3 Cara Meredam Kebisingan Saat Rasa Putus Asa Mulai Datang

Monstera Production, Pexels
Beberapa hari lalu, saya mendapati diri saya duduk di meja kerja sejak pagi. Kotak masuk email sudah penuh, judul-judul berita bergulir lebih cepat daripada yang mampu saya cerna, dan dunia terasa seperti sedang runtuh perlahan. Sebagai tambahan, tim hoki yang saya dukung sedang mengalami empat kekalahan berturut-turut. (Salah satunya kalah 9–0. Ya, sembilan banding nol.)
Tidak ada hal dramatis yang terjadi dalam hidup saya secara pribadi. Tidak ada kegagalan besar yang saya lakukan. Yang ada hanyalah kebisingan: tekanan pekerjaan, urusan keluarga, serta arus opini yang terus-menerus memberi tahu bagaimana seharusnya saya berpikir atau merasa. Saya mendapati diri saya menatap layar, merasa anehnya sudah lelah bahkan sebelum hari benar-benar dimulai. Saya rasa Anda mungkin juga pernah merasakan hal yang sama.
Bukan satu hal tertentu yang memicunya, melainkan akumulasi dari semuanya. Dan jika saya jujur, saat itu saya merasa putus asa.
Itulah tanda bagi saya. Saya butuh reset, dan saya membutuhkannya dengan cepat.
Selama bertahun-tahun, saya belajar bahwa rasa putus asa jarang datang dengan tanda peringatan. Ia menyelinap perlahan, sedikit demi sedikit. Dan ketika itu terjadi, fokus dan rasa sukacita biasanya menjadi hal pertama yang menghilang.
Saat saya menyadari itu, saya kembali pada satu praktik yang membumi: rasa syukur.
Baca Juga: Menemukan Rasa Syukur di Tengah Krisis
Ini bukan gimmick atau trik, dan bukan pula cara untuk menyangkal kenyataan. Ini adalah reset. Ia menggeser sikap batin saya dan membantu saya mengangkat kepala. Ketika saya menghitung hal-hal yang patut disyukuri, saya kembali ingat bahwa melangkah maju (dan menyelesaikan sesuatu) tetap mungkin dilakukan, bahkan di masa sulit.
Saya sering teringat satu kutipan dari Martin Luther King Jr.:
“Jika kamu tidak bisa terbang, maka berlarilah.
Jika kamu tidak bisa berlari, maka berjalanlah.
Jika kamu tidak bisa berjalan, maka merangkaklah—
tetapi apa pun yang kamu lakukan, kamu harus terus bergerak.”
Rasa putus asa mendorong kita untuk berhenti dan larut dalam kekhawatiran. Ia ingin kita diam dan tenggelam. Sebaliknya, rasa syukur mengajak kita untuk terus bergerak: terkadang perlahan, tetapi selalu dengan kesadaran. Rasa syukur mengajak kita bangkit dan mengambil satu langkah berikutnya.
Berikut tiga reset kecil yang saya andalkan ketika kebisingan mulai menguasai.
3 Langkah Sederhana Mengatasi Rasa Putus Asa
1. Memusatkan fokus pada hal yang bisa saya kendalikan
Saya bertanya pada diri sendiri: Apa satu hal yang perlu saya lakukan hari ini? Percakapan apa yang bisa saya mulai, keputusan apa yang bisa saya ambil, atau bentuk pelayanan apa yang bisa saya lakukan? Hadir sepenuhnya dan menyelesaikan setidaknya satu hal membantu saya kembali berpijak pada kenyataan di depan mata.
2. Mengecilkan volume dari berbagai input
Ini berarti saya lebih sadar dalam memilih bagaimana saya hadir untuk orang lain, dan lebih selektif terhadap apa yang saya biarkan masuk ke dalam pikiran (umpan berita, skor pertandingan, atau pembaruan tanpa henti). Mematikan sebagian dari itu membantu mencegah rasa jenuh dan menjauh. Ini bukan tentang mengabaikan realitas, melainkan mengelola energi dan perhatian dengan lebih bijak.
3. Menjangkau, bukan menarik diri
Jika rasa putus asa membuat kita terisolasi, rasa syukur justru menghubungkan kembali. Karena itu, saya menghubungi orang-orang yang saya hargai dan memberi tahu betapa berarti mereka bagi saya. Bisa berupa pesan singkat atau email. Bisa juga surat tulisan tangan (ya, cara lama). Mungkin sebuah panggilan telepon yang bermakna. Atau menulis di jurnal rasa syukur. Atau membawa makan malam pasta favorit saya ke rumah seorang teman. Lagipula, saya selalu merasa lebih baik setelah mengantarkan pasta. Dan jujur saja, siapa yang tidak suka ravioli dari Massimo’s Deli? (Jawabannya: tidak ada.)
Ketika saya melakukan tiga hal ini, dunia tidak serta-merta menjadi lebih tenang. Kegilaan di luar sana tetap ada. Namun, saya menjadi lebih stabil. Dan ketika kita menemukan kembali pijakan kita, kita menjadi lebih baik dalam pekerjaan, di rumah, dan di dalam hati kita sendiri.

Pvproductions, Freepik
Jadi, ini pertanyaan refleksi untuk Anda: Ketika kebisingan terasa begitu keras dalam hidup Anda, langkah kecil apa yang membantu Anda tetap bergerak maju? Sudah terpikir? Bagus. Kalau begitu, lakukan hari ini.
Saya ingin sekali mendengar apa yang berhasil bagi Anda.
Terima kasih telah mendukung buletin kecil saya. Dukungan itu sangat berarti bagi saya. Semoga Anda menjalani hari yang baik, minggu yang baik, dan tahun yang baik.
Artikel ini diterbitkan dari akun LinkedIn milik Chester Elton.
Kepribadian
Tags: Kepemimpinan Tanpa Batas, Konsultasi, Pertumbuhan, Sifat Positif
Carl adalah sales systems scientist sekaligus praktisi dengan lebih dari 30 tahun pengalaman kewirausahaan di bidang penjualan B2B, B2C, dan channel sales. Ia telah melatih lebih dari 5.000 profesional penjualan di lebih dari 20 negara serta memimpin lebih dari 200 inisiatif peningkatan dan optimalisasi kinerja penjualan. Dikenal mampu menjembatani teori dan eksekusi, Carl membantu organisasi merancang sistem penjualan yang skalabel, dapat direplikasi, dan menghasilkan kinerja yang konsisten.





