang eksperimen Microsoft Jepang. Baik itu dengan bekerja 4 hari atau 5 hari dalam seminggu, perusahaan mana pun yang berinisiatif untuk meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan karyawannya akan menikmati hasilnya dalam jangka panjang.

Artikel ini diterjemahkan dari Should a 4-Day Workweek be the New Norm?

Tonton juga:

Share artikel ini

Komunitas

Tags: Konsultasi

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2023 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.