Hal-Hal yang Perlu Dihentikan Sebelum Menjadi Penyesalan

Jun 15, 2026 4 Min Read
A woman by the window
Sumber:

Chuot Anhls, Pexels

Beberapa waktu lalu, aku berkumpul dengan teman-temanku di sebuah kafe. Awalnya, obrolan kami ringan saja—tentang pekerjaan, rencana pertemuan selanjutnya, sampai hal-hal random yang sering muncul saat sudah lama tidak bertemu. Tapi di tengah percakapan santai itu, tiba-tiba salah satu dari mereka melempar pertanyaan:

Kalau kalian bisa balik ke lima tahun yang lalu, apa yang mau kalian ubah?

Tidak aku sangka, meja yang tadinya ramai mendadak sedikit hening.

Ada yang menjawab ingin lebih serius membangun karier sejak awal. Ada yang bilang ingin lebih berani mencoba hal baru. Ada juga yang menyesal terlalu sering mengutamakan orang lain sampai lupa memikirkan dirinya sendiri.

Hampir tidak ada yang berkata bahwa mereka menyesal karena gagal. Justru, kebanyakan penyesalan datang dari hal-hal yang tidak sempat dilakukan: kesempatan yang dilewatkan, keputusan yang terus ditunda, atau keberanian yang tidak pernah benar-benar dikumpulkan.

Dari obrolan malam itu, aku sadar bahwa penyesalan jarang datang karena satu keputusan besar. Sering kali, ia muncul dari kebiasaan kecil yang kita anggap sepele. Kebiasaan berkata “nanti saja”, menunggu waktu yang terasa lebih tepat, atau terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain sampai lupa mendengarkan diri sendiri.

Mungkin itulah mengapa ada beberapa hal yang sebaiknya kita hentikan mulai sekarang, sebelum suatu hari nanti kita hanya bisa berkata, “Coba dulu aku…”

1. Berhenti Menunda Hal yang Sebenarnya Penting

Pernah ingin belajar skill baru, memulai proyek, atau mencoba sesuatu, tapi terus ditunda karena merasa belum waktunya?

Tenang, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita pernah melakukannya.

Baca Juga: Tips Mengatasi Penundaan (Procrastination) Sesuai Penyebabnya

Masalahnya, semakin lama sesuatu ditunda, semakin besar kemungkinan kita kehilangan momentum. Dan sering kali, yang kita sesali bukan karena gagal, tetapi karena tidak pernah mencoba.

Yang bisa dilakukan: Mulai dari langkah kecil. Tidak perlu langsung sempurna. Yang penting bergerak.

2. Berhenti Menunggu Waktu yang Sempurna

Kita sering berpikir bahwa semuanya harus ideal dulu: tabungan cukup, pengalaman cukup, atau rasa percaya diri sudah penuh.

Padahal, kalau menunggu semuanya sempurna, bisa jadi kita akan menunggu sangat lama. Faktanya, banyak orang belajar sambil berjalan. Mereka tidak selalu siap, tapi memilih untuk memulai.

Yang bisa dilakukan: Gunakan apa yang sudah dimiliki saat ini. Kadang, keberanian untuk memulai jauh lebih penting daripada persiapan yang tanpa akhir.

3. Berhenti Terlalu Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Di era media sosial, rasanya mudah sekali merasa tertinggal. Ada teman yang sudah menikah, ada yang kariernya melesat, ada juga yang tampak berhasil mencapai banyak hal. Tanpa sadar, kita mulai bertanya, “Kenapa hidupku belum seperti mereka?”

Padahal, setiap orang punya jalannya masing-masing. Yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita.

Yang bisa dilakukan: Fokus pada progres diri sendiri. Tidak apa-apa berjalan lebih pelan, selama tetap bergerak ke depan.

4. Berhenti Mengabaikan Kesehatan

Woman sitting overwhelmed on bed

Ron Lach, Pexels

Saat masih muda dan produktif, kita sering merasa tubuh bisa diajak bekerja tanpa henti. Tidur dikurangi, istirahat ditunda, dan makan seadanya. Sampai akhirnya tubuh memberi sinyal bahwa ia juga punya batas.

Karier memang penting. Tapi menikmati hasil kerja keras juga membutuhkan tubuh yang sehat.

Yang bisa dilakukan: Sisihkan waktu untuk istirahat, bergerak, dan menjaga pola hidup. Karena kesehatan bukan sesuatu yang baru terasa penting saat hilang.

5. Berhenti Hidup Hanya untuk Menyenangkan Orang Lain

Tidak semua orang akan setuju dengan pilihan hidup kita. Dan itu wajar.

Kalau terus berusaha menyenangkan semua orang, kita bisa lupa bertanya: sebenarnya, apa yang kita inginkan?

Mengejar persetujuan orang lain adalah perlombaan yang tidak ada garis akhirnya. Selalu akan ada pendapat berbeda, ekspektasi baru, atau standar yang berubah.

Yang bisa dilakukan: Belajar menetapkan batasan dan sesekali berkata “tidak”. Menjaga diri sendiri bukan berarti egois.

6. Berhenti Terlalu Keras pada Diri Sendiri

Sering kali, kita menjadi kritikus paling keras bagi diri sendiri. Kesalahan kecil terus diingat, sementara pencapaian justru dianggap biasa.

Padahal, bertumbuh tidak selalu harus berjalan cepat. Tidak semua orang mencapai garis finish di waktu yang sama.

Yang bisa dilakukan: Beri ruang untuk beristirahat dan menghargai progres yang sudah dicapai. Perlakukan diri sendiri seperti kamu memperlakukan seorang teman baik.

Baca Juga: Hilangkan Stres yang Anda Ciptakan Sendiri

Setelah malam itu, aku jadi sadar bahwa penyesalan sering kali bukan tentang hal besar yang terjadi sekali seumur hidup. Penyesalan justru lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita biarkan terus berulang.

Kabar baiknya, selama masih ada hari ini, selalu ada kesempatan untuk berubah.

Share artikel ini

Kepribadian

Tags: Pertumbuhan, Sifat Positif

Alt

Manisha adalah editor dan penulis di Leaderonomics. Ia percaya tulisan memiliki kekuatan untuk belajar dan membawa perubahan dengan menginspirasi banyak orang.

Alt

Mungkin Anda Juga Menyukai

male candidate

Rahasia HR #3: Apa yang Sebenarnya Dinilai HR di Interview Awal

Oleh Gustia R. Interview awal bukan soal jawaban sempurna, tetapi tentang keaslian, kesiapan, dan kesesuaian Anda dengan peran yang dilamar.

May 05, 2026 14 Min Read

A father and son

Kesalahan di Usia Muda yang Bisa Menjadi Penyesalan di Masa Depan

Bersama Rory Asyari, memahami berbagai kesalahan umum yang sering dilakukan anak muda dalam karier, keuangan, hubungan, dan pola pikir.

Jun 12, 2026 60 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest