Redefinisi Kepemimpinan: Perempuan di Ruang Dewan

Netflix
Perempuan yang berada di posisi kepemimpinan sering dianggap “terlalu dominan” atau “terlalu berusaha,” sementara rekan laki-lakinya dipuji sebagai “go-getters.” Terasa familiar? Ini adalah standar ganda yang sudah lama terjadi. Namun alih-alih mengecilkan dirinya, banyak perempuan memilih untuk memanfaatkan kekuatan mereka, mengambil keputusan dengan yakin, serta membangun gaya kepemimpinan yang autentik. Menjadi boss lady berarti memimpin dengan percaya diri, bukan dengan ketakutan.
Kalau kamu pernah menonton Running Point, serial baru di Netflix yang dibintangi Kate Hudson, kemungkinan besar kamu ikut tertawa, mengernyit, dan menyemangati perjalanan karakternya. Saya pun begitu.
Like, the audacity?
Sikap berani karakternya menggambarkan tantangan nyata yang sering dihadapi perempuan saat memasuki posisi kepemimpinan. Ingat adegan ketika karakter Kate Hudson masuk ke ruang rapat dengan banyak ide, lalu seorang rekan laki-laki mengulangi ide yang sama beberapa menit kemudian, dan tiba-tiba seluruh ruangan memuji seolah itu ide baru? Ya, itu klasik sekali.
Setiap perempuan di posisi kepemimpinan pasti pernah mengalami momen “Apakah saya tiba-tiba tidak terlihat?”. Namun alih-alih menyerah, tokoh utama dalam cerita, seperti banyak perempuan di dunia nyata, belajar untuk bersuara, mempertahankan ruangnya, dan memastikan keberadaannya tidak bisa diabaikan.
“Perempuan dalam kepemimpinan sering harus berjalan di tengah batas antara tegas tetapi tidak ‘bossy,’ percaya diri tetapi tidak ‘berlebihan,’ kuat tetapi tetap ‘disukai.’”
Lanskap Kepemimpinan Perempuan Saat Ini
Meskipun ada kemajuan, keterwakilan perempuan dalam posisi senior secara global masih tertinggal. Pada 2024, perempuan memegang 33,5% posisi manajemen senior di seluruh dunia, naik sedikit dari 32,4% pada 2023. Dengan tren ini, kesetaraan gender di posisi manajemen senior mungkin baru tercapai pada 2053.
Di Amerika Serikat, jumlah perempuan dalam posisi kepemimpinan menunjukkan tren positif yang lambat. Meski ada peningkatan direktur non-kulit putih, perwakilan perempuan di dewan direksi S&P 500 masih stagnan dan memiliki kesenjangan signifikan.
Di Indonesia, perempuan mencakup sekitar 49,77% populasi pada 2023. Namun partisipasi perempuan dalam angkatan kerja baru mencapai sekitar 39,33%. Data spesifik tentang representasi perempuan di posisi senior masih terbatas, menunjukkan perlunya riset lebih komprehensif untuk memahami dan menutup kesenjangan ini.
Baca Juga: 3 Cara Pemimpin Membangun Budaya Keberagaman & Inklusi

Running Point, Netflix
Running Point juga dengan cerdas menyoroti bagaimana perempuan pemimpin sering dinilai dari penampilan, bukan dari kompetensi. Ada adegan ketika saudara laki-lakinya mengomentari rambut, bukannya kemampuan bisnisnya. Bayangkan kalau hal serupa terjadi pada CEO laki-laki. Tidak ada yang menghentikan presentasi strateginya hanya untuk membahas gaya rambutnya.
“Secara historis, perempuan pemimpin sering dilabeli ‘bossy’ ketika menunjukkan ketegasan yang sama yang membuat laki-laki dianggap sebagai ‘strong leaders.’ Namun narasi ini mulai berubah. Kepemimpinan yang efektif kini menekankan kecerdasan emosional, kolaborasi, dan adaptabilitas, yang merupakan kekuatan banyak perempuan.”
Di tempat kerja, bias semacam ini masih ada. Perempuan kerap dinilai dari pakaian, gaya rambut, bahkan ekspresi wajah, sementara rekan laki-laki dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan. Ini melelahkan dan usang. Namun perempuan pemimpin yang berhasil tidak membiarkan hal ini mendefinisikan mereka. Mereka menguasai ruangan, bukan karena penampilan, tetapi karena kemampuan dan kontribusi mereka.
Kekuatan yang Dibawa Perempuan dalam Kepemimpinan
1. Empati dan Kecerdasan Emosional
Perempuan sering unggul dalam memahami dinamika tim, menyelesaikan konflik, dan membangun lingkungan kerja yang suportif. Banyak studi menunjukkan bahwa kepemimpinan yang mengedepankan kecerdasan emosional meningkatkan employee engagement dan produktivitas.
2. Ketahanan dan Adaptabilitas
Dari menghadapi hambatan karier hingga mengelola tantangan pribadi, perempuan berulang kali menunjukkan ketahanan. Dalam banyak industri yang didominasi laki-laki, mereka harus membuktikan diri berkali-kali, memperlihatkan kemampuan beradaptasi dan bertahan di bawah tekanan.
