Vena Riana: Raih Prestasi Hingga Filipina, Apa Rahasianya?

Jul 28, 2022 5 Min Read
vena riana

Masa perkuliahan kerap dikenal sebagai fase pencarian jati diri. Dari kapanpun kita memulai, ada saatnya kita memilih untuk terlibat dalam suatu kegiatan baik itu berupa organisasi, komunitas, lomba, pertukaran pelajar, magang, dan berbagai kesempatan lainnya.

Setiap mahasiswa memiliki jalannya masing-masing. Setidaknya, itu yang seharusnya menjadi mindset kita.

Namun, tidak bisa dipungkiri kalau terkadang kita merasa orang lain jauh lebih hebat dari kita. Alih-alih termotivasi dengan pencapaian orang lain, kita merasa rendah diri.

Ni Nyoman Vena Riana Dewi adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Kerap dipanggil Vena, banyak prestasi yang telah diraihnya sepanjang kuliah. 
Siapa sangka, prestasi Vena menjadi awardee beasiswa XL Future Leaders Batch 9, mahasiswi pertukaran pelajar di Filipina dan Jepang, dan magang di berbagai perusahaan ternama berawal dari dirinya yang sekedar ‘mencoba-coba’?

Baca juga: 7 Tips Memaksimalkan Pengalaman Kuliah

Bermula dari Suntuk Pandemi

Alt

"Tahu nggak? Sebenarnya awal kuliah aku anaknya pasif banget. Mageran, mau ikut ini itu minder, takut pula diwawancara. Sampai akhirnya pas semester 4 aku ngerasa hidupku terlalu monoton. Apalagi itu lagi pandemi,” tutur Vena.

Selama 4 semester, keseharian Vena tidak jauh dari siklus ‘kuliah-main-kuliah-main’. Tugas terkumpul dan IPK standar sudah cukup membuatnya puas pada masa itu. Terlebih, orang-orang di sekitarnya juga memiliki kebiasaan yang sama. Jika bukan dirinya sendiri yang tergerak untuk berubah, Vena yakin mungkin hingga saat ini kondisinya tidak akan jauh berbeda.

Bosan dengan rutinitas pandemi, Vena kemudian memberanikan diri untuk mendaftar program pertukaran pelajar ke Jepang. Bermodalkan tekad, usahanya membuahkan hasil.

“Puji Tuhan aku dapet yang half-funded! Meskipun ditunda karena pandemi, itu jadi motivasi buat aku banget.”

Begitulah awal mula kisah Vena menoreh prestasi. Tertarik mencoba hal lain, Vena kemudian mendaftar program beasiswa XL Future Leaders (XLFL). Vena mengakui tidak berekspektasi banyak karena dirinya termasuk sebagai beberapa orang pertama yang mendaftar program XLFL dari universitasnya.

Dugaannya pun keliru. Pada November 2020, Vena diterima sebagai salah satu dari 160 awardee XLFL Batch 9. Vena terpilih dari 35.864 orang meskipun dirinya pesimis akan kalah dengan pendaftar lainnya yang berasal dari PTN ternama.

“Aku nggak nyangka banget bisa keterima XLFL, secara pengalamanku waktu itu belum banyak. Tapi ya, aku bangga ke diri sendiri karena akhirnya berani untuk mencoba hal baru.”

Baca juga: Rasional Menghadapi Life Quarter Crisis

Lingkungan Baru, Tantangan Baru

Menjadi bagian dari XLFL adalah tantangan bagi Vena. Ia mengakui teman-teman barunya termasuk tipikal yang ambisius dan high achiever, sungguh berbanding terbalik dengan lingkungan Vena sebelumnya.

“Habis keterima XLFL, aku culture shock sih. Mayoritas temen-temenku di sana tuh yang sering ikutan lomba, bikin komunitas, ikut pertukaran pelajar berkali-kali, dan bahkan ada yang udah jadi management trainee di perusahaan FMCG. Semalas-malasnya mereka, masih punya achievement gitu. Dari sinilah aku terpacu sama lingkunganku yang baru.”

Vena kembali meneruskan misinya. Sejak awal 2021, ia mendaftar magang dan program pertukaran pelajar di banyak tempat. 

Namun, usahanya tidak selalu berjalan mulus. 

Nyari kerja kan emang susah ya. Aku sering ngelamar, dan sering ditolak juga. Karena itu aku introspeksi dari CV, ngeliat kurangnya dimana. Terus coba daftar lagi.

Vena melalui masa-masa sulit layaknya mahasiswa pada umumnya. Baik itu ditolak magang berkali-kali, beradaptasi di lingkungan baru, problematika skripsi, hingga mengalami fear of missing out (FOMO) terhadap teman-temannya.

Ada kalanya ia kecewa, jenuh, dan membutuhkan waktu sejenak dari hiruk pikuk ambisi dan mimpi. 

Meskipun begitu, semangatnya tidak pernah padam. Vena memiliki cita-cita untuk berkecimpung di industri media. Di masa paling sulitnya pun, impian Vena menjadi secercah harapan yang memotivasinya untuk terus berjuang.

Dan benar saja, jerih payahnya tidak sia-sia. 

Agustus 2021, Vena berhasil magang di Narasi sebagai video editor. Pada bulan yang sama, Vena lolos seleksi pertukaran pelajar ke Filipina. Dari Maret 2022 hingga sekarang, Vena resmi menjadi karyawan kontrak di Kumparan. 

Proses Vena memang tidak instan, tapi di sinilah ia belajar untuk mengembangkan diri selangkah demi selangkah menuju mimpinya.

Baca juga: Bersaing dengan Ribuan Kandidat, Bagaimana Agar Saya Diterima Kerja?

Vena dan Sikap Can-Do Attitude-nya

kerja di kumparan

“Belajar dari pengalaman, aku rasa kita semua harus berani mencoba. Gimana kita bisa berkembang kalau cuma minder dan nggak berusaha?” 

Vena adalah pribadi yang berprinsip dan penuh tekad. Kelemahan yang ia miliki dilihatnya sebagai celah untuk belajar. 

Contoh menariknya, Vena bercerita bahwa ia pernah diundang sebagai pemateri pada acara edukasi public speaking. Namun, Vena mendapat informasi mendadak bahwa sepanjang acara tersebut akan menggunakan bahasa Inggris. 

“Aku sampe shock banget mau nangis, mana aku bakal bicara di depan anak-anak sekolah internasional kan. Tapi aku coba dengan bahasa Inggrisku yang ala kadarnya… dan ternyata berjalan baik! Meskipun aku dapet feedback penyampaianku kurang, yaudah aku jadiin pelajaran aja. Itu salah satu pengalaman yang sangat berharga sih bagi aku,” ujar Vena. 

Vena berpesan pada semua pelajar di luar sana tentang meraih cita-cita. 

Intinya, jangan pernah takut bermimpi dan keluar dari zona nyaman. Kalau kamu berani untuk mencoba hal baru, jangan punya mindset pesimis kamu bakal gagal. 

Paling nggak kan kalau kamu udah nyoba, kamu jadi tau kapasitasmu sampai mana. Pokoknya bagaimana kamu bisa keluar dari zona nyaman dan buat zona barumu itu jadi zona nyamanmu lagi.

Nah, Leaders sudah paham kan rahasianya Vena sekarang?

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Wanita dan Kepemimpinan

Anggie adalah Content Editor di Leaderonomics. 

Mungkin Anda Juga Menyukai

Beradaptasi dengan era digital melalui penerapan organisasi yang agile

3 Cara Membangun Organisasi yang Agile

Merubah organisasi menjadi fleksibel terhadap perubahan membutuhkan pola pikir yang lengkap. Di era informasi yang berada tepat di ujung jari kita, pelanggan mengharapkan lebih banyak dari bisnis dan perusahaan harus beradaptasi untuk berkembang.

Dec 23, 2021 5 Min Read

jalan buntu

Apa Yang Harus Dilakukan Jika Menemui Jalan Buntu

Oleh Di hujung video ini Adon mengungkapkan apa yang harus dilakukan jika diperhadapkan dengan jalan buntu, selamat menikmati.

Jan 08, 2021 1 Min Video

Jadi Seorang Pembaca Leader's Digest