Sabotase Diri Sendiri

Feb 11, 2026 2 Min Read
embracing knees
Sumber:

Alex Green, Pexels

Sabotase diri sendiri terjadi ketika tanpa sadar kita menghambat keberhasilan, kebahagiaan, atau perkembangan diri. Pola ini sering muncul dari cara kita berbicara dan berpikir tentang diri sendiri, bahkan saat kita tidak menyadarinya.

1. Merendahkan Diri Sendiri

Ketika Anda sering berkata, “Orang lain lebih parah” atau “Aku tidak seharusnya merasa seperti ini”, sebenarnya Anda sedang menolak pengalaman dan perasaan sendiri. Kebiasaan ini membuat diri terasa kecil, tidak dihargai, dan perlahan mengikis rasa percaya diri.

Jika terus diulang, pola ini biasanya berakar dari pengalaman masa lalu saat perasaan Anda tidak diakui atau bahkan disalahkan. Tanpa disadari, Anda menyerap pesan negatif tersebut dan mulai mengulanginya kepada diri sendiri. Dari sinilah siklus sabotase diri terus terbentuk.

2. Menolak Perasaan yang Sebenarnya

Mengabaikan atau menolak apa yang Anda rasakan akan membuat Anda sulit memahami diri sendiri. Ketika perasaan tidak diakui, Anda bisa kehilangan arah tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup.

Misalnya, saat Anda menekan rasa kecewa atau takut, Anda mungkin terus membuat keputusan yang tidak tepat atau mengabaikan kebutuhan pribadi. Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan tekanan emosional yang tersembunyi. Dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi di dalam terasa berat.

Baca Juga: Self-Love di Kantor: Berani Profesional, Bukan Personal

3. Memperkuat Emosi yang Tidak Nyaman

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa menolak emosi, termasuk emosi positif, justru dapat membuat perasaan negatif terasa lebih kuat. Saat emosi ditekan, rasa cemas, marah, atau sedih bisa muncul lebih dalam.

Contohnya, ketika Anda berkata pada diri sendiri, “Aku tidak pantas merasa bangga dengan pencapaian kecil ini”, perasaan cemburu atau tidak berharga bisa muncul dan semakin mendominasi. Menolak perasaan sendiri tidak hanya membuat kita sulit memahami diri, tetapi juga membuat kita lebih mudah terjebak dalam emosi negatif.

4. Melemahkan Ketahanan Emosi

Setiap perasaan sebenarnya adalah kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Ketika Anda menolaknya, Anda kehilangan peluang untuk membangun cara menghadapi masalah yang lebih sehat dan kuat secara emosional.

Orang yang mampu menerima dan mengelola emosinya dengan baik biasanya lebih tangguh dalam menghadapi tekanan, tantangan, dan kekecewaan. Sebaliknya, menolak emosi justru membuat kita lebih rapuh dan mudah dipengaruhi keadaan luar. Tanpa disadari, hal ini mempertahankan pola sabotase diri yang sama dari waktu ke waktu.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Konsultasi, Pertumbuhan

Alt

Dr. Azuma Hashim adalah seorang HRDC Certified Training Provider, ahli dalam Handwriting Analysis, serta Transformational Coach yang berpengalaman dalam bidang kepemimpinan dan pembangunan diri.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

Otak mainan di atas piring

Pola Menyenangkan Orang Lain: Mengurai People Pleaser dan Fawning

Bersama Heru Wiryanto memahami perilaku People Pleaser dan respons Fawning bukan sekadar kebiasaan sosial. Keduanya berkaitan dengan cara otak memproses ancaman, rasa takut, validasi, serta kebutuhan untuk bertahan.

Nov 25, 2025 4 Min Read

Wawancara Kepemimpinan: Kepemimpinan Yang Melayani

Kepemimpinan Yang Melayani

Theo Litaay, SH, LLM, Ph.D, membahas penerapan kepemimpinan yang melayani dalam organisasi untuk meningkatkan kinerja tim dan kesejahteraan.

Feb 19, 2025 56:41 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest