Setelah ‘Hujan’, Saya Bertanya: Perlukah Semua Luka Dihapus?

Jan 19, 2026 4 Min Read
Silhouette of a man looking at the window
Sumber:

Freepik

Saya sudah membaca novel Hujan karya Tere Liye tanpa ekspektasi macam-macam. Awalnya saya kira ini hanya cerita tentang masa depan, tentang kota yang runtuh lalu dibangun kembali, tentang teknologi yang semakin canggih. Tapi setelah menutup halaman terakhir, ada satu hal yang terus tertinggal di kepala saya: bagaimana jika suatu hari, manusia benar-benar bisa menghapus ingatannya sendiri?

Hujan by Tere Liye

Hujan, Tere Liye

Di dunia Hujan, cerita berpusat pada Lail dan Esok, dua orang yang bertemu setelah bencana besar menghancurkan kota dan mengubah arah hidup banyak orang. Mereka tumbuh di dunia yang perlahan dibangun ulang oleh teknologi. Menjadi lebih rapi, canggih, dan terkontrol. Di masa depan ini, manusia hidup berdampingan dengan sistem yang mampu mengatur hampir segalanya, bahkan menawarkan teknologi untuk menghapus ingatan tertentu. Di sinilah cerita bergerak pelan, bukan sekedar tentang cinta atau bencana, tetapi tentang ingatan, kehilangan, dan pilihan untuk tetap mengingat atau memilih lupa.

Sebagai pembaca, saya tidak merasa teknologi di novel ini digambarkan jahat. Justru sebaliknya, ia terlihat sangat membantu. Kota bisa dibangun ulang dengan cepat, sistem berjalan rapi, hidup terasa lebih teratur, bahkan kesedihan pun ditawarkan jalan keluar yang praktis. Tapi di situlah saya mulai merasa tidak nyaman.

Karena semakin lama membaca, saya sadar bahwa teknologi bisa mengingat segalanya, tapi ia tidak pernah benar-benar mengerti kehilangan.

Baca Juga: AI Bisa Membantu, Tapi Hanya Manusia yang Bisa Mengubah

Kehilangan bukan hanya soal ingatan. Ia bukan sekadar potongan memori yang muncul lalu mengganggu. Kehilangan adalah proses. Ada hari-hari ketika kita baik-baik saja, lalu ada hari lain ketika luka itu muncul lagi tanpa permisi. Dan dalam Hujan menunjukkan bahwa teknologi, secanggih apa pun, tidak bisa menggantikan proses itu.

Saat saya menutup buku ini, saya justru teringat dunia nyata. Kita mungkin belum bisa menghapus ingatan seperti di novel, tapi bukankah kita sudah melakukan versi lainnya? Kita menyibukkan diri, menenggelamkan diri di pekerjaan, layar, dan notifikasi. Kita belajar untuk cepat “move on” tanpa benar-benar duduk dan memahami apa yang hilang.

Teknologi hari ini juga mengingat segalanya. Data kita tersimpan, aktivitas kita terekam, dan algoritma tahu apa yang kita sukai dan apa yang kita hindari. Tapi di saat yang sama, teknologi juga mendorong kita untuk cepat melupakan. Kita scroll ke konten berikutnya, pindah ke tugas selanjutnya, lanjut hidup seolah tidak terjadi apa-apa.

Photo Of Woman Using Mobile Phone

Mikoto, Pexels

Di novel ini, dunia bisa diperbaiki. Bangunan bisa dibangun ulang. Sistem bisa di-upgrade. Tapi perasaan manusia tidak pernah benar-benar punya tombol reset. Ada bagian-bagian diri yang tetap retak, meski semuanya terlihat berjalan normal.

Dan mungkin, itu bukan sesuatu yang perlu “diperbaiki”.

Teknologi seharusnya membantu manusia hidup lebih baik, bukan membuat manusia lupa cara merasakan. Ketika semua hal diukur dari efisiensi dan fungsi, ada risiko kita pelan-pelan kehilangan ruang untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang rapuh, lambat, dan tidak selalu siap.

Baca Juga: Dear 2026, Tolong Perbaiki Hidupku…

Di titik ini, Hujan terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Bukan sebagai peringatan keras, tapi sebagai pengingat pelan. Bahwa di tengah dunia yang semakin canggih, akan selalu ada hal-hal yang tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada sistem.

Dan mungkin, tugas kita, dalam peran apa pun yang kita jalani, adalah memastikan bahwa teknologi tidak hanya membuat hidup berjalan, tapi juga tetap memberi ruang bagi rasa, empati, dan kehilangan yang membentuk kita sebagai manusia.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

wanita yang sedang merenung

18 Tanda Overthinking, Apakah Kamu Mengalaminya?

Oleh Gregg Vanourek. Kenali 18 tanda overthinking yang bisa saja sedang kamu alami.

Oct 03, 2023 2 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Pemimpin dan Waktu

Pemimpin dan Waktu

Douglas Robitaille berbagi wawasan tentang bagaimana pemimpin mengelola waktu dengan bijak untuk mencapai tujuan besar dan membangun tim yang produktif.

Feb 12, 2025 57 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest