Konflik – Komunikasi yang belum diselesaikan

Oleh Roshan Thiran|22-10-2020 | 2 Min Read
Komunikasi yang Sehat dan Berkualitas di Perlukan untuk Mengatasi Konflik

Semakin besar kekuatan yang kita miliki, semakin besar tanggung jawab kita. Ada bahaya mengancam bagi seorang pemimpin yang salah langkah dan didominasi oleh kekuasaan.

Baru-baru ini, sekelompok peneliti di University of Florida, yang dipimpin oleh Trevor Foulk, menemukan bahwa para pemimpin yang berperilaku kasar adalah orang-orang yang berjuang keras menjadi orang yang tenang ketika mereka kembali dari pekerjaan dan menemukan bahwa pikiran mereka dibanjiri hal-hal negatif. Perilaku mereka terkait dengan perasaan mereka sendiri bahwa mereka tidak kompeten, kurang dihormati dan kurang berwibawa di tempat kerja.

Pemimpin-pekerja yang dinamis

Sepanjang perjalanan kepemimpinan saya, termasuk mengamati dan melatih para pemimpin lain, saya sering memikirkan dinamika pemimpin-pekerja dan asumsi-asumsi yang melekat pada kedua pihak ini. Secara umum, pemimpin dipandang sebagai orang yang memiliki semua jawaban dan selalu mengontrol arah dan visi kelompok atau organisasi.

Demikian juga seorang karyawan kadang-kadang dilihat oleh seorang pemimpin sebagai seseorang yang melakukan tugas tanpa rasa keberatan. Di sinilah masalah muncul. Ketika pemimpin dan pekerja memiliki pandangan yang terlalu sepele satu sama lain, masalah terus tumbuh dan menyebabkan gangguan di seluruh organisasi. Bagi para pemimpin, ini dapat mengakibatkan masalah organisasi yang menyakitkan; sedangkan bagi pekerja atau karyawan, mereka mungkin menjadi kurang terlibat, dan pada akhirnya akan menurunkan semangat mereka.

Tingkatkan kualitas komunikasi

Dari sudut pandang saya, masalah seperti di atas dapat dihindari ketika kita meningkatkan komunikasi. Saya sering diingatkan oleh kata-kata pujangga yang pernah saya pelajari,

“konflik adalah hasil dari komunikasi yang tidak terselesaikan”.


Khususnya di negara-negara Asia, ada hierarki yang permanen di tempat kerja dan keyakinan mengenai ‘jarak kekuasaan’ secara umum, dimana orang mengharapkan dan menerima bahwa kekuasaan sedang didistribusikan secara tidak adil. Pemimpin diharapkan mempunyai semua jawaban, sementara pekerja diharapkan melakukan pekerjaannya saja. Ini menyebabkan kurangnya komunikasi yang berarti di antara pemimpin dan pekerja atau pengikut.

Tetapi, organisasi tidak didominasi oleh robot. Organisasi digerakkan oleh manusia dan suatu organisasi akan lebih efektif ketika orang-orang di dalamnya bekerja sama. Sesungguhnya, terlepas dari apakah Anda orang Asia, Eropa atau Amerika, kegagalan untuk berpartisipasi dalam komunikasi yang bermakna atau berusaha untuk saling memahami peran satu dengan yang lain,akan menyebabkan masalah yang sama bagi semua yang terlibat. 

Peneliti Trevor Foulk menunjukkan bahwa pemimpin yang berkomitmen dan menghargai kesepakatan bersama, jarang menyerah pada masalah yang dihadapi oleh pemimpin yang egois. Karena pemimpin seperti ini, adalah pemimpin yang menghargai hubungan sosial yang baik, hubungan yang positif dan suasana yang harmonis di tempat kerja.

Baca juga artikel berjudul "5 Penyakit Berbahaya dalam Tim"

Sumber: Pexels.com

Puncak kekuasaan, tempat yang sepi dari komunikasi

Meskipun ini mungkin terdengar idealis, ada banyak bukti bahwa kepemimpinan berbasis layanan menghasilkan hasil yang produktif dan menikmati tingkat  pergantian yang lebih rendah daripada gaya kepemimpinan 'Orang Hebat' yang cenderung menyebabkan para pemimpin bertindak berlebihan.

Namun, para pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan mereka dalam hal apapun, menurut Foulk, setidaknya harus diberi pemahaman tentang situasi mereka. Katanya, untuk sesaat bos Anda mungkin terlihat sangat menyebalkan, sebenarnya mereka bereaksi terhadap situasi yang mungkin akan kita lakukan reaksi yang sama jika kita berada di posisi mereka. Jadi jangan terlihat seolah-olah mereka adalah raksasa.

Kebanyakan pemimpin memiliki niat baik, tetapi seperti kata pepatah, puncak kekuasaan adalah tempat yang sepi. Begitu banyak yang harus dilakukan tetapi apa waktunya tidak cukup, apalagi dorongan untuk mengambil keputusan setiap hari, maka itu sangat menegangkan bagi mereka. Belum lagi keinginan untuk menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan. Meskipun ini bukan alasan untuk berperilaku kasar di tempat kerja atau di mana pun, tetapi ini dapat memberikan sedikit penjelasan bagi kita untuk dapat memahami mengapa mereka berperilaku seperti itu.

Saya dapat mengatakan sekali lagi bahwa, tidak ada yang suka berbicara tentang kerja keras mereka. Kita cenderung bertindak dan menangani semua masalah yang menghalangi kita, dan ini mungkin tampak luar biasa, tetapi pada kenyataannya hal itu menyebabkan kerusakan besar secara keseluruhan, mulai dari kesejahteraan pemimpin dan karyawan hingga dampak pada organisasi itu sendiri. Ini adalah masalah yang dapat diabaikan untuk sementara waktu sebelum berubah menjadi berantakan.

Pertimbangkan dan berkomunikasilah dengan diri sendiri

Selanjutnya, saya bertanya-tanya, apakah ada ruang untuk percakapan yang bermakna di tempat kerja? Kita perlu memulai komunikasi yang bermakna dan berani untuk menceritakan dan berbagi kisah perjuangan dan tantangan sebagai pemimpin dan pekerja. Haruskah kita menyebut diri kita sebuah tim bahkan ketika kita tidak bisa memahami satu sama lain?

Bisakah kita benar-benar mengatakan bahwa ada solidaritas di antara kita? Bagi para pemimpin, mungkin lebih muda untuk melihat komunikasi yang bermakna sebagai kemewahan yang sulit dimiliki, tetapi, saya ingin menunjukkan bahwa kurangnya komunikasi yang bermakna akan disertai dengan biaya yang lebih tinggi di tempat kerja. Tanpa komunikasi, kita tidak dapat terhubung, dan jika kita tidak terhubung, maka terbentuklah pemisahan dari setiap elemen yang ada dan kita akan menjadi asing satu sama lain.

Dalam keterasingan inilah kita mulai kehilangan fokus satu sama lain sebagai sebuah tim dan fokus untuk mencapai kesuksesan bersama. Hentikan situasi ini, fokuskan semua energi Anda untuk dapat menyatukan semua elemen dan ke arah yang sama.

Tonton juga video tentang kecerdasan linguistik seorang pemimpin, yang berjudul “Interview Bersama Dr. Fernandes Arung | Leaderonomics Digital Indonesia EP08”


Share artikel ini

Roshan is the Founder and CEO of the Leaderonomics Group. He believes that everyone can be a leader and "make a dent in the universe", in their own special ways. He is constantly featured on TV, radio and numerous publications sharing the Science of Building Leaders and on leadership development. Follow him at www.roshanthiran.com
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2022 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.