Pelajaran Kepemimpinan Dari Martin Luther King Jr.

Oleh Roshan Thiran|08-11-2021 | 3 Min Read
Hidup kita mulai berakhir ketika kita menjadi diam tentang hal-hal yang penting.

– Martin Luther King Jr.


Pada tahun 1935, seorang anak laki-laki berusia 6 tahun dari Atlanta, Amerika Serikat, diberitau oleh dua teman sekolahnya bahwa mereka tidak dapat bermain dengannya lagi. Ibunya menjelaskan kepadanya bahwa ini karena saat ini mereka bersekolah di sekolah terpisah.

Ini adalah pengalaman pertama Martin Luther King Jr dalam kehidupannya sebagai warga tingkat dua, seseorang yang dipandang kurang dari manusia hanya berdasarkan warna kulit mereka.

Ini sangat mempengaruhi anak muda yang akan nantinya terus memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian atas usahanya dalam memimpin Gerakan Hak-Hak Sipil.

Dr. Martin Luther King (1929-1968) adalah tokoh penting dalam melawan hak sipil untuk mengakhiri hukum pemisahan orang Amerika berkulit hitam yang mengalami ketidakadilan dan penindasan secara terus menerus.

Baca juga! Pelajaran Kepemimpinan dari Star Trek

Pada Mulanya,

Sumber: Julia Volk dari Pexels.com

Dia lahir sebagai Michael Luther King Jr, dan dikenal sebagai Mike kecil sebelum ayahnya mengganti namanya menjadi Martin.

Meninggalkan sekolah di usia 15 tahun, King mencapai gelar sarjananya di Universitas Morehouse - institusi yang sama dengan ayah dan kakeknya.

Mengikuti studi teologinya di Crozer Theological Seminary di Pennysylvania, dia diberikan penghargaan berupa Sarjana Ketuhanan. Dalam kelas seniornya, dia terpilih sebagai ketua dalam kelompok yang didominasi kulit putih.

Pemimpin yang enggan 

Pada tahun 1955, dia mencapai gelar doktornya dalam bidang Teologi dari Universitas Boston. Disanalah dia bertemu dengan istri masa depannya, Coretta Scott, dimana dia mempunyai 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.

Dia secara terus menerus membaca dan belajar, dan pidatonya banyak diisi dengan referensi dari pemimpin dan filosofis yang hebat dari masa lalu. Sifat penting dari pemimpin yang baik adalah mereka belajar secara terus menerus, membaca dengan rakus dan menyerap isinya dimanapun mereka berada.

Pada tahun yang sama, seorang wanita bernama Rosa Parks ditangkap di Montgomery karena menolak untuk memberikan kursinya di bus kepada penumpang berkulit putih.

Pada malam tanggal 5 Desember, setelah seharian memboikot layanan bus, Asosiasi Pengembangan Montgomery dibentuk di ruang bawah tanah dari Gereja Holt Street Baptist (Gereja Dr King).

Ketika tidak terlihat seorang pun yang ingin mengajukan dirinya, dia terpilih sebagai ketua pada pukul 6 sore. Meskipun Dr King tidak mempunyai niat untuk memimpin gerakan ini, pada pukul 7 malam, ketua baru yang terpilih diharuskan untuk memberikan pidato.

Dr King lari kerumah untuk memberitau istrinya dan mempunyai sekitar 20 menit untuk mempersiapkan pidatonya. Biasanya, dia akan memerlukan waktu sekitar 15 jam untuk mempersiapkan sebuah khotbah tetapi setelah panik selama beberapa menit, dia mencatat beberapa baris dan kembali ke gereja dimana ribuan orang telah berkumpul.

Dia memberikan pidato inspiratif dari hatinya yang memulai gerakan dimana tidak hanya membantunya untuk menyadari panggilannya, tetapi juga menginspirasi jutaan orang untuk mengikutinya.

Setia pada visi Anda
Berkali-kali dalam hidup, seperti Dr King, kepemimpinan dipaksakan kepada kita. Bagaimana kita menangkap momen itu (bahkan jika kita tidak yakin, sama seperti dia) dan memanfaatkan itu, akan menentukan pemimpin seperti apa kita itu.