3. Komunikasi Strategis
Perempuan pemimpin mengomunikasikan pesan dengan jelas dan persuasif. Mereka mampu menyeimbangkan ketegasan dengan pendekatan yang hangat, sehingga suara mereka tetap terdengar dalam rapat strategis dan proses pengambilan keputusan.
4. Pengambilan Keputusan yang Inklusif
Riset menunjukkan bahwa kepemimpinan yang beragam menghasilkan solusi lebih inovatif. Perempuan sering mengedepankan kolaborasi dan perspektif yang beragam untuk mencapai hasil bisnis yang lebih baik.
5. Mentoring dan Kolaborasi
Banyak perempuan pemimpin percaya bahwa kesuksesan perlu dibagi. Mereka aktif membimbing generasi perempuan berikutnya untuk memastikan talenta muda mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk berkembang.
Tantangan dan Dukungan dalam Dunia Kerja Modern
Salah satu aspek menarik dari Running Point adalah gambaran seimbang tentang dinamika gender di tempat kerja. Laki-laki tidak digambarkan sebagai antagonis, tetapi sebagai spektrum karakter. Ada yang skeptis, ada yang menjadi sekutu. Ini mencerminkan perubahan nyata di dunia korporasi. Fokus kini bukan lagi pada peran berdasarkan gender, tetapi pada keterampilan, visi, dan hasil.
Contohnya, beberapa perusahaan mulai menerapkan program mentoring yang memasangkan calon pemimpin perempuan dengan eksekutif senior dari berbagai gender. Hasilnya, kolaborasi meningkat dan inovasi berkembang lebih cepat. Prinsip utamanya jelas: memberdayakan satu kelompok tidak mengurangi kelompok lainnya, tetapi justru memperkaya budaya organisasi.
Baca Juga: Dinamika Tim Zootopia 2: Cara Partner Membuat Kita Lebih Baik
Inisiatif Global yang Mendukung Kepemimpinan Perempuan
1. Tampa Bay Buccaneers – She is Football Weekend
Pada Maret 2025, Tampa Bay Buccaneers menyelenggarakan She is Football Weekend di Raymond James Stadium. Acara ini bertujuan memperluas kesempatan bagi perempuan di NFL, dengan menghadirkan sesi mentoring, pembicara inspiratif, dan pelatihan karier. NFL menargetkan pengembangan 50.000 pemimpin perempuan setiap tahun.
2. Estée Lauder – Emerging Leaders Fund dan VV Visionaries
Estée Lauder berkolaborasi dengan Vital Voices untuk menghadirkan program yang mendukung perempuan pemimpin. Sejak dimulai, program ini telah membina 400 perempuan dari 60 negara. Pada 2024, mereka meluncurkan Emerging Leaders Beautiful Forces Grants untuk mengapresiasi perempuan yang membawa dampak positif besar di komunitas mereka.
3. Family Friendly Workplaces
Inisiatif ini, yang digagas UNICEF Australia dan Parents At Work, membantu perusahaan menerapkan kebijakan ramah keluarga. Program ini mendorong fleksibilitas kerja, membuka ruang diskusi tentang kebutuhan keluarga, dan membekali manajer dengan tools yang tepat. Perusahaan besar seperti Commonwealth Bank, Deloitte, dan QBE telah mengadopsinya untuk meningkatkan retensi talenta dan menciptakan budaya kerja lebih inklusif.
Menata Ulang Makna “Run Point”
Seperti karakter Kate Hudson, pemimpin perempuan hari ini mendefinisikan ulang apa artinya memegang kendali. Mereka menghadapi tantangan dengan humor, ketegasan, dan ketangguhan yang luar biasa. Jika film tersebut mengajarkan kita sesuatu, itu adalah bahwa kepemimpinan bukan soal mengikuti standar lama, tetapi menciptakan standar baru.
Inilah para perempuan yang memimpin perubahan, menavigasi kekacauan, dan melakukannya dengan gaya, kecerdasan, dan percaya diri. Pada akhirnya, kesuksesan terlihat baik pada siapa pun, tanpa memandang seperti apa sepatu yang mereka kenakan.
Kepemimpinan
Tags: Jadilah Seorang Pemimpin, Kepemimpinan Tanpa Batas, Wanita dan Kepemimpinan, Pertumbuhan, Sifat Positif
Patricia memiliki lebih dari 25 tahun pengalaman dalam memimpin di sektor B2B dan B2C. Beliau ahli dalam mendorong kesuksesan bisnis, pertumbuhan, dan ekspansi pasar, serta mengelola berbagai departemen dan tim lintas fungsi untuk menjalankan strategi-strategi berdampak tinggi.
Selama kariernya, Patricia telah berperan dalam berbagai inisiatif yang mendukung pertumbuhan dan skalabilitas bisnis, dengan fokus pada dampak jangka panjang. Meskipun seorang introvert, kekuatan terbesar beliau adalah dalam memimpin, melatih, dan mengembangkan orang, dengan rekam jejak yang solid di bidang strategi bisnis dan pengembangan sumber daya manusia.
Patricia sangat antusias untuk menciptakan dampak melalui kolaborasi dan inovasi, serta selalu mengutamakan kepemimpinan yang berfokus pada manusia dan pendekatan analitis.






