Mendengarkan Buka Potensi Yang Tidak Terlihat Sebelumnya

Oleh Eri Silvanus|18-04-2022 | 2 Min Read
Source: Andrea Piacquadio dari Pexels.com
Sudahkah Anda mendengarkan orang lain dengan baik?
"Saya sudah ada di industri ini selama belasan tahun! Percayalah! Dari dulu ya begini cara kerjanya."


Pernah mendengarkan perselisihan antara "senior" dan "junior" seperti kutipan di atas?

Sering kali memang sulit membedakan apakah sang pemimpin yang keras kepala dan tidak mau berubah atau sang tim baru ini yang memang belum tahu banyak hal dan idenya terlalu liar.

Sering kali yang bisa membuktikan adalah percobaan dan waktu.

Elon Musk membuktikan pada dunia dan khususnya pada 2 orang astronot yang sangat dihormatinya bahwa private space ship bisa dilakukan. Tapi itu setelah penolakan dari berbagai pihak, kegagalan berulang kali, dan kerugian yang mungkin tidak bisa kita bayangkan.

Biasanya para trainer motivasional akan cenderung mengatakan bahwa kalau kita menggunakan teknik ini atau teknik itu, maka kita bisa terhindarkan dari "jebakan kuadran buta" di konsep Jendela Johari berikut:



Menurut saya itu adalah janji yang terlalu dibesar-besarkan dan kurang berdasar. Kenapa?

Baca juga: Seberapa Intens Komunikasi yang Tergolong Cukup?

Hidup itu seharusnya dinamis


Pernah dengar kalimat: "Di jaman ini, satu-satunya yang pasti tidak berubah adalah perubahan itu sendiri"?

Umumnya situasi, tantangan, dan persaingan yang kita hadapi akan selalu berubah. Pengetahuan, kompetensi, dan karakter kita pun juga sedikit banyak akan ikut beradaptasi. Jadi jika segala hal ini akan selalu berubah, itu artinya akan selalu ada hal yang kita dan orang lain tidak tahu sebelumnya (kuadran kiri bawah).

Jadi tidak akan ada sebuah teknik apapun yang tiba-tiba bisa membuat kita bisa berubah menjadi "Tuhan maha tahu".

Apa yang bisa kita lakukan adalah mendisiplin diri untuk sebisa mungkin menjadi pribadi yang terbuka dan memotivasi orang lain mau terbuka mengenai kita. (kuadran kanan atas).

Di sinilah mental dan kemampuan mendengarkan jadi sangat penting.

"Ego Danger Zone"

Sumber: Timur Weber dari Pexels.com

Kevin Sharer, CEO dari Amgen, salah satu perusahaan Bio Teknologi terbesar di dunia memiliki segudang "sejarah" yang bisa membuktikan bahwa dia tahu apa yang sedang dia lakukan.

Dalam bidang disiplin pribadi, dia adalah lulusan US Naval Academy dan melayani di US Navy selama 8 tahun. Dalam dunia bisnis, dia adalah mantan coorporate vice president General Eletric, GM dari MCI Communication, dan selama 12 tahun menjabat sebagai CEO dari Amgen.

Ini jelas bukan sejarah kontrol dan disiplin diri yang singkat.

Tapi dalam kata-katanya sendiri, tanpa disadari ia terjebak dalam "Ego Danger Zone". Di mengatakan:

"Saya benar-benar buta terhadap diri saya sendiri. Saya menyangkali apa yang sesungguhnya saya sedang lakukan. Saya jadi mudah tidak sabar, besar kepala, dan selalu menuntut orang lain untuk menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya saya sadar bahwa semua itu terjadi karena sebenarnya saya adalah pendengar yang buruk."


Kisah ini kebetulan menyorot seseorang yang sedang ada di posisi puncak. Tapi orang-orang muda juga bisa terjebak pada "Ego Danger Zone" yang sama.

Sejak jaman generasi X, kita selalu menuai generasi muda yang merasa lebih benar dan mampu melakukan lebih baik daripada generasi pendahulunya. Ini bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Dunia teknologi dan informasi memang berkembang jauh lebih cepat sejak jaman mereka, dibandingkan jaman-jaman sebelumnya.

Jadi baik "senior" dan "junior" cenderung sama-sama memiliki "ego danger zone" mereka sendiri-sendiri.

Baca juga: Apa Itu Conversational Intelligence (C-IQ)?

Mendengarkan itu bukan hanya tentang teknik

Sumber: Fauxels dari Pexels.com

Setelah Sharer menyadari titik kritis yang dia sedang alami, dia berusaha untuk mengubah beberapa kebiasaan:

  1. Ketika berkomunikasi dengan orang lain, dia fokus dan tidak lagi memikirkan hal lain di kepalanya.
  2. Alih-alih memperlakukan komunikasi sebagai konteks untuk memberi perintah dan mengajar. Setiap komunikasi mulai diperlakukan sebagai kesempatan untuk memahami konteks dan menerima feedback.
  3. Dia membuka berbagai macam jalur komunikasi, di dalam maupun di luar perusahaan, agar dia dapat melakukan deteksi awal mengenai tanda-tanda ancaman maupun tanda-tanda peluang.


Apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri Sharer bukanlah sekedar perubahan teknik komunikasi. Kita bisa mengikuti berbagai seminar atau training mengenai pentingnya active listening, tapi terus menerus mempertahankan filter di hati kita.

Lagi pula mendengarkan apa yang mau kita dengarkan, jelas terasa lebih menyenangkan daripada mendengarkan apa yang tidak mau kita dengarkan. Ya kan?

Apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri Sharer sebenarnya adalah kesadaran bahwa:

  1. Saya tidak maha tahu
  2. Apa yang saya tahu bisa tidak tepat / sudah ketinggalan
  3. Orang lain bisa tahu apa yang lebih tepat / lebih update


Jadi, pada akhirnya mendengarkan dengan baik itu bukan sekedar mengenai teknik. Tapi mengenai kerendahan hati untuk mau mengakui, bahwa kita hanyalah manusia. Sama seperti manusia yang lain.

Kerendahan hati inilah yang akan senantiasa membuka peluang potensi pengembangan diri dan bahkan organisasi, yang tidak kita lihat sebelumnya.

Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Eri Silvanus

Tonton juga:


Share artikel ini

Komunikasi

Tags: Kepemimpinan Tanpa Batas

Saya menolong para individu dan organisasi meningkatkan kinerja dan leadership engangement melalui fungsi saya sebagai seorang pembicara, coach, dan consultant.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.