Pada tahun 1956, saat gerakan sudah mulai terbentuk, Dr King menerima ancaman maut, dan rumahnya di bom pada akhir bulan Januari saat dia berbicara di sebuah rapat. Meskipun tidak seorang pun yang terluka, pendeta karismatik itu kemudian harus memohon kepada banyak orang untuk tidak melakukan kekerasan saat mereka menyerukan pembalasan.

Dia pernah mengamati bahwa, “Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan: hanya terang yang bisa melakukannya. Kebencian tidak bisa mengusir rasa benci: hanya cinta yang bisa melakukannya.” Kepercayaan inilah yang menjadi bahan bakar dari perjalanan spiritual dan kesadaran sosialnya, bersama dengan inspirator dari para juru kampanye untuk kedamaian seperti Mohandas Gandhi dan Thich Nhat Hanh.

Dr King tau bahwa terlepas dari banyaknya seruan untuk melawan dan membela diri ketika kekerasan dilakukan kepada Anda, dia tetap pada pendiriannya - setia pada seruannya untuk protes dan gerakan tanpa kekerasan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita setia pada visi kita? Apakah kita menghemat dan berkompromi dengan prinsip untuk mencapai tujuan kita? Atau apakah kita, seperti Dr King, tetap setia pada seruannya?

Menempuh jalan panjang dan berliku

Mengetahui bahwa perseteruan untuk hak sipil dan kesetaraan akan menjadi jalan yang panjang dan berliku, yang berkepanjangan bahkan setelah waktunya sendiri, Dr King bertekad bahwa tindakan harus selalu diambil dimana tindakan itu diperlukan.

Waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu tidak penting - hanya jika itu tercapai. Seperti yang pernah dia katakan, “Jika Anda tidak bisa terbang maka larilah, jika Anda tidak bisa lari maka jalanlah, jika Anda tidak bisa jalan maka merangkaklah, tetapi apapun yang Anda lakukan, Anda harus tetap maju kedepan.”

Seringkali, kita merasa akan menyerah. Tujuan kita terlihat sangat mustahil, sangat jauh. Saya mempunyai banyak peristiwa dimana saya ingin untuk menyerah pada mimpi di Leaderonomics. Tetapi, seperti Dr King, kita perlu untuk mempunyai fokus dan kesabaran jangka panjang.

Hal-hal besar datang kepada mereka yang menunggu, untuk mereka yang tetap menjalankan tugas dan tau bahwa bahkan jika dia gagal untuk mencapai misi itu, orang lain akan melakukan pekerjaan itu sampai selesai suatu hari nanti.
Peran kita adalah untuk tetap sabar dan terus maju kedepan.

Mungkin Anda juga suka! Apakah Rumput Pagar Sebelah Selalu Lebih Hijau?

Kekuatan kata yang diucapkan

Pada 28 Agustus, 1963, Pawai di Washington untuk Pekerjaan dan Kebebasan dihadiri oleh lebih dari 200.000 orang di Lincoln Memorial. 

Pada hari inilah pidato terkenal ‘I Have A Dream’ yang disampaikan oleh Dr King yang memasukkan beberapa harapan yang dia punya bagi kemanusiaan yaitu :”Saya mempunyai mimpi bahwa empat anak kecil saya akan suatu hari nanti tinggal di negara dimana mereka tidak akan dihakimi berdasarkan warna kulit mereka tetapi berdasarkan isi dari karakteristik mereka.”

Pidato ini mengguncang bangsa dan mulai mengayunkan bandul untuk gerakan-gerakan.

Banyak kali, sebagai pemimpin, kita tidak menyadari kekuatan dari kata-kata yang kita gunakan. Kata-kata mempunyai efek yang kuat pada orang-orang. Kata-kata yang kita pilih dan kata-kata yang kita ucapkan, dapat menginspirasi atau dapat menurunkan.

Kata-kata dapat memberkati atau mengutuk. Kata-kata mempunyai efek gaib pada motivasi seseorang dan menyemangati Anda dan pekerjaan Anda. Sebagai pemimpin, kita perlu untuk menyadari bahwa kata-kata dapat menentukan kesuksesan atau kegagalan kita.

Pada Desember 1964, Martin Luther King diberi Hadiah Nobel Perdamaian di sebuah upacara di Oslo, Norwegia. Dia mengumumkan bahwa 54.000 USD akan diberikan sepenuhnya untuk membantu dalam perjuangan hak sipil.

Pada akhirnya,

Pada pidato umumnya yang terakhir, disampaikan di Memphis pada 3 April 1968, Dr King memberikan seruan yang menginspirasi untuk aksi damai kepada mereka yang hadir.

”Dalam pidato kenabian ‘I’ve Been to the Mountaintop’, dia berkata: “Seperti pria manapun, saya ingin untuk hidup yang panjang. Umur panjang memiliki tempatnya sendiri. Tetapi saya tidak khawatir tentang itu saat ini. Saya hanya ingin untuk melakukan kehendak Tuhan. Dan Dia memberikan saya kesempatan untuk naik keatas gunung. Dan melihat sekitar. Dan saya sudah melihat tanah yang dijanjikan. Saya mungkin tidak akan sampai disana bersama Anda. Tetapi saya ingin Anda tau malam ini, bahwa kita, sebagai manusia akan bisa untuk pergi ke tanah yang dijanjikan.

Hari berikutnya, Martin Luther King ditembak dan dibunuh ketika dia berdiri di balkon hotelnya di Memphis. Dia dikuburkan di Atlanta - kembali ke tempat yang dia sebut sebagai rumah dan dimana perjuangannya dimulai.

Dr King selalu berbicara, bahkan ketika itu tidak nyaman dan bahkan jika itu artinya kematian. Dia selalu berpegang pada prinsipnya, tidak pernah berkompromi. Dia selalu meletakkan misinya dibandingkan agenda pribadinya sendiri.

Dr King adalah seorang pemimpin yang menunjukkan pentingnya untuk hidup dengan keberanian, berpegang teguh pada prinsip Anda, dan tetap berjuang untuk mencapai visi Anda bahkan jika kemungkinan yang sangat berat akan melawan Anda.

Gairah dan ketekunan adalah kekuatan yang kuat untuk melawan tantangan apapun, tidak peduli ukuran dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengatasinya.

Untuk keturunannya, kurang dari setahun setelah pembunuhannya, Shirley Chisholm menjadi wanita berkulit hitam pertama  yang menjabat sebagai anggota dari Kongres. Amerika melihat presiden berkulit hitam pertama dipilih di White House pada tahun 2008, dan orang Amerika berkulit hitam sekarang menikmati kebebasan dan haknya dengan lebih baik.

Tetapi jika ada satu hal yang ditunjukkan oleh kehidupan dan zaman Dr King kepada kita, adalah kita tidak boleh untuk berpuas diri. Kita perlu untuk tetap berjuang, percaya, dan terus maju dengan keyakinan dan impian kita.
 
Hanya ketika kita melakukan itu, kita bisa meninggalkan warisan sekuat Dr. Martin Luther King Jr.

Share artikel ini

Kepemimpinan

Tags: Jadilah Seorang Pemimpin

Roshan adalah pendiri dan CEO dari Leaderonomics Group, kepala redaksi untuk Leaderonomics.com dan seorang yang menamakan dirinya sendiri dengan sebutan 'kuli'. Ia percaya bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin dan dapat membuat lekukan di alam semesta dengan cara mereka masing-masing.
Leaderonomics Logo

Wow, Anda telah scroll hingga ke bawah! Anda pasti sangat menyukai kami.

Karena Anda sudah disini, kami ingin meminta Anda untuk mempertimbangkan memberikan donasi untuk pemeliharaan situs kami, yang ternyata cukup tinggi.

Banyak yang tidak memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan penuh mereka. Itulah sebabnya konten kami akan selalu gratis, dan kami akan selamanya berterima kasih kepada mereka yang membantu mewujudkan ini.

Earn your one-way ticket to heaven.

© 2023 Leaderonomics Sdn. Bhd. All rights reserved.

Disclaimer: The opinions expressed on this website are those of the writers or the people they quoted and not necessarily those of Leaderonomics.